Bab 5: Diasingkan di Rumah Sendiri
Udara pagi itu terasa dingin dan lembab, sisa hujan deras semalam yang menyisakan genangan air di halaman beraspal. Namun, atmosfer di dalam rumah jauh lebih membekukan.
Kehebohan pecah sebelum matahari benar-benar naik tinggi. Di halaman depan, Leon berdiri dengan wajah pucat di samping mobil sport merah kesayangannya yang baru ia bawa pulang kemarin. Lambung mobil itu penyok panjang, catnya terkelupas kasar, dan kaca spion sebelah kanannya patah hingga menggantung menyedihkan pada untaian kabel.
Richard berdiri di sana, memijat keningnya dengan nafas memburu. Kemarahannya yang sempat mereda setelah insiden video viral tempo hari kini kembali tersulut, siap meledak bagai sekam kering yang disiram bensin.
"Bagaimana ini bisa terjadi?!" bentak Richard, matanya menatap tajam ke arah barisan pelayan baru yang menunduk ketakutan. "Kalian tidak ada yang mendengar suara keributan di halaman semalam?!"
"Saya tidak tahu, Om," sahut Leon dengan nada suara yang bergetar pasrah—tipe kepura-puraan yang sangat halus. "Semalam mobil ini baik-baik saja saat saya parkir. Saya sungguh tidak menyangka ada yang tega melakukan ini..."
Saat itulah Kevin melangkah maju dengan langkah lambat dari arah pintu samping. Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel yang terhubung dengan sistem CCTV halaman depan.
"Papa, Leon... kurasa aku tahu siapa yang melakukannya," kata Kevin dengan suara pelan, menunjukkan kepolosan anak remaja yang tampak ragu-ragu. Ia menyodorkan layar ponselnya ke depan Richard. "Aku meminta satpam memeriksa rekaman CCTV semalam. Dan... aku tidak sengaja melihat ini."
Di layar ponsel itu, sebuah rekaman hitam-putih beresolusi tinggi menunjukkan sesosok tubuh ramping keluar dari pintu samping rumah pada pukul dua dini hari. Sosok itu mengenakan jaket hoodie berlogo klub karate sekolah Celine, lengkap dengan helm putih bergaris merah—helm yang sangat dikenali semua orang sebagai milik Celine. Sang pelaku tampak mengambil sebuah tongkat kayu besar dari sudut taman, lalu menghantamkannya berkali-kali ke bodi mobil Leon sebelum melarikan diri.
"Celine!" Richard berteriak, suaranya menggelegar memantul di dinding-dinding beton halaman. "Kemari kamu!"
Celine yang baru saja turun ke halaman berdiri membeku di anak tangga teras. "Ada apa lagi, Pa?"
"Ada apa lagi kamu bilang?!" Richard melemparkan ponsel Kevin ke telapak tangan Celine. "Lihat ini! Penjelasan apa yang mau kamu berikan sekarang?!"
Celine menatap rekaman di ponsel Kevin, lalu beralih menatap wajah Kevin. Anak laki-laki itu tidak menatapnya; ia menunduk, namun Celine bisa melihat kedutan kecil di sudut bibir Kevin—sebuah senyum kemenangan yang sangat tipis.
"Itu bukan aku, Pa," bela Celine, suaranya terdengar parau namun tegas. "Semalam aku di kamar dan mengunci pintu. Siapapun bisa mengambil jaket dan helmku dari loker luar untuk membuat fitnah ini!"
"Cukup, Celine! CCTV tidak pernah berbohong!" Richard membentak kasar, menolak mendengar penjelasan apa pun. "Kamu pikir Papa bodoh?! Kamu sengaja merusak mobil Leon karena kamu iri dia mulai membantu Papa di kantor, kan?!"
Leon melangkah maju, memegang bahu Richard dengan ekspresi yang sangat bijaksana. "Sudahlah, Om. Jangan marahi Celine... Aku ikhlaskan mobil ini. Mungkin Celine hanya sedang kesal karena masalah di sekolah kemarin. Saya bisa membawanya ke bengkel hari ini."
Sikap Leon yang begitu "terlihat suci" justru membuat Richard semakin murka pada putrinya. "Tidak, Leon! Dia harus tahu tata krama! Celine, minta maaf kepada Leon sekarang juga!"
Celine mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tidak akan pernah meminta maaf untuk dosa yang tidak pernah kulakukan!"