ANTI PARASIT

Ahmad Barnash
Chapter #6

Titik Nadir

Tanggal lima belas Oktober selalu menjadi hari yang paling istimewa bagi Celine. Dahulu, ruang tengah rumah ini akan dipenuhi aroma kue cokelat panggang buatan Mama, dihiasi tawa renyah Richard yang memeluknya erat sembari membisikkan doa-doa terbaik.

Namun malam ini, kehangatan itu menguap tanpa bekas, digantikan oleh kesunyian yang membekukan hingga ke sumsum tulang.

Di kamarnya yang temaram, Celine duduk memeluk lutut di atas lantai yang dingin. Tak ada ucapan selamat. Tak ada pesan masuk dari ayahnya. Richard sedang menghadiri jamuan bisnis penting bersama Miranda. Di era kepemimpinan Miranda yang baru, jadwal Richard sepenuhnya disetir, membuatnya begitu sibuk hingga melupakan hari kelahiran putri kandungnya sendiri. Sementara itu, Bianca sibuk di kamarnya merekam konten media sosial, dan Leon belum pulang dari kantor. Mereka memperlakukan Celine seolah-olah ia adalah hantu yang tak kasat mata—entitas tak diinginkan yang kebetulan menumpang di sudut rumah.

Celine menghela napas panjang, menatap sepotong roti manis murah dengan sebatang lilin kecil di atasnya yang ia beli sendiri dengan sisa uang receh sepulang sekolah. Korek api dinyalakan. Nyala api kecil itu bergoyang lembut, memantulkan bayangan wajah pucat Celine di kaca jendela yang basah oleh sisa gerimis.

Baru saja ia memejamkan mata untuk merapalkan doa di dalam hati, pintu kamarnya berderit terbuka tanpa ketukan.

Kevin berdiri di ambang pintu. Remaja laki-laki itu tidak mengenakan topeng kepatuhannya yang biasa. Tatapannya dingin, menusuk, dan penuh dengan kepuasan sadis yang tersembunyi. Ia melangkah masuk dengan santai, mendekati meja belajar Celine.

"Wah, merayakan ulang tahun sendirian, Kak?" tanya Kevin dengan nada mengejek yang halus.

Celine mendongak, matanya menatap tajam. "Mau apa kamu ke sini, Kevin? Keluar dari kamarku."

Tanpa memedulikan gertakan Celine, Kevin membungkuk sedikit ke arah roti manis itu, lalu...

Ffff.

Ia meniup lilin kecil di atas roti hingga padam. Asap tipis berbau belerang menguar di udara yang dingin. Kamar kembali temaram.

"Selamat ulang tahun yang ke-17, Kak Celine," bisik Kevin dengan suara datar yang mengerikan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring. "Semoga betah jadi hantu di rumah sendiri."

Celine mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja, giginya menggemertak. "Jangan berani-berani kamu—"

"Ah, jangan marah dulu. Aku cuma ingin membantu meniupnya," potong Kevin seraya terkekeh pelan dan melangkah mundur ke arah pintu. "Oh, iya. Di bawah ada pesta kecil di taman belakang. Mama membuatkan makan malam spesial untuk merayakan keberhasilan proyek baru Mas Leon. Sayang sekali... sepertinya piring buat Kak Celine lupa disiapkan lagi."

"Pergi dari kamarku!" bentak Celine.

"Oke, oke. Nikmati malammu ya, Kak," ujar Kevin santai.

Tepat saat Kevin melangkah keluar dan menutup pintu, jari anak itu menekan sakelar utama koridor. Cklek. Seluruh aliran listrik di kamar Celine tiba-tiba padam, melemparkan ruangan itu ke dalam kegelapan total.

Lihat selengkapnya