Suara desau angin malam beradu dengan rintik hujan yang belum juga reda di luar dinding mushola kecil dekat terminal itu. Aroma karpet lembab, minyak nyong-nyong yang samar, dan bau solar dari bus-bus yang terparkir merayap masuk. Di sudut ruangan yang temaram, diterangi lampu neon putih yang berkedip-kedip tidak stabil, Celine meringkuk di atas lantai ubin yang dingin.
Dunia terasa begitu asing. Beberapa jam lalu, ia masih memiliki kamar tidur yang hangat, meskipun tempat itu terasa seperti sel penjara. Sekarang, ia tidak memiliki apa-apa selain sebuah koper kecil, pakaian basah yang melekat di tubuhnya, dan buku harian bersampul hitam yang didekapnya erat-erat di atas dada.
Pipi kirinya masih terasa kebas. Ketika ia menyentuhnya dengan ujung jari yang gemetar, rasa ngilu langsung menjalar ke rahangnya.
"Mbak... Mbak tidak apa-apa?"
Sebuah suara serak memecah kesunyian. Seorang wanita tua pembersih mushola berkerudung lusuh berdiri beberapa langkah darinya, memegang cangkir seng berisi teh hangat yang berasap tipis.
Celine buru-buru menyeka sisa air matanya dan mencoba duduk tegap. "Eh... tidak apa-apa, Bu. Maaf kalau saya mengganggu."
"Pipi Mbak memar begitu," bisik wanita tua itu iba, lalu mengangsurkan cangkir seng di tangannya. "Minum dulu teh hangat ini. Udara malam di terminal ini jahat, Mbak."
Celine menerima cangkir itu dengan kedua tangan yang gemetar. "Terima kasih banyak, Bu..."
"Rumahnya jauh, Mbak? Kenapa malam-malam hujan begini sendirian di terminal?" tanya wanita tua itu pelan seraya duduk berjarak di sampingnya.
Celine menunduk, menatap pantulan bayangannya di cangkir teh. "Saya... saya baru saja diusir dari rumah, Bu. Oleh ayah saya sendiri."
Wanita tua itu mengelus dada, menghembuskan napas panjang. "Astagfirullah... Apapun masalahnya, orang tua kadang bisikan amarahnya lebih keras dari akal sehatnya. Tapi Mbak punya tempat tujuan?"
"Saya tidak tahu harus ke mana lagi," bisik Celine, tenggorokannya tercekat. "Saya merasa sudah kehilangan semuanya."
"Jangan berkata begitu, Nak," hibur wanita tua itu lembut. "Selama Mbak masih bernafas, Tuhan tidak pernah mengunci semua pintu. Istirahatlah dulu di sini."
Setelah wanita tua itu pamit ke ruang belakang, Celine meminum teh hangatnya perlahan. Gema suara ayahnya di taman tadi terus berputar di kepala Celine seperti kaset rusak.
“Kalau kamu tidak suka tinggal di sini... keluar saja dari rumah ini!”
Rasa bersalah yang selama ini ia pikul atas kematian Mamanya kini berlipat ganda dengan rasa terbuang. Celine merasa seolah-olah seluruh dunia telah bersekongkol untuk menghapusnya. Dalam kelelahan fisik dan mental yang luar biasa, mata Celine perlahan-lahan memberat, menyeret kesadarannya jatuh ke dalam kegelapan yang pekat.
Kegelapan itu tidak berlangsung lama. Perlahan, sensasi dingin ubin mushola berganti dengan kehangatan yang akrab.
Celine membuka mata. Ia berdiri di tengah taman belakang rumahnya—namun taman itu tidak lagi dipenuhi dekorasi pesta keluarga baru Richard. Taman ini dipenuhi oleh hamparan bunga kamelia putih yang tumbuh subur, persis seperti saat Mama masih hidup.