ANTI PARASIT

Ahmad Barnash
Chapter #8

Kembali dengan Topeng Baru

Sisa-sisa hujan semalam masih membekas di aspal jalanan ketika langkah kaki Celine membawa dirinya kembali ke gerbang besi rumah kolonial modern itu. Pagi itu, udara terasa sangat dingin, menusuk hingga ke tulang, tetapi dingin yang dirasakannya tidak sebanding dengan kebekuan yang kini telah mengkristal di dalam dadanya.

Celine berhenti sejenak di depan gerbang, menatap bangunan megah yang dulu ia sebut rumah, namun kini tak lebih dari sarang musuh yang penuh dengan mata-mata. Ia menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan kepedihan dan amarah yang semalam sempat menguasai dirinya di mushola kecil.

Saat ia melangkah melewati gerbang, ia tahu ia tidak lagi berjalan sebagai korban. Celine yang rapuh, Celine yang mudah tersulut emosi, dan Celine yang selalu memohon keadilan dari ayahnya telah mati bersama badai semalam. Kini, yang tersisa adalah seorang penyidik yang dingin dan kalkulatif. Ia telah memutuskan untuk mengenakan sebuah topeng baru—sebuah topeng kepatuhan mutlak.

Di dalam rumah, keheningan menyambutnya. Celine melangkah ke ruang keluarga, tempat di mana foto Mamanya telah disingkirkan ke lorong belakang. Di sana, Richard sedang duduk menyesap kopi paginya. Wajah ayahnya tampak lelah, garis-garis penyesalan dan amarah sisa pertengkaran hebat kemarin masih tercetak jelas. Di samping Richard, Miranda berdiri dengan anggun, menuangkan air hangat seolah ia adalah nyonya rumah yang paling berbakti.

Melihat kedatangan Celine dengan pakaian basah dan koper di tangannya, Richard meletakkan cangkir kopinya dengan keras ke atas meja.

"Mau apa kamu kembali ke sini, Celine?" tegur Richard dengan nada dingin yang sarat kekecewaan. "Masih belum puas membuat kekacauan di rumah ini?"

Ketegangan langsung merayapi ruangan. Namun, sebelum amarah Richard meledak lebih jauh, Celine mengambil langkah pertama. Ia tidak menangis, tidak pula memohon belas kasihan. Celine meletakkan kopernya perlahan, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan sang ayah.

"Papa... maafkan Celine," ucap Celine dengan suara yang begitu tenang, begitu datar, hingga hampir tidak terdengar emosi di dalamnya. "Celine sadar.., Celine salah."

Richard tertegun, alisnya bertaut heran. "Salah? Kemarin kamu berteriak-teriak seperti orang gila di depan keluarga baru kita!"

"Celine tahu, Pa," potong Celine pelan namun pasti, tetap menunduk patuh. "Kepergian Celine semalam sangat kekanak-kanakan dan tidak bertanggung jawab. Celine berjanji tidak akan membuat masalah lagi di rumah ini. Mulai hari ini, Celine hanya akan fokus pada sekolah dan belajar sampai lulus."

Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan di antara mereka. Richard menghembuskan napas panjang, pundaknya yang tegang perlahan rileks. Di dalam pikirannya, ia merasa bahwa tindakan kerasnya semalam akhirnya membuahkan hasil—bahwa ketegasannya telah berhasil menundukkan sikap keras kepala putrinya.

"Baguslah kalau kamu akhirnya sadar," kata Richard, suaranya melunak meski masih ada sisa jarak di sana. "Papa melakukan semua ini demi kebaikanmu sendiri. Papa hanya ingin kamu berubah menjadi anak yang bisa menghargai keluarga."

Lihat selengkapnya