Celine duduk bersila di atas tempat tidurnya, memandangi layar laptop yang menyala temaram di kegelapan kamar. Pintu kamarnya terkunci rapat, ditahan oleh sebuah kursi kayu tebal yang disandarkan kuat-kuat di bawah gagang pintu—sebuah tindakan pencegahan paranoid yang kini menjadi rutinitas wajibnya setiap malam.
Di luar, kesunyian rumah besar itu terasa mencekam, seolah setiap dinding memiliki telinga dan setiap celah pintu adalah mata yang siap mengawasi.
Sejak kepulangannya dengan topeng kepatuhan yang baru, Celine memilih untuk berpura-pura menjadi anak yang patah semangat. Namun, di balik pintu kamar yang terkunci ini, perang informasi yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia membuka buku harian hitamnya, menatap garis waktu dan nama-nama yang terukir di sana.
Ponsel Celine bergetar di atas meja, menampilkan nama Rian—rekan komunitas sosialnya yang ahli dalam penelusuran data digital. Celine segera memasang earphone dan menerima panggilan terenkripsi tersebut.
"Bagaimana, Rian? Kamu berhasil menemukan arsip lama mereka?" bisik Celine pelan, matanya tetap waspada menatap pintu kamar.
"Lebih dari yang kamu bayangkan, Cel," sahut suara Rian dari seberang telepon, terdengar begitu serius. "Kita mulai dari Leon dulu. Pria itu punya catatan kelam di perusahaan investasinya dua tahun lalu."
Celine menatap layar laptopnya saat sebuah berkas PDF masuk melalui obrolan rahasia. "Dugaan manipulasi dana klien?"
"Bukan cuma dugaan," timpal Rian cepat. "Dia didepak secara tidak hormat karena memindahkan dana nasabah ke rekening pribadi. Kasusnya ditutup karena korbannya mendadak mencabut laporan setelah kesepakatan damai. Tapi fakta terbesarnya bukan itu, Cel."
"Lalu apa?" cecar Celine, keningnya berkerut rapat.
"Leon terlilit utang judi dan investasi bodong dalam jumlah fantastis. Hampir tiga miliar rupiah kepada jaringan rentenir kelas kakap," jelas Rian. "Lehernya ada di ujung tanduk. Kalau dia tidak bisa melunasi utangnya tahun ini, dia habis."
Celine menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke dinding. "Pantas saja dia begitu terobsesi mengambil alih keuangan perusahaan Papa... Dia butuh uang Papa untuk menyelamatkan nyawanya sendiri."
"Lalu soal Bianca," lanjut Rian, memindah slide dokumen di layar Celine. "Kakak tirimu yang tampak seperti 'mahasiswi berprestasi' di media sosial itu? Semuanya palsu."
Celine membuka lampiran gambar yang dikirimkan Rian. "Surat pemecatan dari universitas?"
"Tepat. Bianca dikeluarkan secara tidak hormat karena pemalsuan dokumen akademis dan skripsi secara sistematis," sahut Rian. "Dia lalu menghapus sejarah lamanya, mengganti identitas digital, dan membangun persona baru untuk masuk ke lingkaran sosial kelas atas."