ANTI PARASIT

Ahmad Barnash
Chapter #10

Petunjuk Bi Imas

Gang sempit di pinggiran Jakarta Utara itu terasa pengap, bahkan setelah hujan reda menyisakan genangan air kecokelatan yang memantulkan langit kelabu. Celine menarik tudung jaket hitamnya lebih rendah, merapatkan masker medis yang menutupi separuh wajahnya. Dengan bantuan informasi dari teman-teman komunitas sosialnya—satu-satunya jaringan luar yang masih bisa ia percayai—ia berhasil melacak keberadaan tempat pelarian Bi Imas.

Celine berjalan dengan langkah konstan, namun matanya terus bergerak awas di balik bayang-bayang tudung jaket. Ia tahu dirinya tidak pernah benar-benar sendiri semenjak kembali ke rumah itu. Di persimpangan jalan tadi, ia sempat berputar-putar dua kali untuk memastikan tidak ada siluet mencurigakan yang membuntutinya.

Ia berbelok ke sebuah koridor sempit di antara dinding pembatas semen yang berlumut tebal. Di ujung gang, terdapat deretan pintu kontrakan kayu yang catnya sudah mengelupas. Celine berhenti di depan pintu nomor 4C. Jantungnya berdegup kencang. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan gemetar di tangannya, lalu mengetuk pintu itu tiga kali secara perlahan.

Sunyi.

Tidak ada jawaban dari dalam, namun Celine bisa mendengar sayup-sayup gesekan kaki yang terburu-buru, disusul oleh suara napas yang tertahan di balik kayu lapuk tersebut.

"Bi Imas..." bisik Celine pelan, menempelkan wajahnya ke celah pintu. "Buka pintunya, Bi. Ini Celine."

Seketika itu juga, terdengar suara gerendel besi yang ditarik dengan panik. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan sepasang mata paruh baya yang melebar penuh ketakutan. Begitu mengenali wajah Celine, Bi Imas langsung menarik lengan gadis itu dengan kuat, menyeretnya masuk ke dalam ruangan yang remang-remang, lalu membanting pintu dan mengunci gerendelnya kembali.

"Nona Celine! Ya Allah, kenapa Nona nekat datang ke sini?!" bisik Bi Imas dengan suara serak yang bergetar hebat. Wajahnya yang dulu hangat kini tampak jauh lebih kurus dan kuyu, dipenuhi gurat kecemasan yang mendalam.

"Bi Imas, aku mencari bibi ke mana-mana," jawab Celine sambil melepaskan masker dan tudung jaketnya. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi pelayan setia ibunya yang kini tinggal di ruangan sempit tanpa dipan kasur.

Tangis Bi Imas langsung pecah. Ia jatuh terduduk di lantai semen dingin, menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang kasar.

"Maafkan Bibi, Non... Maafkan Bibi. Bibi bersumpah demi Allah, Bibi tidak mencuri kalung nyonya baru itu! Bibi difitnah..." ratap wanita tua itu.

"Aku tahu, Bi. Berdirilah," Celine berlutut, menggenggam erat kedua tangan Bi Imas. "Aku tidak pernah meragukan Bibi sedikit pun. Itu jebakan mereka untuk menyingkirkan orang-orang yang melindungiku di rumah itu."

Alih-alih merasa tenang, Bi Imas justru mencengkeram balik tangan Celine dengan tenaga yang mengejutkan. Tatapannya menyiratkan kepanikan absolut.

Lihat selengkapnya