Ketegangan di dalam rumah besar itu kini tidak lagi kasat mata, melainkan mengambang di udara bagaikan kabut tipis yang dingin dan beracun. Sejak Celine kembali dengan ketenangan yang tidak biasa, atmosfer di setiap koridor terasa berbeda. Tidak ada lagi bantahan emosional, tidak ada lagi air mata kemarahan. Celine berjalan melewati mereka seolah-olah mereka hanyalah dekorasi dinding—dan sikap diam yang penuh rahasia itu justru jauh lebih meneror daripada teriakan mana pun.
Di balik pintu kamarnya yang terkunci rapat, Celine terus mengasah instingnya. Namun, ia tidak menyadari bahwa di sudut-sudut lain rumah itu, retakan-retakan kecil mulai muncul pada topeng sempurna yang selama ini dipakai oleh para parasit.
Sore itu, gema kecemasan pertama pecah di ruang keluarga.
Leon berjalan mondar-mandir di depan jendela besar yang menghadap ke taman samping, tangannya meremas ponsel dengan buku-buku jari yang memutih. Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini tampak sangat tegang.
"Ada yang tidak beres, Ma," bisik Leon setengah mendesis ketika Miranda berjalan masuk membawa cangkir teh hangat.
Miranda meletakkan cangkir tehnya di atas meja kaca dengan dentang halus. "Tenanglah, Leon. Bicara yang jelas, ada apa?"
"Beberapa artikel lama tentang kasus manipulasi dana investasi di perusahaan lamaku... tiba-tiba muncul lagi di halaman pencarian utama internet!" sergah Leon frustrasi, merendahkan suaranya saat mendengar langkah kaki pelayan di lorong jauh. "Bukan cuma itu. Utang-utangku pada pihak ketiga... beberapa relasi bisnis mulai menanyakan hal itu padaku hari ini."
Miranda menyipitkan matanya, keningnya berkerut dalam. "Kamu yakin itu bukan sekadar kebetulan?"
"Kebetulan tidak terjadi berulang kali dalam satu minggu, Ma!" bentak Leon pelan namun penuh kepanikan. "Ini terstruktur! Seseorang sedang melacak silsilah finansialku!"
Sebelum Miranda sempat menanggapi, Bianca melangkah masuk dengan wajah yang tidak kalah pucat. Gadis yang biasanya sibuk bersolek di depan kamera ponselnya itu kini menggenggam ponselnya dengan tangan gemetar.
"Ma! Ada yang aneh dengan akun media sosial lamaku!" adu Bianca dengan suara panik.
"Ada apa lagi, Bianca?" tanya Miranda, suaranya mulai terasa berat.
"Seseorang diam-diam mengambil tangkapan layar dari forum gosip kampus lama tempat aku dikeluarkan dulu!" bisik Bianca histeris. "Semua dokumen pemalsuan tugas akhir yang sudah kukubur dalam-dalam... seseorang sedang mengumpulkannya kembali! Reputasiku di depan kerabat Papa Richard bisa hancur kalau ini menyebar!"
Miranda berdiri mematung di tengah ruangan. Tatapan matanya yang semula lembut berubah menjadi sedingin es. Pikirannya bekerja cepat, menyatukan setiap keluhan anak-anaknya.
Tepat saat itu, pintu depan berderit terbuka. Kevin melangkah masuk dengan ransel sekolah yang tersampir longgar di bahunya. Berbeda dengan kedua kakaknya yang panik, ekspresi Kevin tampak datar. Namun, ada kilat kejengkelan di matanya yang gelap.
"Kevin," panggil Miranda tajam. "Bagaimana dengan anak itu?"
Kevin melemparkan tasnya ke atas sofa kulit tanpa mempedulikan tatapan cemas Leon dan Bianca, lalu duduk menyandarkan punggungnya.