Di bawah langit siang yang kelabu oleh asap kendaraan, suasana di sekitar gerbang sekolah terasa menyesakkan. Celine melangkah keluar dengan kepala tertunduk, merapatkan jaket hitamnya. Sejak kepulangannya ke rumah mewah yang kini lebih menyerupai sarang musuh, ia harus membiasakan diri mengenakan topeng baru—sebuah wajah kepatuhan yang tenang, dingin, dan tanpa riak emosi. Ia tidak lagi membantah, tidak lagi berteriak membela diri ketika disindir, dan membiarkan Miranda beserta anak-anak tirinya merasa telah menang mutlak.
Namun, ketenangan itu harus dibayar dengan kewaspadaan yang luar biasa tinggi. Setiap jengkal langkah Celine kini dibayangi oleh sepasang mata tak kasat mata.
Celine berjalan menyusuri trotoar menuju persimpangan jalan raya di dekat sekolah. Langkah kakinya konstan, tetapi telinganya menangkap setiap detail suara di sekelilingnya: deru mesin motor yang bersahutan, klakson yang memekakkan telinga, dan derit ban di atas aspal panas.
Saat lampu penyeberangan pejalan kaki menyala hijau, Celine melangkah maju bersama beberapa siswa lainnya.
Tiba-tiba, dari arah kanan, terdengar raungan mesin diesel yang dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya. Sebuah truk besar pasir melaju kencang, menerobos lampu merah dengan kecepatan tinggi.
"Awas! Mbak! Mundur!" teriak seorang penyeberang jalan di samping Celine.
Klakson truk itu berbunyi panjang dan memekakkan telinga. Dalam hitungan detik yang krusial, ketika moncong truk raksasa itu hanya berjarak beberapa meter dari tubuhnya, insting bertahan hidup Celine yang terlatih di dojo karate mengambil alih kesadarannya. Otaknya tidak sempat memproses ketakutan; tubuhnya bergerak secara refleks.
Celine melakukan lompatan vertikal ke samping, berguling di atas aspal kasar, dan menggunakan bahunya untuk meredam benturan sebelum berakhir di atas trotoar semen yang keras.
BUM!
Truk itu melesat melewatinya, menyenggol pembatas jalan hingga betonnya retak, lalu terus melaju tanpa berniat untuk berhenti. Debu jalanan dan asap hitam knalpot membubung tinggi.
"Astagfirullah! Mbak! Mbak tidak apa-apa?!" panggil seorang warga sekitar sambil berlari mendekatinya.
"A-aku... aku tidak apa-apa, Pak," sahut Celine terengah-engah, menyeka darah lecet di telapak tangan dan sikunya.
"Sopir gila itu! Hampir saja menabrak orang! Harus dilaporkan ke polisi!" seru warga lainnya murka sambil menunjuk ke arah truk yang makin menjauh.
Namun, perhatian Celine seketika teralih ke seberang persimpangan jalan.
Di antara kerumunan orang yang panik, berdiri seorang remaja laki-laki mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya. Kevin. Pria muda itu berdiri tegak di balik halte bus, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Di wajahnya yang biasanya tampak lugu, kini terukir seulas senyum tipis yang sangat dingin.
Darah Celine mendidih. "Kevin!" desis Celine dari balik giginya yang merapat.
Tanpa membuang waktu, Celine bangkit dan berlari menembus lalu lintas yang masih kacau. "Hei! Jangan lari kamu!" teriak Celine menyeberangi jalan.
Namun, Kevin sangat cerdik. Begitu melihat Celine bergerak ke arahnya, ia langsung berbalik dan menyelinap ke dalam gang sempit yang padat di belakang halte. Saat Celine tiba di halte bus, gang itu sudah kosong. Kevin telah menghilang tanpa jejak di tengah labirin pemukiman warga.