ANTI PARASIT

Ahmad Barnash
Chapter #14

Surat Wasiat

Perpustakaan pribadi mendiang ibunya adalah satu-satunya ruangan di rumah kolonial ini yang masih menyisakan aroma masa lalu. Di sini, bau kertas tua yang menguning bercampur dengan sisa-sisa wangi lavender—parfum kesayangan Mama—yang masih menempel samar pada tirai beludru tebal. Namun, malam ini, kehangatan itu menguap seutuhnya, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang dan kecurigaan yang mencekam.

Celine berdiri di balik bayangan rak buku jati yang menjulang tinggi, mematikan senter ponselnya setiap kali mendengar derit lantai kayu dari lorong luar. Detak jantungnya berdegup kencang. Ia tahu risiko yang dihadapinya. Jika Kevin atau Miranda menemukannya di sini pada pukul dua dini hari, topeng kepatuhan yang ia bangun dengan susah payah selama berminggu-minggu akan hancur berantakan.

Dengan tangan bergetar, Celine meraba saku jaketnya, memastikan keberadaan secarik kertas lusuh yang ia temukan terselip di sampul belakang buku doa biru milik ibunya. Pesan tulisan tangan Mama di kertas itu terus terngiang di kepalanya seperti mantra pelindung:

"Kalau kamu membaca ini, berarti Mama gagal melindungimu. Percayalah, rumah ini bukan milik siapa pun selain darah daging Mama."

Petunjuk itu menuntunnya ke perpustakaan ini. Celine memejamkan mata sejenak, mencoba memanggil kembali memori masa kecilnya. Ia ingat sering melihat Mama berdiri lama di depan panel kayu berukir motif daun ivy di dekat perapian padam.

Perlahan, Celine mendekati panel tersebut. Tangannya meraba detail ukiran kayu kasar itu, menekan setiap lekukan dengan sabar.

Klik.

Suara logam bergeser terdengar sangat pelan di tengah kesunyian malam. Sebuah rongga rahasia terbuka di balik panel kayu, menyingkapkan sebuah brankas besi kecil berwarna kelabu yang sudah berdebu. Dada Celine bergemuruh hebat. Ini dia brankas rahasia peninggalan ibunya.

Namun, kegembiraannya langsung surut saat melihat sistem pengunci brankas tersebut. Itu adalah kunci kombinasi putar mekanis dengan empat pasang angka.

Celine mencoba kombinasi pertama: tanggal lahir ibunya. Ia memutar piringan ke kanan dan ke kiri. Nihil. Brankas tetap terkunci rapat. Ia mencoba kombinasi kedua: tanggal lahirnya sendiri. Sekali lagi, jarum besi itu tidak bergeming.

Tiba-tiba, bisikan suara dan derap langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah tangga luar. Seseorang sedang berjalan turun menuju perpustakaan.

Kepanikan hebat mencengkeram Celine. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Apa yang paling berharga bagi Mama? Apa angka yang akan selalu ia ingat untuk mengunci rahasia terbesarnya?

"Pernikahan..." bisik Celine pada dirinya sendiri dengan napas tertahan. "Tanggal pernikahan Mama dan Papa."

Celine memutar piringan besi itu dengan cepat namun presisi, memasukkan angka tanggal pernikahan kedua orang tuanya: 12 - 08 - 08.

Klak!

Lihat selengkapnya