ANTI PARASIT

Ahmad Barnash
Chapter #15

Mengubah Sasaran

Malam itu, keheningan di dalam rumah besar peninggalan Mama terasa lebih menekan dari biasanya. Di balik dinding-dinding kokoh bergaya kolonial, badai tak kasat mata tengah bersiap untuk menerjang.

Di ruang keluarga lantai bawah, setelah Richard dipastikan tertidur lelap akibat pengaruh obat penenang di teh malamnya, sebuah pertemuan darurat digelar tanpa suara. Lampu gantung kristal dipadamkan, menyisakan temaram lampu sudut yang melemparkan bayang-bayangan panjang dan distorsi ke dinding.

Miranda duduk di sofa beludru merah dengan punggung tegak. Di sekelilingnya, ketiga anaknya berdiri menanti dengan kecemasan yang tertahan.

"Anak itu... dia sudah menemukan surat wasiatnya," ucap Miranda pelan, hampir berupa bisikan, namun getaran kemarahan yang pekat di dalam suaranya membuat ruangan itu mendadak terasa dingin.

Leon melebarkan matanya, napasnya tertahan. "Bagaimana mungkin, Ma?! Di mana dia menemukannya? Kita sudah mengacak-acak seluruh rumah selama berbulan-bulan!"

"Itu tidak penting lagi sekarang, Leon!" potong Miranda tajam, matanya berkilat menatap putra sulungnya. "Yang jelas, dokumen itu kini ada di tangan Celine. Dan kamu tahu apa artinya itu bagi kita? Seluruh rencana kita selama bertahun-tahun... semua utang miliaranmu pada rentenir itu... semuanya akan berujung di penjara jika surat itu sampai ke tangan pengacara!"

Leon mengepalkan tangannya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya saat bayang-bayang kejaran penagih utang kembali membayangi pikirannya.

"Kita harus mencuri dokumen itu dari kamarnya malam ini juga, Ma!" usul Leon panik, suaranya naik satu oktav. "Kita mendobrak kamarnya, geledah tasnya, ambil secara paksa!"

"Jangan bodoh, Mas Leon!" sahut Bianca dengan dengusan sinis. "Celine tidak sejelata itu untuk menyimpan dokumen sepenting itu di bawah bantal. Kalau kita merampasnya secara kasar, dia akan berteriak dan melapor pada Papa!"

"Lalu kita harus diam saja menunggu polisi datang?!" bentak Leon pelan.

"Dengarkan aku dulu!" potong Bianca tak kalah sengit. "Bagaimana kalau kita jebak dia dengan kasus kriminal saja? Kita taruh narkoba atau barang terlarang di tas sekolahnya. Buat dia ditangkap polisi, dikeluarkan dari sekolah, dan dibenci Papa selamanya!"

Miranda menggeleng perlahan, menyilangkan tangannya di dada. "Waktu kita sudah habis, Bianca. Richard mulai menunjukkan tanda-tanda keraguan. Dia mulai mempertimbangkan ucapan-ucapan Celine belakangan ini. Jika kita tidak bertindak cepat, seluruh benteng yang kita bangun akan runtuh."

Lihat selengkapnya