Pagi itu, langit di atas Jakarta tampak seperti kanvas abu-abu yang kotor. Mendung menggantung rendah, tebal dan mengancam, tetapi hujan tidak kunjung tumpah. Di dalam kamarnya, Celine berdiri di depan cermin, merapikan kerah seragam sekolahnya dengan tangan yang entah mengapa terus bergetar ringan.
Sejak membuka mata di fajar hari, sebuah perasaan tidak nyaman—seperti seutas benang tak kasat mata yang menjerat dadanya—membuatnya sulit bernapas bebas. Ia teringat kembali pada tidurnya yang tidak tenang semalam, dipenuhi mimpi-mimpi buruk yang samar, serta kecurigaan liar yang terus berputar-putar di kepalanya.
Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
Celine melangkah turun ke lantai bawah. Rumah besar bergaya kolonial itu sunyi, namun kesunyiannya terasa pekat dan menekan. Di meja makan, ia melihat Richard sedang merapikan tas kerjanya sembari menyeruput kopi hitamnya yang masih mengepul.
"Papa," panggil Celine lirih dari ambang pintu ruang makan.
Richard mendongak. Sorot matanya yang beberapa bulan terakhir selalu dipenuhi dingin dan amarah kini tampak sedikit melunak, meski masih ada sisa-sisa jarak yang tebal di antara mereka.
"Kamu sudah mau berangkat, Celine?" tanya Richard datar. "Sepertinya Masih hujan hari ini?"
"Iya tapi sudah agak reda, Pa," jawab Celine pelan, melangkah mendekat. Matanya melirik ke arah gantungan kunci di meja, lalu kembali menatap ayahnya. "Papa... mau ke kantor menggunakan mobil yang mana?"
"Papa pakai mobil yang biasa," jawab Richard sambil memakai jas abu-abunya. "Papa ada rapat penting jam sembilan pagi ini. Kenapa memangnya?"
Celine terdiam sejenak. Lidahnya mendadak kelu, namun firasat buruk semalam berteriak keras di dalam dadanya.
"Papa... boleh tidak kalau hari ini Papa naik tidak masuk kantor dulu, libur dulu?" bisik Celine cemas.
Richard mengernyitkan dahi. "Kenapa? Papa tidak bisa tiba-tiba ga masuk kerja begitu ?"
"Perasaanku tidak enak sejak semalam, Pa," jawab Celine jujur, menatap lurus mata ayahnya. "Jalanan juga Masih licin sisa hujan. Tolong, Pa... sekali ini saja dengarkan Celine."
Richard menghela napas panjang. Wajahnya menunjukkan sedikit kekesalan, namun ada kebingungan samar melihat raut ketakutan yang nyata di wajah putrinya.
"Memangnya kamu mimpi apa semalam Celine? Kamu cuma cemas berlebihan. Tidak ada masalah," sahut Richard seraya meraih kunci mobilnya dari meja. "Kamu jangan terlalu paranoid. Papa sudah biasa menyetir sendiri."
"Tapi Pa—"
"Papa sudah terlambat," potong Richard tegas, menepuk pelan bahu Celine sebelum berjalan melewatinya. "Belajar yang benar di sekolah. Jangan pikirkan yang tidak-tidak."
Celine berdiri mematung di ruang tengah, menatap punggung ayahnya yang menghilang di balik pintu garasi. Beberapa saat kemudian, deru gahar mesin mobil sport milik Richard terdengar menjauh, meninggalkan pekarangan rumah.
Celine mengembuskan napas berat, mencoba menekan gelombang kecemasan yang kian menghimpit ulu hatinya.