Bau menyengat cairan antiseptik dan bunyi ritmis monitor jantung menjadi dua hal pertama yang menyambut kesadaran Richard. Kelopak matanya terasa seberat timah, bergetar beberapa kali sebelum akhirnya terbuka perlahan. Cahaya lampu pendar di langit-langit ruang pemulihan terasa menusuk pupil matanya, memaksa Richard kembali memejamkan mata sembari mengerang pelan. Rasa sakit yang tajam seketika menjalar dari tulang rusuk hingga ke kaki kirinya yang terbungkus gips tebal.
Ingatannya melayang kembali pada detik-detik mengerikan di jalan layang beberapa jam yang lalu: kemudi mobil sport kesayangannya yang tiba-tiba terasa liar, kepanikan yang melanda saat pedal rem yang diinjaknya ambles tanpa memberikan tekanan sedikit pun, hingga hantaman beton pembatas jalan yang memutus kesadarannya.
Richard mengembuskan napas lemah, membiarkan dadanya naik-turun dengan susah payah. Di dalam kesunyian ruang perawatan, ia mendengar derit halus pintu yang terbuka. Richard mengira itu adalah Miranda—wanita yang sejak ia siuman tidak pernah melepaskan genggaman tangannya sembari menangis histeris.
Namun, sosok yang masuk bukanlah Miranda, melainkan seorang pria berseragam cokelat.
"Selamat sore, Pak Richard. Mohon maaf mengganggu waktu istirahat Anda," sapa polisi itu dengan nada rendah yang profesional seraya mendekati tempat tidur.
Richard mencoba mendongak lemah. "Selamat sore, Pak... Bagaimana... hasil pemeriksaan kecelakaan saya?" suaranya serak dan nyaris berbisik.
Penyidik kepolisian itu menarik napas pendek, merapikan buku catatannya dengan ekspresi serius.
"Tim mekanik forensik kami telah selesai memeriksa bangkai kendaraan Anda, Pak Richard," ujar polisi itu lugas. "Ada temuan yang sangat tidak biasa pada sistem pengereman mobil Anda."
Darah Richard seolah membeku. "Temuan tidak biasa... maksud Anda?"
"Baut konektor selang minyak rem pada roda depan sengaja dilonggarkan secara manual," terang polisi itu tanpa keraguan. "Kerusakannya terlalu bersih untuk disebut sebagai akibat dari benturan kecelakaan. Ada indikasi kuat sabotase, Pak."
"Sabotase...?" desis Richard, matanya melebar tak percaya.
"Benar, Pak Richard. Seseorang dengan sengaja menginginkan sistem rem mobil Anda blong saat Anda berkendara dalam kecepatan tinggi," tegas polisi itu. "Apakah Anda merasa memiliki musuh bisnis, atau sempat melihat seseorang yang mencurigakan di sekitar kendaraan Anda sebelum berangkat?"
Richard terdiam paku. Tenggorokannya mendadak terasa kering kelontang. Pikirannya melompati ruang dan waktu, mendarat pada ingatan beberapa bulan terakhir yang selama ini sengaja ia abaikan.
"Rem mobilnya aneh, Pa..." "Jangan percaya mereka, Pa... Mereka bukan keluarga yang Papa kira." "Papa lebih memilih percaya pada air mata Miranda daripada darah daging Papa sendiri!"