ANTI PARASIT

Ahmad Barnash
Chapter #18

Bukti Pertama & Air Mata

Bau antiseptik yang pekat beradu dengan dengung konstan dari monitor jantung di ruang perawatan Richard yang temaram. Hanya ada cahaya pucat dari layar alat medis yang memantul di dinding, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari sunyi seiring detak jantung Richard yang lemah namun stabil. Di atas ranjang rumah sakit, Richard terbaring diam dengan tubuh yang dipenuhi perban dan selang infus.

Celine berdiri tepat di sisi ranjang, mendekap sebuah map cokelat dengan sangat erat di dadanya.

"Papa..." panggil Celine pelan, memecah kesunyian malam.

Richard perlahan menolehkan kepalanya yang masih terasa berat. Matanya yang kuyu dan kemerahan menatap putrinya dengan tatapan yang sangat berbeda dari biasanya—tanpa kemarahan, tanpa penghakiman sepihak.

"Kau... berkata kau punya bukti, Celine?" suara Richard terdengar serak, hampir menyerupai bisikan kering di antara helaan napasnya yang berat. "Bukti apa yang kamu maksud?"

Celine tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Dengan gerakan pelan dan hati-hati, ia membuka map cokelat tersebut. Ia menarik keluar beberapa lembar kertas legal bersertifikat notaris, lalu menunjukkan dokumen tersebut di hadapan ayahnya.

"Ini salinan resmi surat wasiat asli Mama, Pa," kata Celine, suaranya bergetar namun terdengar sangat tegas.

Richard mengerutkan keningnya, mencoba mengamati lembaran kertas itu. "Surat... wasiat?"

"Iya, Pa. Rumah yang kita tinggali... rumah yang selama ini Miranda dan anak-anaknya coba kuasai dengan menyingkirkanku... sebenarnya bukan milik Papa," tegas Celine. "Dan bukan juga milik bersama."

"Maksudmu... bagaimana?" bisik Richard dengan napas tertahan, matanya mulai menyusuri baris demi baris kalimat hukum di kertas itu.

"Bacalah, Pa," panggil Celine lembut seraya memegangkan dokumen itu agar ayahnya bisa membaca dengan jelas.

Mata Richard bergerak perlahan menyusuri setiap klausul hukum yang tertulis di atas kertas putih tersebut. Detak jantungnya yang terekam pada monitor medis seketika berbunyi lebih cepat, bip... bip... bip...

Setiap kalimat di dalam dokumen tersebut tertulis dengan sangat gamblang: seluruh aset pribadi, termasuk tanah dan bangunan rumah bergaya kolonial modern peninggalan keluarga ibunya, diwariskan secara mutlak dan tunggal kepada Celine. Richard hanya diberikan hak tinggal dan hak mengelola secara terbatas sampai Celine mencapai usia dewasa, tanpa hak untuk menjual, memindahtangankan, atau menjadikannya jaminan utang dalam bentuk apa pun.

"Ini... ini tidak mungkin..." Richard berbisik dengan raut terperanjat. "Mamamu... dia membuat dokumen ini tanpa memberi tahu Papa?"

Lihat selengkapnya