Bau karbol dan suara detak monoton elektrokardiogram di ruang perawatan Richard terasa begitu menjemukan. Di dalam ruangan temaram itu, keheningan yang tercipta terasa mencekik. Richard bersandar pada tumpukan bantal dengan perban yang masih melilit dahi dan lengan kirinya yang disangga penyangga khusus. Matanya yang sayu menatap kosong, sementara Celine duduk diam di kursi besi di samping ranjang.
Pintu kayu ruang rawat tiba-tiba terketuk pelan.
Celine berdiri, melangkah menuju pintu dan membukanya. Di ambang pintu, berdiri sosok paruh baya yang tampak begitu rapuh. Bi Imas berdiri di sana dengan tubuh gemetar, mengenakan kerudung lusuh yang ditarik rendah.
"Masuklah, Bi," bisik Celine lembut, membimbing tangan gemetar Bi Imas ke dalam ruangan. "Tidak ada orang lain di sini."
Mengarahkan pandangan ke arah pintu, Richard tersentak kaget. Wajah pelayan setia yang pernah ia usir kasar dengan tuduhan pencurian kini berdiri di depan matanya.
"Bi... Imas?" suara Richard terdengar serak dan parau. "Kenapa kamu... ada di sini?"
Bi Imas tidak sanggup menahan diri lagi. Begitu melihat majikannya terbaring lemah dipenuhi perban, lututnya seketika lemas. Wanita tua itu jatuh terduduk di lantai, bersimpuh di dekat kaki ranjang Richard sambil menangis tersedu-sedu.
"Pak Richard... Maafkan Imas, Pak! Maafkan Imas!" ratap Bi Imas dengan suara bergetar hebat. "Imas berdosa... Imas sudah mengkhianati kepercayaan almarhumah Ibu dan Bapak!"
Richard mengerutkan dahi, dahinya berkerut kebingungan. "Apa maksudmu, Bi? Bangunlah, jangan bersimpuh begitu."
Celine membantu Bi Imas berdiri, mendudukkannya di kursi kayu dekat ranjang. "Katakan semuanya pada Papa, Bi. Semua hal yang selama ini Bibi simpan karena ancaman Miranda."
Bi Imas menyeka air matanya dengan ujung kerudung. "Bapak ingat... beberapa bulan sebelum almarhumah Ibu meninggal dunia?"
"Iya, tentu Papa ingat," sela Richard, menatap Bi Imas lekat-lekat. "Kondisi fisik ibumu tiba-tiba memburuk drastis saat itu."
"Saat itulah Nyonya Miranda mulai sering datang ke rumah, Pak," ujar Bi Imas dengan napas memburu. "Waktu itu... anak saya sedang kritis di rumah sakit, butuh ratusan juta untuk biaya operasi. Nyonya Miranda tiba-tiba datang menawarkan bantuan dana penuh."
"Miranda memberi uang padamu?" tanya Richard keheranan. "Untuk apa?"
"Sebagai gantinya... beliau meminta saya memasukkan kapsul suplemen khusus ke dalam teh hangat Ibu setiap pagi dan sore, Pak," aku Bi Imas dengan tangis terpecah. "Beliau bilang itu vitamin dari luar negeri untuk stamina Ibu, dan melarang saya memberi tahu Bapak atau Non Celine agar tidak khawatir."
Darah Richard seolah berhenti mengalir. "Vitamin...?"