Celine kembali menemui papanya dan menceritakan apa yang baru saja dihadapinya, tanpa banyak bicara lagi Celine langsung mengutarakan niatnya untuk segera mengambil dan memberikan dokumen itu ke pengacara.
"Jangan, Celine... Papa mohon, jangan pergi."
Suara Richard terdengar sangat parau, bergetar di balik masker oksigen yang sempat ia geser sedikit dari wajahnya. Tangan pria paruh baya itu—yang kini dipasangi berbagai selang infus dan kabel monitor medis—berusaha keras menggapai jemari putrinya. Matanya yang dulu selalu memancarkan otoritas dingin kini hanya menyisakan ketakutan yang murni dan penyesalan yang mendalam.
Celine menggenggam erat tangan ayahnya. Kehangatan yang dulu sempat hilang kini terasa kembali, mengalir di antara sisa-sisa dinding es yang baru saja runtuh di ruang rawat ICU itu. Namun, kepalanya tetap menggeleng pelan. Tatapan matanya lurus, dingin, dan sarat akan determinasi yang tidak bisa digoyahkan oleh apapun.
"Kita tidak punya pilihan lain, Pa," bisik Celine dengan nada rendah yang menenangkan namun tegas. "Pengacara keluarga kita dan polisi membutuhkan dokumen aslinya. Surat wasiat asli dari Mama, akta kepemilikan rumah yang sah, dan flashdisk berisi rekaman suara terakhir Mama sebelum organ tubuhnya rusak akibat suplemen beracun itu. Tanpa bukti-bukti fisik yang asli, semua pengakuan Bi Imas dan kecurigaan polisi atas sabotase rem mobil Papa hanya akan dianggap sebagai tuduhan tak berdasar di mata hukum."
"Tapi rumah itu... rumah itu sudah dikuasai mereka, Celine. Miranda... dia tidak akan tinggal diam dia akan melakukan apa pun untuk menghentikan kita." Air mata Richard menetes, membasahi bantal rumah sakit yang putih bersih. "Papa baru saja mendapatkanmu kembali... Papa tidak mau kehilanganmu lagi."
"Aku tidak akan membiarkan mereka menang, Pa," jawab Celine, menyentuh lembut punggung tangan ayahnya sebelum melepaskannya perlahan. "Aku berjanji akan sangat cepat. Aku hanya akan masuk, mengambil dokumen asli yang aku sembunyikan di tempat rahasia perpustakaan, lalu segera pergi ke kantor pengacara. Mereka tidak akan tahu aku datang."
Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, Celine tahu bahwa ia sedang membohongi ayahnya—dan dirinya sendiri.
Malam itu, langit Jakarta tampak seperti kanvas hitam pekat tanpa bintang, digelayuti awan mendung tebal yang menyembunyikan cahaya bulan. Angin malam berhembus kencang, menerbangkan dedaunan kering di sepanjang jalan aspal yang sunyi ketika taksi yang ditumpangi Celine berhenti beberapa puluh meter dari gerbang rumah kolonial modern miliknya.
Celine turun dari taksi tanpa menimbulkan suara. Ia mengenakan jaket hoodie hitam longgar dan celana kargo gelap, pakaian yang memungkinkannya bergerak bebas. Di saku jaketnya, ia menggenggam ponselnya erat-erat, sementara jemari tangan kanannya menyentuh tongkat besi lipat taktis yang ia selipkan di pinggangnya.
Ia berdiri di balik bayangan pohon palem besar, menatap lurus ke arah rumah yang dulunya merupakan istana penuh kehangatan bersama Mamanya, namun kini telah berubah menjadi sebuah penjara yang mengancam nyawa.
Suasana rumah itu sangat sepi. Terlalu sepi.
Tidak ada satu pun lampu taman yang menyala. Kompleks kolonial yang biasanya dijaga oleh beberapa satpam pilihan Miranda kini tampak lowong, seolah-olah seluruh kehidupan di dalam area tersebut sengaja ditarik keluar. Hanya ada siluet megah tiang-tiang beton putih yang menjulang tinggi dalam kegelapan, tampak seperti deretan nisan raksasa di bawah temaram langit malam.
Celine melangkah perlahan menuju pintu gerbang besi tinggi yang membatasi pekarangan luar. Jantungnya mulai berdegup lebih kencang, memukul-mukul dinding dadanya dengan ritme yang memekakkan telinga. Ia bersiap untuk memanjat atau merayap masuk melalui celah kecil di samping pos satpam.