ANTI PARASIT

Ahmad Barnash
Chapter #22

Terjebak Map Kosong

Ditengah keheningan perpustakaan pribadi mendiang ibunya. Celine menarik napas panjang, menenangkan debaran jantungnya yang bertalu keras saat panel kayu rahasia di balik rak buku bergeser. Di dalam rongga tersembunyi itu, sebuah brankas baja kuno menatapnya dingin. Tangannya yang sedikit bergetar memasukkan kombinasi angka yang telah ia hafal di luar kepala—tanggal pernikahan orang tuanya.

Satu klik terakhir, dan pintu brankas terbuka lambat.

Di dalam sana, sebuah map kulit berwarna cokelat tua tergeletak. Celine segera meraih map tersebut, mendekapnya erat ke dada seolah-olah benda itu adalah penentu hembusan nafas terakhirnya.

Namun, sebelum Celine sempat berbalik, sebuah suara keras menghantam keheningan malam.

Brak!

Pintu kayu mahoni perpustakaan yang kokoh tiba-tiba menutup rapat dengan sentakan kasar. Detik berikutnya, terdengar bunyi kunci kuningan diputar dua kali dari arah luar.

"Siapa?!" teriak Celine  otot-otot tubuhnya menegang, pasang kuda-kuda rendah disiapkan di tengah kegelapan ruangan.

"Mencari benda itu, Celine?"

Suara dingin itu tidak datang dari balik pintu utama, melainkan dari sudut perpustakaan yang gelap, tertutup oleh bayangan lemari buku besar. Sesosok tubuh melangkah keluar ke bawah temaram lampu gantung. Miranda. Ia tidak lagi mengenakan senyuman keibuan yang biasa ia pamerkan di depan Richard. Pakaian formal serba hitam melekat di tubuhnya, dan matanya memancarkan keserakahan yang tak lagi ditutup-tutupi.

Di belakang Miranda, tiga sosok lainnya menyusul melangkah dari balik pintu rahasia lorong penghubung. Leon berdiri bersilang dada, menatap Celine dengan pandangan kalkulatif yang dingin. Bianca tersenyum sinis sambil mengikir kuku-kukunya. Dan Kevin, berdiri paling dekat dengan pintu utama, memutar-mutar sebuah kunci kuningan di jarinya.

"Kalian..." bisik Celine, sengaja membiarkan getaran pura-pura panik terdengar di suaranya. "Bagaimana kalian bisa ada di sini?"

"Kamu pikir kamu yang paling pintar di rumah ini, hah?" Bianca membuka suara lebih dulu, nadanya melengking penuh rasa puas. "Menyusup malam-malam seperti pencuri! Kamu lupa rumah ini sekarang dalam kendali siapa?"

"Celine, Sayang..." panggil Miranda dengan senyum manis beracun seraya melangkah maju dua langkah. "Serahkan map itu kepada Mama secara baik-baik. Kalau kamu kooperatif, Mama tidak akan menyakitimu."

"Mama?" Celine mendengus jijik, tatapannya menyala. "Sejak kapan seorang parasit yang meracuni nyonya rumah dengan kapsul kimia berhak memanggil dirinya 'Mama'?"

Lihat selengkapnya