Keheningan di dalam perpustakaan pribadi mendiang ibunya seketika pecah oleh suara robekan kertas yang kasar. Miranda mencengkeram map cokelat itu dengan jemari yang gemetar hebat, matanya terbelalak menatap tumpukan kertas putih kosong yang baru saja ia tarik keluar. Di tengah lembaran putih polos tanpa noda itu, hanya ada satu kalimat yang tertulis dengan spidol merah tebal:
"SALAH SASARAN."
"Kamu akan menerima akibatnya?!" jerit Miranda, suaranya melengking tinggi, tidak lagi terdengar lembut dan keibuan seperti yang biasa ia tunjukkan di depan Richard. Wajahnya yang biasa dihiasi senyum ramah kini berkedut menahan amarah yang meledak. "Kertas kosong?! Di mana surat yang asli?!"
Ia melempar map kosong itu ke lantai hingga kertas-kertasnya berserakan, lalu menatap tajam ke arah Celine yang berdiri tegap di sudut ruangan.
Celine menatap ibu tirinya tanpa rasa takut. Alih-alih merintih ketakutan, seulas senyum tipis—sebuah tatapan kemenangan yang dingin—terukir di wajahnya.
"Aku sudah bilang, Tante," bisik Celine dengan suara tenang dan tajam. "Yang kalian pegang malam ini cuma umpan. Kalian pikir aku sebodoh itu membawa dokumen asli dan flashdisk bukti racun Mama langsung ke sarang serigala tanpa persiapan?"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Celine, membuat kepalanya terhentak ke samping. Miranda bernapas memburu, dadanya kembang kempis oleh murka yang tak lagi bisa ia bendung. Seluruh topeng keanggunan dan kesabaran yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun di depan Richard runtuh seketika.
"Tutup mulutmu, anak sialan!" teriak Miranda histeris, melangkah maju dan menjambak rambut Celine, memaksa gadis itu menatap matanya yang merah menyala oleh kebencian. "Di mana kamu sembunyikan surat wasiat itu?! Katakan! Dimana dokumen asli dan flashdisk itu?!"
"Celine, jangan keras kepala!" Leon melangkah maju, wajahnya tampak panik dan penuh keringat dingin. "Kalau kamu menyerahkan surat itu sekarang, kami mungkin masih akan melepaskanmu! Jangan buat situasi ini semakin buruk!"