Lampu gantung kristal di ruang tengah bergoyang pelan, menyebarkan pendar cahaya kekuningan yang bergetar di atas lantai marmer dingin. Di luar, gemuruh guntur bersahut-sahutan dengan deru angin badai yang memukul-mukul jendela kaca tinggi rumah kolonial itu. Suasana mencekam begitu padat, seolah dinding-dinding rumah peninggalan Mama ikut menahan napas menyaksikan kebiadaban yang berlangsung di bawah atapnya.
Kevin melangkah maju dengan santai. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebilah besi penyangga perapian yang tebal dan dingin.
"Tunjukkan di mana surat itu, Kak," bisik Kevin dengan suara sangat tenang namun penuh ancaman murni. "Atau aku harus mematahkan satu per satu jarimu terlebih dahulu?"
Di sudut ruangan, Miranda berdiri tegak dengan dada kembang kempis. Topeng keibuannya telah pecah berkeping-keping, menyisakan wajah penuh guratan keserakahan dan kebencian. Di sampingnya, Leon dan Bianca mengawasi dengan napas tertahan.
Sudut bibirnya berdarah akibat tamparan keras sebelumnya. Namun, dibalik tatapan matanya yang tampak terdesak, Celine tidak sedang pasrah.
"Kamu cuma pion penurut ibumu, Kevin," bisik Celine dengan suara parau namun sarat provokasi. "Coba saja kalau berani."
"Cepat, Kevin! Jangan buang-buang waktu!" teriak Miranda histeris dari belakang. "Paksa dia bicara sekarang! Kita harus menyelesaikan ini sebelum ada yang curiga!"
"Dengar kan, Kak? Mama sudah tidak sabar," kekeh Kevin, lalu mengangkat besi di tangannya tinggi-tinggi. "Jangan salahkan aku kalau ini terasa sakit!"
Sejak awal melangkah masuk ke rumah ini, Celine tahu ia sedang memasuki sarang serigala. Ia sengaja mengulur waktu demi memancing pengakuan Miranda. Dan yang paling penting: ia adalah putri dari seorang karateka sabuk hitam.
"Kevin! Siksa anak ini sampai dia mau membuka mulut di mana dokumen itu disimpan!" teriak Miranda. "Jangan biarkan dia keluar dari rumah ini hidup-hidup!"
Kevin tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang putih dengan kilatan mata sadis. "Dengan senang hati, Ma."
Leon meremas buku-buku jarinya hingga keras, sementara Bianca mengambil sebuah vas keramik berat dari atas rak. Pintu keluar terkunci rapat, ruang perpustakaan terasa makin sempit, dan Celine kini benar-benar terkepung di tengah sarang parasit.
Namun, Celine tidak mundur setapak pun. Ia perlahan memasang kuda-kuda karate terbaiknya, mengepalkan kedua tangannya erat-erat, dan menatap tajam ke arah musuh-musuhnya.
"Kemarilah," tantang Celine dingin. "Malam ini, aku yang akan membersihkan kalian dari rumah ini."
"Mati kamu, Kak!" seru Kevin seraya mengayunkan besi penyangga perapian ke arah lutut Celine.