Napas Celine terengah-engah, memburu di kesunyian ruang keluarga yang kini kacau-balau. Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan darah segar yang terasa asin di lidahnya, sementara kedua lengannya terasa kebas akibat menahan benturan keras dari Leon dan Kevin. Namun, di bawah lampu gantung kristal yang bergoyang pelan memantulkan bayangan ruangan, Celine tetap berdiri tegak. Ia menolak untuk jatuh.
Di hadapannya, Miranda berdiri dengan napas yang tidak kalah memburu. Rambutnya yang biasa tersanggul rapi kini acak-acakan. Di tangan kanannya, sebilah pisau dapur perak berkilat dingin, memantulkan cahaya lampu. Amarah telah melucuti seluruh keanggunan wanita paruh baya itu, menyisakan sesosok monster yang haus darah.
"Kau pikir kau sangat cerdas, Celine?" desis Miranda, suaranya parau, dipenuhi kebencian yang telah membusuk selama bertahun-tahun. "Kau pikir dengan menahan pukulan anak-anakku dan menyembunyikan surat wasiat itu, kau bisa menang? Di sini tidak ada siapa-siapa. Rumah ini terisolasi. Begitu kau mati malam ini, aku akan memastikan kematianmu terlihat seperti kecelakaan tragis akibat penyusupan perampok. Richard yang sekarat di rumah sakit tidak akan punya kekuatan untuk menyelidiki apa pun."
Leon berdiri di dekat pintu perpustakaan, memegangi bahunya yang cidera akibat bantingan karate Celine, sementara Bianca masih merintih di dekat sofa. Hanya Kevin yang berdiri di sudut dengan senyum tipisnya yang mengerikan, jemarinya memainkan besi silinder dengan santai, menunggu perintah ibunya untuk memberikan pukulan terakhir.
Celine tidak gentar. Alih-alih gemetar ketakutan melihat ujung pisau yang mengarah padanya, ia justru menegakkan kepala. Perlahan, senyum tipis—senyum yang sangat dingin dan penuh kemenangan—terukir di wajahnya yang lebar.
"Kau benar, Tante Miranda," kata Celine, suaranya terdengar sangat tenang, membuat Miranda menghentikan langkahnya yang hendak mendekat. "Di sini tidak ada orang lain. Tetapi... kalian salah jika berpikir tidak ada yang melihat."
Miranda mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu? Jangan mencoba menggertakku! Aku tahu kau pulang sendirian!"
Celine perlahan mengangkat tangan kanannya yang tidak terluka terlalu parah, lalu mengarahkan jari telunjuknya ke atas—tepat ke arah sudut langit-langit ruang keluarga, di mana sebuah sensor detektor asap terpasang. Di sela-sela lubang kecil detektor itu, sebuah titik merah kecil berkedip-kedip secara konsisten.