ANTI PARASIT

Ahmad Barnash
Chapter #26

Penggerebekan

Raungan sirine polisi membelah kesunyian malam kompleks perumahan elite itu, memantul di dinding-dinding rumah megah yang berjejer kaku. Di dalam mobil patroli yang melaju paling depan, Richard duduk dengan wajah sepucat kertas. Nafasnya pendek-pendek, tertahan oleh rasa sakit luar biasa di dada akibat patah tulang rusuk pasca-kecelakaan.

Namun, siksaan fisiknya sama sekali tidak sebanding dengan siksaan batin yang meremukkan dadanya.

"Tolong lebih cepat, Pak..." pinta Richard dengan suara bergetar menahan tangis, jemarinya meremas jok mobil. "Putriku ada di dalam sana bersama mereka."

"Kami sudah melaju maksimal, Pak Richard. Mohon Bapak tetap tenang agar kondisi Bapak tidak memburuk," sahut polisi pengemudi dari kursi depan.

Di kursi belakang, Bi Imas duduk dengan tangan gemetar, terus-menerus merapal doa. "Ya Allah, lindungi Non Celine... Jangan biarkan wanita iblis itu menyentuhnya..."

"Ini salahku, Bi..." Richard berbisik parau, air mata penyesalan menetes dari pelupuk matanya. "Aku yang membawa iblis itu masuk ke rumah kita. Aku yang mengusir putri kandungku sendiri."

Setiap detik perjalanan terasa bagaikan siksaan abadi. Richard teringat bagaimana ia menuduh Celine egois, memarahinya karena video viral fitnahan Bianca, hingga tamparan keras yang ia layangkan ke pipi putrinya. Semua kebenaran yang diucapkan Celine selama ini adalah nyata, dan Richard baru menyadarinya di ambang maut.

Sementara itu, di dalam ruang keluarga rumah kolonial yang megah, situasi telah mencapai titik kritis. Raungan sirine polisi yang semakin mendekat dari luar gerbang membuat kepanikan di dalam ruangan meledak menjadi kegilaan.

"Mama! Sirine polisi! Mereka benar-benar datang!" jerit Bianca histeris, menyeka riasan wajahnya yang luntur oleh air mata. Ia menatap layar ponselnya dengan ngeri. "Ribuan orang menonton kita, Ma! Netizen merekam semuanya!"

"Diam, Bianca! Biar Mama berpikir!" bentak Miranda. Napasnya tersengal-sengal, matanya menatap nanar pisau yang tergeletak di lantai. Skenario perampokan tragisnya hancur berantakan.

Leon berlari mondar-mandir dengan wajah pias. Ia menyambar map cokelat umpan dari meja, mengocoknya dengan putus asa seolah benda itu masih bisa menyelamatkannya.

"Kertas kosong sialan!" maki Leon, melempar map itu ke dinding. "Kita harus lewat pintu belakang, Ma! Kita kabur sekarang sebelum mereka mengepung rumah!"

Namun, Kevin tidak bergerak untuk lari.

Senyum psikopat yang biasa menghiasi wajah pemuda SMA itu kini lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin yang sarat kebencian. Di sela-sela kepanikan keluarganya, ia membungkuk dan memungut kembali besi penyangga perapian yang tebal.

"Kamu mau apa, Kevin?! Ayo lari!" seru Leon panik.

"Kalau aku harus masuk penjara..." desis Kevin pelan, mengarahkan tatapan mematikannya pada Celine yang berdiri kelelahan"...kau harus ikut denganku ke neraka, Kak Celine."

"Kevin, jangan melangkah lagi!" gertak Celine, mencoba mengangkat lengannya yang gemetar untuk bersiap bertahan.

"Bunuh dia, Kevin!" teriak Miranda yang telah kehilangan seluruh akal sehatnya. Matanya melotot penuh dendam. "Lenyapkan anak sialan itu sekarang juga! Biar dia mati!"

Kevin mengayunkan besi itu tinggi-tinggi. Celine memejamkan mata, bersiap menangkis benturan.

Tepat pada detik krusial itu, hantaman dahsyat mengguncang pintu kayu jati besar di bagian depan rumah.

Lihat selengkapnya