ANTI PARASIT

Ahmad Barnash
Chapter #28

Hukuman untuk Para Parasit

Ruang pemeriksaan di kantor kepolisian sektor kota malam itu terasa begitu dingin dan steril. Cahaya lampu neon putih dari langit-langit memantul keras pada permukaan meja kayu kelabu, tempat tumpukan berkas Berita Acara Pemeriksaan (BAP) mulai disusun. Aroma kopi instan yang pekat berbaur dengan ketegangan yang menyesakkan dada.

Di sudut ruangan, Richard duduk dengan tubuh gemetar, tangannya memegangi tulang rusuk yang masih diperban akibat kecelakaan. Di sampingnya, Celine berdiri dengan wajah lebam namun memancarkan sorot mata yang teramat tenang—ketenangan dari sebuah badai yang akhirnya berhasil ia taklukkan.

Di seberang meja, di bawah pengawasan ketat dua penyidik, Bi Imas duduk bersimpuh di kursi kayu dengan bahu terguncang oleh tangis yang tak lagi mampu ia bendung.

"Tarik napas perlahan, Ibu Imas," ujar penyidik senior dengan nada datar namun tegas. "Tolong jelaskan dari awal. Bagaimana Anda bisa setuju memberikan cairan tersebut kepada korban?"

"Saya bersumpah, Pak... demi Allah, saya tidak pernah tahu kalau kapsul itu adalah racun!" isak Bi Imas dengan suara serak yang bergetar hebat. "Nyonya Miranda... dia mendatangi saya diam-diam saat anak saya sedang sekarat di rumah sakit."

"Dia menjanjikan sejumlah uang?" pancing penyidik, mengetikkan sesuatu di laptopnya.

"Benar, Pak," tangis Bi Imas makin pecah. "Anak saya butuh puluhan juta untuk operasi. Sebagai seorang pembantu, dari mana saya dapat uang sebanyak itu? Nyonya Miranda melunasi semuanya di hari yang sama, asalkan saya bersedia melakukan satu hal..."

"Dan hal itu adalah meracuni istriku?!" potong Richard dengan suara parau yang bergetar penuh amarah. "Apa kau tidak sadar telah menukar nyawa istriku demi anakmu, Imas?!"

"Pak Richard, tolong tenangkan diri Anda. Biarkan saksi menyelesaikan keterangannya," tegur penyidik dengan tenang namun tegas.

"Saya bodoh, Tuan Richard... Saya sangat bodoh!" ratap Bi Imas seraya berlutut ke arah Richard dan Celine dari kursinya. "Dia bilang itu cuma vitamin terbaik dari luar negeri untuk mempercepat pemulihan Nyonya. Saya memberikannya di air minum Nyonya setiap pagi. Tapi beberapa minggu kemudian, kondisi Nyonya malah memburuk dan meninggal dunia!"

Celine memejamkan mata sejenak, menahan napas. Terbayang kembali penderitaan ibunya yang layu dalam senyap akibat racun kiriman Miranda.

"Lalu apa yang tersangka Miranda lakukan setelah Nyonya Lydia wafat?" tanya penyidik mengembalikan fokus.

"Dia langsung mengancam saya, Pak!" isak Bi Imas, meremas jemarinya yang gemetar. "Dia bilang, kalau saya buka mulut soal 'vitamin' itu, dia akan menyuruh preman menghabisi nyawa anak saya yang baru sembuh. Lalu... dia menaruh kalung berliannya di kamar saya."

Richard membelalakkan matanya. "Kalung itu... sengaja dijebakkan padamu?"

Lihat selengkapnya