Beberapa hari telah berlalu sejak malam badai yang memporak-porandakan seluruh kepura-puraan di rumah kolonial itu. Garis polisi yang sempat menyegel halaman depan kini telah dilepas, meninggalkan kesunyian yang berbeda. Bukan lagi kesunyian mencekam yang penuh intrik dan kecurigaan, melainkan kesunyian yang tenang, bersih, dan perlahan mulai bernapas kembali.
Richard berdiri di ujung lorong lantai dua, menatap sebuah pintu kayu jati yang tertutup rapat. Tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih; ia berjalan dengan sedikit pincang akibat sisa cedera dari kecelakaan, dan sesekali jemarinya meraba rusuknya yang masih dibalut perban penopang.
Namun, rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan hantaman rasa bersalah yang terus-menerus meremas dadanya setiap kali ia memandang ke arah kamar putrinya.
Selama bertahun-tahun, kamar ini adalah wilayah yang nyaris tidak pernah ia sentuh. Sejak pemakaman istrinya, Richard sengaja membangun dinding tak kasat mata antara dirinya dan Celine. Ia mengubur dirinya dalam kemarahan dingin, melampiaskan tuduhan kejam bahwa putrinya adalah penyebab kondisi sang istri memburuk, sementara ia membuka lebar-lebar pintu rumahnya untuk kawanan parasit yang hampir merenggut segalanya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Richard mengangkat jemarinya. Tiga ketukan ragu-ragu mendarat di permukaan pintu kayu itu.
"Masuk," terdengar suara sahutan dari dalam. Suaranya tenang, bebas dari nada sinis maupun ketakutan yang biasa membentengi Celine selama beberapa bulan terakhir.
Richard memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan. "Celine... boleh Papa masuk?" tanyanya serak.
Celine yang sedang duduk di tepi ranjang mendongak dari buku pelajarannya. Tidak ada kemarahan di matanya, hanya kelelahan emosional yang menyisa di balik lebam-lebam tipis yang mulai memudar di wajahnya.
"Tentu, Pa. Masuklah," jawab Celine lembut, hendak berdiri untuk menyambut ayahnya.
"Jangan, Celine. Tetaplah duduk," sela Richard buru-buru, melangkah masuk tertatih-tatih. Ia sengaja membiarkan pintu di belakangnya tetap terbuka lebar—sebuah simbol bahwa tidak ada lagi rahasia atau dinding pemisah di antara mereka.
Aroma samar minyak kayu putih dan wewangi lavender—aroma yang sangat identik dengan mendiang istrinya—langsung menyambut indra penciuman Richard. Kamar Celine sangat sederhana, sangat kontras dengan kemewahan yang sempat ia tumpahkan kepada Bianca dan anak-anak tirinya dulu.
Langkah Richard terhenti di dekat meja belajar kayu tua. Matanya terpaku pada sebuah bingkai foto perak berukuran sedang.
Itu adalah foto almarhumah istrinya yang sedang tersenyum lembut. Foto yang sama yang sempat dibuang oleh Miranda ke lorong belakang yang berdebu, kini telah kembali bersih, dijaga dengan penuh kasih oleh putri mereka.
"Kamu... membersihkan bingkai foto ini," bisik Richard dengan suara bergetar.