Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kaca besar berbingkai jati kuno, menyinari ruang keluarga yang kini terasa hangat dan hidup kembali. Tidak ada lagi ketegangan yang mencekam, tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan yang biasanya menyelimuti setiap sudut rumah ini. Udara pagi terasa bersih, membawa aroma tanah basah dan wangi samar bunga melati dari halaman.
Di dinding utama ruang keluarga, tepat di atas perapian kuno, foto Mama berukuran besar dengan senyumnya yang sangat lembut akhirnya kembali dipasang di tempat terhormatnya. Bingkai kayu berukir emas itu seolah mengembalikan jiwa dan kehangatan yang sempat direnggut dari rumah kolonial ini selama berbulan-bulan lamanya.
Pintu depan terbuka lebar, membiarkan angin berembus bebas membawa pergi sisa-sisa kenangan buruk. Langkah kaki terdengar mendekat dari arah dapur, diiringi suara tawa ringan yang sudah sangat lama tidak terdengar di rumah itu.
Bi Imas berjalan masuk ke ruang keluarga, membawa nampan berisi teh hangat dan camilan. Hari ini, ia tidak mengenakan seragam asisten rumah tangga. Ia datang mengenakan kebaya sederhana yang rapi, melangkah dengan kepala tegak sebagai tamu kehormatan keluarga.
"Teh hangatnya, Celine, Pak Richard," sapa Bi Imas dengan senyum tulus yang memancarkan kelegaan luar biasa.
Celine, yang sedang duduk di sofa panjang bersama ayahnya, segera berdiri dan mengambil alih nampan tersebut.
"Bi, kan Celine sudah bilang," tegur Celine lembut seraya meletakkan nampan itu di meja. "Hari ini Bibi duduk saja bersama kami. Bibi adalah tamu kehormatan di rumah ini."
Bi Imas terkekeh pelan, matanya berkaca-kaca menatap Celine yang kini terlihat jauh lebih segar, meski sisa lebam tipis di sudut bibirnya masih membekas samar.
"Kebiasaan lama memang sulit dihilangkan, Non Celine," balas Bi Imas seraya duduk di kursi seberang sofa. "Tapi melihat rumah ini kembali tenang dan damai seperti dulu... rasanya beban berat di dada Bibi yang dipikul berbulan-bulan langsung runtuh seketika."
"Bagaimana kabar anak Bibi di kampung?" tanya Richard hangat, mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Alhamdulillah, Pak Richard. Operasinya sukses besar dan sekarang kondisinya sudah pulih total," lapor Bi Imas dengan binar bahagia. "Dia bahkan sudah mulai bekerja secara jujur di toko kelontong di kota sebelah untuk memulai lembaran hidup baru. Semua ini berkat bantuan finansial dari Celine dan Pak Richard. Bibi tidak tahu bagaimana harus membalas budi baik kalian berdua."
Richard tersenyum tipis, meremas lembut tangan Celine yang berada di sebelahnya.
"Jangan berkata seperti itu, Bi Imas," ucap Richard dengan nada penuh penyesalan dan syukur. "Justru kami yang berutang nyawa pada Bibi. Kalau Bibi tidak berani bersuara mengungkap kebenaran racun itu, mungkin kami tidak akan pernah selamat. Maafkan kekhilafan saya selama ini yang sempat meragukan kesetiaan Bibi dan mengusir Bibi dari rumah."
"Sudah, Pak... tidak usah diingat lagi yang gelap-gelap," jawab Bi Imas tulus, mengusap air mata haru yang menetes di pipinya. "Yang terpenting, keluarga ini sudah berkumpul dan utuh kembali."
Setelah Bi Imas pamit ke taman belakang untuk menikmati udara pagi, Richard perlahan merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah map kulit tebal berwarna cokelat tua—dokumen yang menjadi pusat dari seluruh pertumpahan darah, air mata, dan intrik kejam selama setahun terakhir.