Sejak tahun 2018, indra pengamat saya berubah. Sebagian orang mungkin akan menyebutnya indigo. Namun, bagi saya, ini bukan perihal makhluk astral. Saya lebih suka menyebutnya sebagai sebuah proses pendewasaan.
Ada banyak faktor yang membentuknya, tapi katalis yang paling saya rasakan adalah kehilangan. Kehilangan telah mengupas lapisan-lapisan ilusi yang selama ini saya sebut sebagai kenyataan. Ia mengubah cara saya mendengar sunyi, cara saya menatap warna yang pudar, dan cara saya memahami kehadiran seseorang—juga ketiadaannya.
ANTITESIS, adalah rekaman dari perjalanan indra tersebut. Secara harfiah, Antitesis adalah sebuah pertentangan yang diametral—sebuah posisi yang berlawanan dari sebuah pernyataan atau kondisi. Dalam kumpulan cerita ini, Antitesis menjadi benang merah yang mengikat setiap fragmen. Sebuah eksplorasi tentang bagaimana hidup hanya bisa dimaknai melalui kematian, bagaimana cinta sering kali dibuktikan melalui pelepasan, dan bagaimana keberadaan kita justru sering kali menjadi penghalang bagi dunia untuk bernapas. Antitesis, bagi saya, bukan sekadar perlawanan. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap keberadaan, ada kekosongan yang menunggu. Di balik setiap genggaman, ada keniscayaan untuk melepas. Dan di balik setiap kebisingan, ada titik nol yang tenang.