Antitesis

Agum PA
Chapter #4

Bloom

Tiga bulan telah berlalu sejak aku melangkah keluar dari dunia yang penuh kebisingan, rapat tanpa ujung, layar komputer yang terus menyala, dan percakapan penuh kepalsuan. Melepas hiruk pikuk urusan korporasi yang kian hari membuat jiwaku hampa. Aku sudah lelah berpura-pura peduli pada angka, standar, strategi, termasuk ambisi orang lain. Seperti terjebak di labirin hidup sendiri, yang ada hanyalah kelelahan. Aku hanya ingin berhenti. Tapi, hidup selalu punya cara menyisipkan secercah keajaiban di antara puing-puing kehancuran.

Di sudut kota Semarang, di tempat yang sama, aku memutuskan untuk membuka sebuah toko bunga. Toko ini berdiri dengan keanggunan putihnya di antara bangunan yang sebagian besar berwarna kelabu. Satu-satunya elemen yang memecah dominasi putih itu adalah tulisan BLOOM dalam warna lilac lembut yang menghiasi bagian depan toko dengan kesederhanaan. Di sisi dalam, interiornya diselimuti dengan warna senada. Dinding yang putih bersih memantulkan cahaya lembut dari lampu-lampu kecil di langit-langit yang juga putih. Lantainya bersih mengkilap tak ternoda. Meja, kursi, dan rak terhampar putih dan berdiri kokoh bagai patung-patung dalam galeri seni. Bahkan, aku memilih seragam dengan dasar warna putih, sehingga tampak seperti penjaga taman surgawi.

Di tengah harmoni putih yang menyelimuti kekosongan, toko ini tampak seperti kanvas bagi ribuan kelopak bunga. Warna-warnanya tampak hidup dan berbicara. Mawar merah tua, lili kuning cerah, anyelir merah muda, hingga anggrek ungu janda memberikan kontras yang sempurna, seperti membentuk lukisan tak kasat mata. Perpaduan antara putih dan warna-warna bunga ini tidak menimbulkan kekacauan, melainkan menciptakan kesan tenang dan mendalam yang berpadu dengan aroma segar bunga-bunga.

Beberapa famili dan kolega tentunya menunjukkan aksi protes dan keberatan tentang keputusan itu. “Mengapa tidak mencoba bisnis F&B? Ibumu kan punya usaha katering,” kata seorang sepupu, seolah-olah dapur adalah satu-satunya jalan menuju kehidupan yang layak.

Coffee shop pasti lebih menjanjikan,” ujar rekan kerja lama yang sudah akrab dengan aroma espresso. “Bayangkan, setiap pagi ratusan budak korporat Semarang datang membeli kopimu.” Ia tertawa terbahak-bahak, memperlihatkan giginya yang menguning karena kafein.

Semua orang bisa menyaksikan. Kedai kopi kini seperti cendawan yang tumbuh setelah hujan. Mereka menginvasi setiap ruko kosong di seluruh celah ibukota, bahkan di setiap sepuluh langkah di jalan yang sama. Semuanya mirip, lampu neon yang gemerlap, sofa yang empuk, dan aroma kopi yang diseduh menjadi berbagai jenis menu.

“Bunga?” Adik laki-lakiku mencoba untuk menahan gelinya. “Toko bunga juga sudah banyak, takutnya banyak yang layu.”

Mereka tidak mengerti, atau akulah yang tidak berusaha untuk menjelaskannya. Aku menghargai kekhawatiran mereka, tak satu pun kusanggah. Bukan karena aku tidak punya jawaban, melainkan karena tak ada kata yang cukup untuk memuaskan mereka.

Aku memilih bunga karena mereka hidup tanpa meminta. Mereka mekar tanpa memohon untuk diperhatikan, dan bahkan tetap meninggalkan keanggunan saat layu. Bunga tidak pernah membutuhkan pengakuan atas keberadaannya. Mawar merah tidak pernah bertanya apakah warnanya cukup cerah. Peony tidak pernah khawatir tentang kelopaknya yang terlalu rapuh. Dan aku, yang telah lelah dengan hiruk-pikuk dunia, menemukan keindahan dan kenyamanan dalam pelajaran itu.

Bunga mengajariku tentang kehidupan yang tidak terburu-buru. Mereka mekar pada musimnya masing-masing. Kelopaknya terbuka pelan, seolah-olah berbisik kepada dunia bahwa keindahan tidak perlu tergesa-gesa. Mawar tidak iri pada tulip yang menyapa awal musim semi. Anggrek tidak terburu-buru menggantikan bunga matahari yang merekah di tengah musim panas. Semua bunga, dengan kerendahan hatinya, tahu kapan waktunya untuk hadir, serta kapan waktunya untuk diam.

Tidak seperti manusia, bunga pun tidak mengenal perlombaan. Mereka tidak saling memandang untuk membandingkan warna atau bentuk. Tidak ada bunga yang memaksa dirinya mekar lebih cepat demi pujian. Mereka menunggu waktu memberikan ruang untuk pertumbuhan yang alami. Setiap warna, setiap tekstur, adalah cerita kecil tentang keberanian untuk menjadi diri sendiri di tengah dunia yang sering kali buta terhadap keajaiban kecil.

Ketika musim gugur tiba, krisan mekar dalam kesunyian, mempersembahkan warna-warna hangat di tengah dinginnya angin. Di saat bunga lain tertidur pada musim dingin, camellia bangkit dengan kelopaknya yang tebal dan berani, membuktikan bahwa keindahan tidak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali.

Bunga tidak pernah memaksakan diri untuk menjadi sesuatu yang bukan miliknya. Mereka menerima siklus hidup dengan kebijaksanaan, mekar dengan anggun dan layu tanpa penyesalan. Dan, ya, itulah sebabnya aku memilih bunga. Mereka menunjukkan padaku bagaimana caranya menjadi manusia tanpa terjebak dalam ambisi yang melelahkan. Bunga adalah antitesis dari dunia yang selalu sibuk, selalu berlari, selalu berusaha menjadi yang terbaik di mata orang lain. Bunga tidak memaksakan dirinya untuk menjadi sesuatu yang lebih besar. Bunga, seperti namaku, hanya mekar, memberi, lalu pergi.

❁ ❁ ❁

Setahun telah berlalu, hari-hariku tak banyak berubah. Aku pernah berpikir bahwa dengan membuka toko bunga akan membawa kembali suatu gairah yang hilang dalam hidupku. Namun, ternyata masih sama abu-abunya, meski dikelilingi tempias warna-warni bunga yang mekar di setiap sudut. Mereka menjadi penonton bisu dari rutinitas yang monoton. Dimulai dengan membuka tirai jendela kaca di pagi hari, membiarkan sinar matahari menyusup malu-malu ke dalam ruangan. Aroma melati yang menguap berbaur dengan embusan angin pagi. Pelanggan datang dan pergi membawa cerita yang berbeda-beda.

Pasangan-pasangan muda sering kali memasuki toko dengan langkah gugup. Mulai dari anak sekolahan hingga mereka yang sudah dewasa. Tak ubahnya, mereka sama bingungnya memilih bunga yang tepat untuk hari jadi mereka. “Mawar merah? Magnolia atau anyelir? Atau mungkin bisa digabungkan?” Tanya seorang pemuda dengan wajah kebingungan. Sementara gadis di sebelahnya hanya tersipu malu memainkan ujung rambutnya. Ada juga yang datang dengan permintaan tambahan. Mereka menyerahkan kotak cokelat kecil, kalung mungil, atau kadang hanya secarik surat cinta yang harus diselipkan di antara kelopak bunga. “Dia suka kejutan,” kata salah satu dari mereka.

Bagi mereka yang tidak memiliki cerita romansa, bunga dipilih untuk orang tua, sahabat, atau kerabat. Banyak wanita muda membeli mawar putih untuk ayah atau ibu mereka yang berulang tahun. Sering kali, karyawan-karyawan perusahaan memesan buket besar sebagai tanda keberhasilan proyeknya. Tentu saja, aku merangkai bunga-bunga itu sesuai keinginan mereka dengan senang hati sembari menyaksikan cinta dan penuh semangat tumbuh di hadapanku.

Di antara mereka semua, ada satu pelanggan setia yang menarik perhatianku. Seorang pria paruh baya. Usianya mungkin sudah menginjak enam puluhan. Rambutnya hampir memutih keseluruhan. Ia selalu datang setiap tanggal dua puluh dua dengan mata yang menyimpan kesedihan. Ia selalu memilih bunga yang sama, sepuluh tangkai lili putih dan dua belas tangkai mawar merah muda. Jika diperhatikan, perpaduan keduanya menimbulkan efek magis yang indah. Kelopak mawar yang mungil tampak menonjol di antara kemegahan kelopak lili, seperti harapan yang menyelinap di tengah kesedihan. Setiap tangkai bunga seperti saling melengkapi, menciptakan harmoni yang tak hanya indah di mata, tetapi juga menusuk jauh ke dalam hati.

Saat aku merangkai bunga-bunga itu, seperti biasa, aku tidak pernah bertanya. Aku hanya berusaha memenuhi keinginannya. Namun, pada kedatangannya yang ketiga, ia mulai berbicara.

“Dua puluh dua adalah tanggal pernikahan kami,” katanya. “Sekaligus juga tanggal kepergiannya.” Suaranya mulai rendah, tetapi ada kekuatan di dalamnya. Seperti seseorang yang telah lama belajar untuk berdamai dengan luka terdalamnya.

Aku mencoba memelankan ritme sambil bertanya-tanya apakah suara di pikiranku ini terlalu keras, sehingga ia tahu apa yang ingin sekali aku tanyakan.

“Awalnya, saya bingung karena harus merayakan kebahagiaan sekaligus duka dalam waktu yang sama,” lanjutnya. “Tapi, kini saya semakin mengerti. Saya tidak merayakan momentum itu. Saya merayakan keabadian cinta kami.”

Aku hanya terdiam, membiarkan kata-katanya menggantung di udara.

Ketika pria itu mengambil buket di tangannya, ia memandangnya sejenak. “Lili adalah kekuatan hatinya dan mawar adalah kelembutannya, sesuatu yang selalu saya rindukan.”

“Ia pasti tahu bahwa cinta Anda akan mekar selamanya.” Aku tersenyum.

Ia mengangguk pelan. Bunga-bunga di tangannya tidak lagi sekadar hadiah. Mereka adalah perwujudan dari cinta sejati yang ia genggam erat, menunggu untuk dirayakan meski dalam bisu.

Ketika ia berjalan keluar, aku memandangi pintu yang kembali menutup perlahan. Hujan akhirnya turun setelah awan mendung menahannya berjam-jam yang lalu. Rintiknya perlahan berubah menjadi deras menghantam jendela toko dan menciptakan irama samar yang entah kenapa terasa sendu. Seharusnya tidak akan ada yang datang pada cuaca seperti ini. Lagi pula, siapa yang rela basah kuyup demi setangkai bunga?

Tebakanku salah. Tepat ketika aku mencoba untuk membersihkan sisa-sisa tangkai dan daun yang berserakan, bel di atas pintu kembali berdenting. Pintu membuka, membawa serta hawa dingin dan aroma petrikor yang menyeruak masuk. Aku mendongak dengan tatapan lelah, berharap melihat seseorang yang hanya sekadar berteduh.

Seseorang melangkah masuk. Rambutnya basah dengan napas sedikit tersengal. “Bunga?” tanyanya dengan penuh heran. Ia melangkah lebih dalam. Matanya menyapu toko ini sejenak tak percaya dan tujuannya terhenti kepadaku sekali lagi. Seolah-olah ingin memastikan bahwa aku adalah seseorang yang benar-benar ia kenal.

Aku mencoba menyambutnya, tapi kata-kataku terhenti di tenggorokan. Semua terasa seperti mimpi yang datang tanpa peringatan, membawa gelombang kenangan yang selama ini kupikir sudah tenggelam. Ia datang, atau mungkin lebih tepatnya kembali. Kehadirannya seperti petir di tengah ruyupnya hujan. Kejutannya membelah langit kelabu menyelinap ke dalam toko bunga kecil ini.

Di tengah dinginnya hujan yang merambat masuk melalui celah pintu, seorang laki-laki yang sangat aku kenali, entah bagaimana, menghidupkan kembali sesuatu di dalam diriku. Seolah-olah, di antara ribuan kelopak bunga yang telah kusentuh, ialah satu-satunya yang benar-benar mampu membuatku percaya bahwa warna tidak pernah sepenuhnya hilang, bahkan di hari yang paling abu-abu. Sekali lagi, ia membawa kehangatan ke dalam toko bunga ini, atau lebih tepatnya ke hidupku.

Lihat selengkapnya