Bagi Kinanti, hidup bukanlah rangkaian peristiwa acak, melainkan sebuah persamaan yang harus dipecahkan dengan presisi mutlak. Paginya selalu ditemani dengan bau antiseptik yang tajam dan memeluknya segera setelah ia melangkah masuk ke rumah sakit terbesar di Jakarta. Gelar-gelar dari universitas ternama di Eropa adalah jaket pelindungnya. Sebuah bentuk jaminan bahwa di balik jubah operasi hijaunya tidak ada lagi ruang untuk keraguan.
Kinanti telah memilih jalur yang sempit. Jalur kesempurnaan. Hidupnya diatur oleh simetri yang ia junjung tinggi di meja bedah. Ia tinggal di apartemen yang minimalis, mengendarai mobil yang sunyi, dan hubungan-hubungan pribadinya dipertahankan pada temperatur yang netral.
Bagi Kinanti, keindahan sejati terletak pada ketiadaan cacat. Dan ia adalah arsitek terhebat dari ketiadaan cacat itu. Ia telah menangani puluhan kasus. Setiap kasus adalah meditasi yang intensif. Kasus-kasus kecil, seperti koreksi rhinoplasty yang sederhana, dianggapnya sebagai latihan jari untuk menjaga akurasi diseksi pada skala mikroskopis. Sementara untuk kasus-kasus besar, seperti rekonstruksi wajah pasca-trauma atau perubahan struktur mandibula yang rumit, membutuhkan dirinya untuk melampaui logika kedokteran dan memasuki ranah kreasi estetik.
Ia pernah menyusun kembali kontur orbita seorang pasien pria yang hancur karena kecelakaan kerja. Ia menempatkan kembali serpihan tulang yang patah agar bayangan di bawah mata tidak lagi memancarkan keputusasaan. Ia pernah mengatur ulang lapisan epidermis dan jaringan subkutan seorang wanita paruh baya, bukan untuk membuatnya muda, melainkan untuk mengembalikan garis ekspresi yang telah dicuri oleh waktu dan kekhawatiran.
Bagi Kinanti, pekerjaannya bukan untuk menyembuhkan jiwa yang tidak puas, tetapi untuk menghilangkan riak-riak fisik yang akan mengundang riak-riak sosial yang lebih besar. Ia tahu, jika jejak luar dapat dihapus, maka kekacauan luar dapat dihindari. Dan mempertahankan zona ini adalah satu-satunya cara agar bisa bertahan.
Kinanti baru saja menyelesaikan laporan pasca operasi terakhirnya saat perawatnya, yang biasanya terburu-buru, mengetuk pelan.
“Hanya satu pasien baru hari ini, Dokter Kinanti. Kasus rawat jalan, cedera lama,” bisik perawat itu sambil meletakkan map tebal berwarna burgundy di atas meja kaca Kinanti.
Kinanti meraih map itu. Ia menelusuri lembar registrasi dengan cepat dan menemukan catatan pada kolom keluhan utama. Luka bakar tingkat parah dan fraktur minor pada kontur wajah dan bagian dermis di dada. Seketika, jarinya berhenti pada kolom identitas. Awan. 29 tahun. Kapten pilot komersial.
Kinanti menutup matanya dan melandaikan tubuhnya di kursi. Ia membayangkan Awan, seorang kapten pilot muda yang sibuk mengumpulkan jam terbang untuk dilabeli sebagai senior. Sebuah status yang menuntut keahlian, kepercayaan diri, dan ketenangan yang tak tergoyahkan. Ia membayangkan bagaimana Awan, yang harus menjaga altitude ribuan penumpang dengan kendali penuh, kini menghadapi turbulensi yang tak terduga di landasan pribadinya. Ia bersiap menghadapi pria yang sama sempurna dengan dirinya.
Pintu diketuk. Awan melangkah masuk. Posturnya yang tegap terasa dipaksakan. Sebuah warisan dari pelatihan pilot yang menuntut kontrol visual mutlak. Kinanti menunjuk sofa abu-abu di hadapannya. “Silakan, Kapten Awan.”
Awan duduk. Kinanti mengamati luka bakar yang meninggalkan kontur tidak beraturan di sisi wajah dan sepanjang tulang selangka Awan. Dengan mata seorang ahli bedah, Kinanti langsung memetakan kemungkinan flap kulit, grafting, dan prosedur laser yang akan dibutuhkan. Semuanya sudah terbayang dalam simetri logis di benaknya.
“Terima kasih, Dokter Kinanti.” Suara Awan terdengar stabil, dingin, dan kaku.
Setelah perkenalan singkat yang terpusat pada profesionalitas, Kinanti segera memulai proses anamnesis untuk mendapatkan riwayat medis Awan.
“Terima kasih, Kapten Awan. Berdasarkan berkas registrasi, insiden terjadi enam bulan lalu. Bisakah Anda jelaskan mekanisme cedera dan perawatan awal yang telah Anda terima?” tanya Kinanti.
Awan merespons dengan kronologi yang terukur.
“Penerbangan GA-475, rute domestik. Enam bulan yang lalu, tanggal 14 Mei, pukul 16.30 WITA,” suaranya tenang, tanpa intonasi. “Kami mengalami kegagalan mesin ganda. Dual engine failure saat mendekati landasan. Keputusan diambil untuk melakukan pendaratan darurat di area terbuka terdekat. Pendaratan berhasil menghindari pemukiman padat, namun fuselage mengalami kontak keras dengan puing-puing yang memicu kebakaran cepat di sayap kanan.”
Kinanti berhenti mencatat sejenak, membayangkan kekacauan itu.
Awan melanjutkan. “Saya berhasil menstabilkan pesawat agar evakuasi dimulai. Prioritas adalah penumpang. Saya, bersama first officer, memastikan hanya kami yang tersisa di kokpit sebelum api menyebar ke flight deck. Pada detik-detik akhir, terjadi ledakan kecil di dekat panel navigasi yang mengakibatkan cedera serius pada area wajah dan tubuh bagian atas saya.”
Kemudian, Awan menjelaskan perawatan awal dengan detail yang klinis merujuk pada checklist rumah sakit.
“Saya dilarikan ke ICU dengan luka bakar derajat tiga di wajah, leher, dan dada, serta fraktur minor. Saya menjalani tiga kali operasi debridement dan skin preparation yang ekstensif dalam dua minggu pertama. Fokus perawatan adalah manajemen infeksi dan nyeri yang akut. Setelah keluar dari unit perawatan intensif, saya melakukan fisioterapi rutin dan perawatan luka bakar suportif selama tiga bulan. Kondisi fisik saya saat ini telah dinyatakan pulih secara fungsional, Dok.”
“Saat ini, apa yang paling mengganggu Anda, Kapten Awan? Apakah rasa sakit fisik, atau ada masalah dengan mobilitas jaringan di area luka?”
“Tidak ada kendala pergerakan otot. Tapi,” ucapnya ragu. “Saya butuh agar ini... semua ini, kembali seperti semula,” Ia menunjuk lukanya dengan gerakan yang nyaris tak terlihat.
“Tujuan utama Anda kemari adalah pemulihan visual dan fungsional dari luka bakar dan rekonstruksi minor, benarkah?” lanjut Kinanti.
Awan mengangguk. Matanya, yang seharusnya terbiasa memandang horizon luas dan papan instrumentasi yang jernih, kini terasa terkunci pada area tertentu di ruangan. Awan mengabaikan wajah Kinanti dan mengabaikan dirinya sendiri.
Kinanti beralih ke pemeriksaan fisik. “Saya perlu memeriksa luka-luka secara langsung untuk menilai kedalaman dan elastisitas jaringan, serta melihat ada tidaknya kontraktur pada area sendi,” jelas Kinanti.
Awan membuka bagian kerah kemejanya dan kancing lengan. Kinanti mengenakan sarung tangan medis. Sentuhan Kinanti sangat terukur dan profesional. Matanya mulai memindai kerusakan.
Di area wajah, ia mencatat bahwa luka bakar derajat II dan III telah sembuh, namun meninggalkan jejak yang menantang. Hamparan hiperpigmentasi yang kontras dengan kulit normal meninggalkan tekstur parut yang tidak rata, terutama di sepanjang tulang pipi Awan. Bekas luka itu mengganggu keselarasan halus kontur wajah yang seharusnya melekuk sempurna. Lebih jauh ke bawah, pada area leher dan dada, pemindaian Kinanti menjadi lebih intens. Ia memeriksa vaskularisasi di sekitar bekas luka dan memastikan adanya formasi parut keloid yang tebal. Secara struktural akan berisiko menarik jaringan di sekitarnya dan berpotensi menghambat gerakan jika tidak diintervensi.
Kinanti melepas sarung tangannya. “Secara fungsional, gerakan leher dan bahu Anda baik. Namun, secara visual dan tekstur, ada beberapa hal yang perlu kita tangani.” Kinanti merangkum temuannya dan menyajikan diagnosis dan rencana tindakan dengan bahasa yang mudah dicerna, sambil merujuk pada diagram anatomi di mejanya. “Berdasarkan pemeriksaan, Kapten Awan, fokus kita akan berada pada area luka yang dalam dan bekas-bekas yang mengeras. Saya mengusulkan sebuah timeline dengan tiga fase utama.”
Kinanti menggunakan ujung pena untuk menunjuk area leher pada diagram. “Fase pertama adalah perbaikan dasar. Kita perlu melakukan prosedur untuk mengganti kulit yang rusak dengan kulit sehat dan meregangkan jaringan di bawahnya. Ini bertujuan agar kulit Anda tidak mengeras dan menarik area sekitarnya lebih jauh.” Kinanti menutup pulpennya dengan bunyi klik yang halus. “Selanjutnya akan dimulai tindakan perbaikan bentuk di fase kedua. Tindakan ini akan fokus ke area wajah. Luka di tulang pipi Anda telah mengganggu sedikit keselarasan bentuk wajah. Kita perlu melakukan prosedur minimal, mungkin dengan menambah sedikit jaringan, untuk mengembalikan kontur alami tulang pipi Anda agar wajah terlihat lebih seimbang.”
Kinanti mengambil napas lambat dan memegang ujung diagram.
“Treatment terakhir adalah untuk kulit itu sendiri. Kita akan menggunakan teknologi khusus untuk memudarkan warna dan menghaluskan tekstur bekas luka yang tersisa. Agar kulit Anda terlihat lebih rata dan menyatu.”
Kinanti melipat tangannya di pangkuan menunggu reaksi. Awan sedikit mencondongkan tubuh. Matanya tidak lagi melihat diagram, tetapi menatap Kinanti. Perhatiannya terpusat.
“Secara keseluruhan, ini adalah proses yang membutuhkan kesabaran dan presisi,” Kinanti menjelaskan. “Total perkiraan waktu yang dibutuhkan, termasuk masa pemulihan, adalah antara delapan hingga dua belas bulan.”
Awan menatap diagram yang ditandai Kinanti, memproses informasi tersebut dengan ekspresi netral. “Saya punya pertanyaan terkait fase terakhir, Dok”.
Kinanti mengangguk. Ia siap mendengarkan. “Silakan, Kapten Awan. Fase ketiga adalah tentang hasil kosmetik akhir.”
“Tepat sekali. Di ruang kokpit, semua keputusan tergantung pada visibilitas yang sempurna. Saya tidak bisa memiliki defect yang mengalihkan pandangan orang atau pandangan saya sendiri. Saya butuh jaminan bahwa tekstur akhir dari kulit wajah ini tidak akan terasa asing. Saya butuh hasil yang, secara kasat mata, tidak meninggalkan jejak signifikan dari kecelakaan itu.” Awan menekan kata tidak meninggalkan jejak. “Bisakah kita pastikan kulit di area wajah, terutama di sekitar tulang pipi, benar-benar mulus dan setara dengan kulit asli?”
Kinanti mengambil napas. Itu bukan lagi perkara permintaan fungsional. Itu adalah permintaan untuk menghapus sejarah.
“Dalam bedah plastik, Kapten Awan, kami selalu berusaha mencapai kesempurnaan visual,” jawab Kinanti, menjaga nada tetap tenang. “Saya akan menggunakan teknik terbaru, seperti fat grafting minimal dan laser resurfacing agar parut memudar dan tekstur sehalus mungkin. Namun, saya harus jujur, kita tidak bisa menjamin seutuhnya ketiadaan jejak. Kita menjamin pemulihan terbaik yang secara teknis bisa dicapai tubuh.”
Awan menyilangkan tangannya. “Saya tidak bisa kembali ke pekerjaan saya dengan kulit yang hampir sempurna, Dokter. Di udara, hampir berarti kegagalan. Saya datang ke rumah sakit terbaik. Saya datang ke dokter terbaik. Saya membutuhkan simetri absolut di wajah saya. Bagaimana dengan kemungkinan-kemungkinan kegagalan, Dok?”
“Saya mengerti kebutuhan Anda akan presisi, Kapten Awan. Namun, kita hanya bekerja dengan tubuh manusia. Saya menjamin setiap langkah prosedur dilakukan dengan standar tertinggi untuk meminimalkan risiko masalah di kemudian hari. Dan, saya dapat meyakinkan Anda bahwa saya adalah ahli dalam mencapai hasil paling minimalis dan paling menyerupai aslinya,” ujar Kinanti, menekankan pada kemampuannya. “Jika Anda menyetujui timeline dan tahapan yang telah saya jelaskan, saya dapat memastikan bahwa jejak yang tersisa akan sangat minim, nyaris tidak terdeteksi oleh mata awam.”
Akhirnya, Awan mengangguk. “Baiklah. Mari kita lakukan, Dok. Saya ingin segera menjadwalkan tindakan yang paling utama.”
“Kami akan mulai dengan menjadwalkan tes darah dan pemeriksaan radiologi minggu depan, sebelum kita menyusun jadwal operasi untuk fase pertama.”
Kinanti menutup file. Sesi pertama selesai. Keputusan untuk memulai prosedur sudah disepakati. Kinanti berhasil mendapatkan persetujuan dan Awan telah mendapatkan janji akan presisi mutlak. Namun, di balik jabat tangan yang dingin, Kinanti tahu bahwa ia baru saja setuju untuk mengoperasi seorang pria yang menuntut pengembalian masa lalu, bukan sekadar perbaikan masa kini.
❁ ❁ ❁
Bulan-bulan berikutnya bagi Kinanti bukanlah rentang waktu, melainkan serangkaian epoch yang terukur. Waktu melarut ke dalam rutinitas brutal yang ironisnya ia ciptakan sendiri sebagai cara bertahan hidup.
Fase satu dimulai. Kinanti mendekati tubuh Awan bukan sebagai manusia, melainkan sebagai peta rusak yang harus direkonstruksi. Dalam sunyi ruang operasi yang dingin, ia melakukan diseksi jaringan parut dengan ketenangan yang menipu. Dengan kepiawaian dan hati-hati, ia melepaskan kulit yang terkontraksi sebelum memasang skin graft dengan presisi geometris. Tidak ada yang ia takuti. Tidak ada infeksi. Tidak ada penolakan jaringan. Keahliannya sekali lagi membuktikan bahwa kontrol lebih unggul daripada takdir.
Empat bulan berlalu dalam siklus kunjungan, pemulihan, dan operasi berikutnya. Kinanti melanjutkan ke Fase Dua, di mana ia melakukan facial contouring mikro. Ia fokus pada tulang zygoma dan mandibula Awan, serta menggunakan fat grafting minimal untuk mengembalikan lekuk yang hilang. Ini adalah seni yang paling halus. Teknik menyusun kembali wajah agar tidak ada yang curiga wajah itu pernah dihancurkan. Kinanti bekerja di bawah tekanan kelelahan yang konstan, tetapi ia tidak pernah goyah. Setiap jahitan, setiap tindakan, adalah upaya untuk mengunci kekacauan Awan di masa lalu.
Awan sendiri adalah pasien yang sempurna—patuh dan diam. Ia menaati semua instruksi pasca operasi. Awan hanya berbicara tentang timeline, risiko komplikasi, dan kebutuhan fungsional untuk kembali terbang. Ia adalah entitas yang terkalibrasi bahkan dalam kesakitannya. Ia tidak pernah mengucapkan terima kasih yang terlalu hangat, tidak pernah menanyakan cuaca, juga tidak pernah menunjukkan gejolak emosi.
Delapan bulan terlewati. Mereka memasuki Fase Tiga. Tahap penyelesaian estetika. Minggu-minggu dihabiskan dengan laser treatment dan dermabrasi. Kinanti menyaksikan bagaimana lapisan epidermis Awan merespons dengan sempurna. Tekstur kulit yang tidak rata menjadi kembali halus dan hiperpigmentasi ikut memudar. Bekas luka yang tadinya menganga, kini tinggal kenangan samar yang tersembunyi di bawah permukaan.
Ketika prosedur terakhir selesai, Kinanti merasakan gelombang kepuasan profesional yang murni. Namun, saat perban terakhir dilepas dan Awan menatap pantulan dirinya di cermin, Kinanti menunggu. Ia menunggu senyum tipis, anggukan pengakuan, atau bahkan ungkapan terima kasih yang biasa didapatnya setelah sukses besar.
Semuanya berbeda. Awan hanya menatap pantulannya dengan ketidakpercayaan yang dingin. Kinanti tidak melihat kegembiraan atau syukur yang seharusnya. Ia melihat keheningan yang sama yang Awan tunjukkan delapan bulan lalu. Awan, yang kini secara klinis pulih, hanya melihat reruntuhan yang sama di balik permukaan kulit yang mulus itu.
Kinanti menyusun berkas dengan tangan yang sedikit menegang. Di balik maskernya, ia memilih untuk mengabaikan tatapan Awan yang tidak berubah. Secara teknis, ia telah menang telak. Kinanti berhasil mengekstrak luka bakar yang parah dan menciptakan kembali wajah Awan yang nyaris tidak meninggalkan jejak luka.
❁ ❁ ❁