Antitesis

Agum PA
Chapter #7

Ikan di Lautan

Setelah siklus pelepasan berakhir dan semua keributan ambisi telah kubungkam, aku tidak lagi merasakan keringanan, melainkan kehampaan yang menakutkan. Ketenangan yang kudapat di bawah pohon tua menuntut konsekuensi yang ekstrem.

Aku berdiri dan melangkah menuju ke tepi jurang. Di atas tebing batu karang yang dingin dan sunyi, tempat batas antara bumi dan lautan mengabur, aku menimbang-nimbang jurang yang menganga. Di bawah, samudera membentang tak terbatas. Permukaannya hitam mengilap dan bergelombang. Ombak besar memukul dasar karang dengan suara gemuruh yang menggema.

Di sinilah, di ambang batas antara tanah yang aku kenal dan samudera yang tak terduga, aku berhenti. Aku telah berhasil melepaskan daun-daun yang berguguran, tetapi kini, aku menghadapi pertanyaan yang lebih besar. Bagaimana cara menerima kehampaan yang kuciptakan itu?

Aku tidak berjuang melawan dorongan untuk melompat. Saat kakiku meninggalkan pijakan, yang pertama kurasakan adalah bobot tubuhku yang tiba-tiba memberat. Seolah-olah gravitasi menarikku dengan kekuatan yang tak sabar. Angin yang tadinya hanya berbisik di sekitar kepala kini berubah menjadi deru tajam yang menerpa wajahku. Aku tidak berusaha menyeimbangkan diri atau mencari titik tumpu. Aku hanya pasrah dan menyerahkan setiap inci tubuhku pada percepatan yang tak terhindarkan. Aku membiarkan hembusan angin melawan laju turunku sesaat. Dalam detik-detik bobot tubuhku terhempas ke kedalaman, yang ada hanyalah penyerahan diri pada penyelesaian yang sunyi.

Tubuhku menghantam permukaan air dengan keras, lalu segera disambar oleh keganasan ombak. Aku terombang-ambing. Tubuhku terlempar ke atas, berputar ke bawah, dihantam ke tepi batu karang, seolah lautan itu sendiri menolak kehadiranku yang pasif. Aku tidak mencoba berenang ke atas. Aku hanya tenggelam dan membiarkan bobot menarikku ke bawah. Samudera yang menelanku terasa begitu berat. Seolah ia adalah perwujudan dari semua beban yang gagal kulepaskan di darat.

Di saat itulah, naluri perlawanan terakhir mencengkeram. Aku meronta. Air mulai memenuhi paru-paruku. Ada rasa terbakar yang brutal. Sensasi bahwa seluruh jiwaku sedang dicabik-cabik oleh zat yang seharusnya kuberikan. Ini adalah konflik yang lebih intens dari sekadar bobot daun. Ini adalah pertempuran melawan kehendak untuk hidup. Namun, aku memilih untuk menyerah pada rasa sakit dan membiarkan perlawanan berakhir. Di sini, di kedalaman, suara-suara dunia meredup.

Seiring meredupnya suara dunia, sensasi pendengaranku digantikan oleh tekanan statis yang merata. Aku memasuki fase di mana tubuhku berhenti bernegosiasi. Tidak ada lagi dingin yang menusuk, yang ada hanya keseragaman suhu yang menenangkan—sebuah penerimaan total terhadap medium yang menenggelamkanku. Penglihatanku memudar menjadi lapisan biru kehitaman yang pekat.

Dalam keheningan absolut yang dicapai oleh kedalaman ini, kesadaranku menjadi sangat fokus, namun tanpa objek. Aku tidak lagi mencari makna. Aku telah menerima ketiadaan. Ketika rasa terbakar akibat air laut ini telah berlalu, ia justru menghasilkan sebuah kekosongan sensoris yang sempurna. Semua janji, semua beban, dan semua hierarki nilai yang kulepaskan dari kehidupan di daratan menjadi data yang tidak relevan. Kegagalan menjadi sukses, kehilangan menjadi kepenuhan, karena dalam penerimaan ini, kriteria penilaian apa pun menjadi absurd. Aku bukan lagi subjek yang mencari. Aku adalah objek yang tenggelam.

Pada detik-detik terakhir sebelum kesadaran sepenuhnya sirna, aku tidak lagi melihat kilas balik kehidupan, melainkan melihat titik nol yang selama ini kukejar. Dalam pelepasan dan penerimaan terakhir ini, aku menemukan kepastian yang ironis. Satu-satunya tindakan yang benar-benar bebas adalah memilih ketiadaan dari semua opsi kehendak yang ada. Aku memilih untuk tidak memilih. Aku memilih untuk menjadi air, menjadi gelap, menjadi diam. Aku sepenuhnya menerima akhir yang telah kumulai.

Lihat selengkapnya