Antitesis

Agum PA
Chapter #8

Tidak Ada yang Namanya Cinta

Ruang sidang itu berubah menjadi dingin dengan cara yang rapi. Pendingin udara bekerja terlalu sempurna, menyingkirkan segala kemungkinan emosi berlebih. Detektif Intan duduk di barisan tengah. Punggungnya tegak. Tangannya terlipat di atas buku catatan yang belum disentuh sejak awal sesi. Di depannya, layar besar menampilkan slide presentasi tentang pembaruan prosedur forensik lintas lembaga. Judul-judul yang sudah ia dengar berkali-kali yang sedang diucapkan dengan intonasi akademis. Ia tidak bosan. Ia hanya tidak sepenuhnya hadir.

Kata-kata terus mengalir dari podium, namun perhatian Intan terpecah pada hal-hal kecil. Suara bolpoin yang terjatuh dua baris di depannya. Tarikan napas berat seorang peserta di samping kiri. Getaran halus dari ponsel di sakunya yang belum berbunyi tetapi seolah menunggu waktu. Ketika ponsel itu akhirnya berdering, suaranya terdengar tajam di tengah kesunyian terkontrol ruangan.

Intan menunduk sedikit, menekan tombol terima, dan berdiri tanpa menarik perhatian. Langkahnya menuju pintu terasa lebih panjang dari biasanya. Di luar ruang sidang, suara presentasi meredup, digantikan gema lorong dan bau karpet yang sudah sering dibersihkan.

“Intan,” suara di seberang terdengar singkat. Atasannya jarang berbicara panjang saat ada sesuatu yang salah. “Rumah Sakit Prima Malaya. Sekarang.”

Intan tidak langsung bertanya. Ia sudah belajar bahwa detail akan datang sendiri.

“Ada kematian tidak wajar,” lanjut suara itu. “Korban adalah direktur operasional rumah sakit. Pria. Sekitar tiga puluhan.”

Langkah Intan terhenti sesaat. “Tidak wajar bagaimana?” tanyanya.

Di ujung sana ada jeda yang panjang untuk sekadar mengatur napas.

“Tidak ada darah. Tidak ada bekas luka. Tidak ada tanda masuk paksa. Tidak ada riwayat penyakit yang tercatat. Ia sedang menghadiri pertemuan dengan perusahaan asing di ruang rapat lantai dua belas. Di tengah pembicaraan, ia jatuh tidak sadarkan diri.”

“Dan?”

“Dan meninggal dunia sebelum tim medis internal sempat melakukan apa pun.”

Intan menatap dinding putih di depannya. Ia memperhatikan noda kecil seperti bekas sepatu yang tidak pernah benar-benar hilang. Rumah sakit. Direktur operasional. Rapat resmi. Semua kunci itu seharusnya menyiratkan kontrol, prosedur, dan keamanan. Namun justru di situlah ketidakberesan sering bersembunyi.

“Ada saksi?”

“Semua orang di ruangan itu saksi. Tapi tidak ada yang melihat apa pun.”

Intan menghela napas perlahan. Bukan karena terkejut, melainkan karena pola mulai terbentuk terlalu cepat dan ia tidak menyukai kecepatan itu.

“Apa penyebab kematian sementara?”

“Belum ada. Autopsi masih menunggu izin keluarga.”

Keluarga. Kata itu menggantung dengan beban yang tidak diucapkan. Dalam kematian seperti ini, keluarga bukan hanya pihak berduka. Mereka juga sering menjadi simpul pertama dari berbagai kemungkinan.

“Baik,” kata Intan. “Saya ke sana.”

Panggilan terputus tanpa basa-basi.

Ia berdiri beberapa detik di lorong itu dan membiarkan informasi tadi mengendap. Tidak ada darah. Tidak ada luka. Tidak ada penyakit. Tidak ada kekacauan. Kematian yang bersih selalu menuntut kecurigaan ekstra. Ia jarang datang sendirian.

Di parkiran, hujan tipis mulai turun, membasahi aspal tanpa suara keras. Intan duduk di balik kemudi mobilnya, lalu menyalakan mesin dan membiarkan wiper bekerja dengan ritme pelan. Pikirannya mulai menelusuri detail-detail yang belum ada dan mengganggunya.

Direktur operasional bukan figur sembarangan. Ia bukan wajah publik utama, tapi ia adalah pusat kendali. Orang yang tahu alur uang, kebijakan internal, dan dinamika karyawan. Orang yang jarang sendirian, jarang lengah. Dan ia mati di tengah rapat. Tidak di lorong gelap. Tidak di rumah. Tidak dalam keadaan rapuh.

Rumah Sakit Prima Malaya menjulang dengan fasad kaca yang memantulkan langit abu-abu sore itu. Segalanya tampak berjalan seperti biasa. Ambulans keluar masuk, pengunjung berlalu-lalang, resepsionis tersenyum dengan profesionalisme terlatih. Tidak ada pita garis polisi yang mencolok. Tidak ada kerumunan. Kematian itu belum menjadi tontonan.

Di lantai dua belas, garis polisi telah terpasang. Seorang rekan polisi berdiri di depan ruang rapat. Ia mengenakan sarung tangan lateks dan wajahnya lelah namun fokus.

“Kapten Intan,” sapanya pelan. “Kami sudah di sini sejak setengah satu jam lalu.”

“Apa yang kita punya?”

“Belum banyak,” jawabnya jujur. “Tim forensik masih mengumpulkan data antem mortem. Rekam medis korban bersih. Tidak ada riwayat penyakit jantung. Tidak ada obat rutin. Toksikologi belum keluar.”

Intan melangkah masuk ke ruang rapat bersama rekannya.

Ruangan itu tenang dengan cara yang nyaris tidak wajar. Meja panjang mengilap dan kursi-kursi tersusun simetris. Gelas-gelas air mineral masih tertutup, beberapa sudah dibuka namun nyaris tidak berkurang. Laptop-laptop tertutup rapi dan kabel tidak berserakan. Pendingin udara tetap menyala pada suhu standar. Tim forensik bekerja tanpa suara berlebihan. Seorang petugas memotret sudut-sudut ruangan. Yang lain mencatat posisi barang-barang. Tidak ada gerakan tergesa. Tidak ada ekspresi bingung. Semua berjalan sesuai prosedur.

“Korban duduk di kursi itu,” kata rekannya sambil menunjuk salah satu kursi di sisi tengah meja. “Saksi bilang ia sedang berbicara, lalu terdiam, dan jatuh ke samping.”

Intan mendekat dan berhenti di belakang kursi itu. Ia tidak menyentuh apa pun. Hanya mengamati. Jarak antar kursi konsisten. Tidak ada gelas yang tumpah. Tidak ada benda yang terjatuh. Karpet di bawah kursi bersih dan tidak ada bekas gesekan keras.

“Tidak ada yang mencurigakan?” tanyanya, lebih kepada menguji kesunyian ruangan.

“Sejauh ini, tidak,” jawab rekannya.

Intan mengangguk pelan.

Ia sudah cukup lama di lapangan untuk tahu bahwa tidak ada yang salah sering kali berarti sesuatu yang direncanakan dengan sangat baik. Kekerasan kasar selalu meninggalkan jejak. Namun, yang halus bekerja dengan cara berbeda. Ia menyamar sebagai kebetulan, sebagai kegagalan tubuh, atau terkadang sebagai takdir. Ia memandang sekeliling sekali lagi, membiarkan matanya berhenti pada detail yang tidak menuntut perhatian. Udara terasa netral. Ruangan ini tidak menyimpan emosi. Seolah kejadian tadi hanyalah gangguan singkat yang segera dikoreksi oleh rutinitas.

“Semua saksi masih di dalam gedung?”

“Iya. Sudah kami data. Tidak ada yang pergi.”

Intan menarik napas perlahan. Ia tidak merasa yakin, juga tidak merasa ragu. Ia berada di antara keduanya—tempat di mana kasus-kasus sulit biasanya bermula. Saat ia melangkah keluar ruangan, satu kesan menetap tanpa bisa ia jelaskan sepenuhnya. Kematian itu tidak datang sebagai kejutan. Ia datang sebagai sesuatu yang telah disiapkan untuk terlihat biasa. Dan dari pengalamannya, yang paling berbahaya bukanlah kejahatan yang meninggalkan kekacauan, melainkan yang meninggalkan ketertiban.

❁ ❁ ❁

Pemeriksaan saksi berlangsung seperti pengulangan yang rapi. Satu per satu, mereka duduk di kursi yang sama dengan nada suara yang hampir serupa. Kalimat-kalimatnya berbeda, tetapi intinya berlapis dengan keselarasan yang sulit dibedakan. Rapat itu, kata mereka, adalah pertemuan lanjutan yang telah dijadwalkan jauh hari. Agenda utama membahas kerja sama strategis antara rumah sakit dan sebuah perusahaan farmasi asing—tentang suplai jangka panjang, pengembangan produk, dan rencana ekspansi layanan gizi.

Arkha memimpin rapat dengan cara yang biasa ia lakukan. Tegas, terstruktur, tidak emosional. Ia sempat menyampaikan beberapa poin, mengajukan pertanyaan teknis, lalu berhenti di tengah kalimat. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada perbedaan pendapat yang mencuat. Tidak ada kalimat yang terdengar seperti ancaman atau tekanan.

“Semua berjalan normal,” kata salah satu saksi.

“Tidak ada yang aneh,” kata yang lain.

“Kami bahkan belum masuk ke topik sensitif,” tambah yang lain lagi.

Intan awalnya mencatat, namun seketika berhenti karena muak. Ada titik di mana catatan tidak lagi menambah informasi. Terlalu banyak keselarasan justru menciptakan ruang kosong. Ruang yang belum tentu mencurigakan, tetapi cukup luas untuk diperhatikan.

Arkha, dari potongan-potongan cerita itu, muncul sebagai sosok yang utuh namun datar. Profesional. Terjaga. Seorang direktur operasional yang memahami sistem dan angka lebih daripada manusia. Tidak ada yang menyebutnya hangat. Tidak ada yang menyebutnya kejam. Ia hadir sebagai pusat kendali yang bekerja sebagaimana mestinya.

Tentang kehidupan pribadinya, saksi-saksi tidak banyak tahu. Dan, yang tahu pun tidak berkata lebih dari perlu. Nama Renata muncul beberapa kali, tetapi selalu sebagai keterangan tambahan. Renata adalah istri Arkha. Seorang model profesional. Ia sangat jarang terlihat di rumah sakit. Sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Tidak ada gosip yang diucapkan dengan suara keras maupun penilaian terbuka.

Renata datang menjelang sore.

Ia tidak datang dengan tergesa. Tidak pula ditahan oleh langkah ragu. Pakaian yang dikenakannya tampak seperti bagian dari dunia lain. Ia mengenakan potongan yang bersih, warna yang terukur, dan sepatu yang tidak bersuara saat menyentuh lantai. Rambutnya tertata rapi. Wajahnya nyaris tanpa cela. Jika ada bekas kelelahan, ia menyimpannya dengan sangat baik.

Seorang petugas mengantarnya ke ruang pemeriksaan. Intan berdiri saat perempuan itu masuk, lebih karena kebiasaan daripada sikap hormat.

“Maaf saya datang seperti ini,” kata Renata dengan suara tenang, hampir netral. “Saya sedang ada sesi pemotretan ketika mendapat panggilan.”

Intan tidak langsung membuka pembicaraan. Ia membiarkan Renata duduk dan membiarkan ruangan itu menemukan nadanya sendiri. Tidak ada suasana tegang. Bahkan terlalu tenang untuk ukuran ruang pemeriksaan. Intan memperhatikannya tanpa menyembunyikan pengamatan. Gerakan Renata terlampau tepat. Tangannya diletakkan di atas pangkuan dan punggungnya lurus. Tidak ada air mata. Tidak ada wajah runtuh. Tidak ada usaha untuk terlihat kuat. Yang ada hanyalah kesempurnaan yang tidak retak.

“Kami turut berduka cita,” kata Intan, kalimat standar yang telah ia ucapkan puluhan kali.

Renata mengangguk pelan. “Terima kasih.”

Hanya itu. Tidak ada cerita tentang kehilangan. Tidak ada pertanyaan tentang penyebab kematian. Tidak ada permintaan penjelasan. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan administratif dengan ringkas dan tepat. Tentang jadwal Arkha dan tentang kebiasaan sehari-hari. Semua disampaikan tanpa nada defensif dan tanpa emosi yang berusaha ditekan.

Intan mencatat hal-hal kecil yang tidak tertulis. Cara Renata menjaga kontak mata tanpa menantang, cara ia berhenti sepersekian detik sebelum menjawab pertanyaan personal, seolah memilih kata yang paling aman, bukan untuk dirinya, tetapi untuk situasi. Dalam keheningan di antara pertanyaan, Intan merasakan sesuatu yang sulit diberi nama. Bukan kecurigaan. Belum. Lebih seperti jarak. Renata tidak mencintai dengan cara yang biasa dikenal Intan. Jika cinta hadir dalam bentuk kelekatan, kehilangan kendali, atau luka yang terbuka, maka perempuan ini berada di luar spektrum itu. Ia tidak runtuh karena tidak ada yang ia lepaskan. Ia tidak bertanya karena tidak ada yang ia tuntut. Renata memiliki sesuatu yang lain.

“Saya tahu jika pertanyaan formal tidak akan membawa kita ke mana-mana,” kata Intan akhirnya. Suaranya rendah, tidak mencatat, tidak menekan. “Bolehkah saya berbicara sebagai sahabat Anda, bukan sebagai penyidik?”

 

Renata menatapnya sesaat, lalu mengangguk pelan. “Silakan.”

“Hubungan Anda dan Arkha… akhir-akhir ini bagaimana?”

Pertanyaan itu keluar tanpa penekanan. Renata tidak segera menjawab. Ia menurunkan bahunya sedikit, seperti seseorang yang melepaskan mantel tipis.

“Stabil,” katanya. “Kalau stabil masih dianggap sesuatu.”

“Stabil ke arah mana?” tanya Intan.

“Ke arah yang tidak banyak bergerak,” jawab Renata. Nadanya datar, tidak getir.

“Kalian sering bersama?”

“Kami tinggal di rumah yang sama,” kata Renata. “Tapi tidak saling mengecek.”

“Dari awal memang begitu?”

Renata mengangguk. “Kami menikah tanpa janji romantis. Itu kesepakatan.”

“Kesepakatan jarang bertahan lama,” ujar Intan.

“Yang romantis juga,” balas Renata ringan.

Hening sebentar. Tidak ada ketegangan di sana. Hanya jeda.

Renata lalu berkata, seolah mengingat sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diingat lagi, “Kalau ini relevan… Arkha memiliki hubungan lain.”

Intan menatapnya. “Anda yakin?”

Renata mengangguk kecil. “Saya mengetahuinya beberapa bulan terakhir. Jika ternyata hubungan itu sudah jauh lebih lama, saya sepenuhnya tidak tahu.”

“Dengan siapa?”

Renata tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan, seperti menimbang apakah detail berikutnya memang perlu diletakkan di ruangan itu.

“Seorang dokter di poli gizi,” katanya. “Natalia.”

Intan mencatat nama itu. “Anda mengenalnya?”

“Kami pernah beberapa kali duduk di meja yang sama,” jawab Renata. “Pertemuan akhir pekan di luar kantor membahas proyek gizi yang sedang ditangani Arkha. Bertiga.”

“Dan, dari situ Anda menyimpulkan?”

“Bukan dari pertemuannya,” kata Renata. “Dari aromanya.”

Intan mengangkat alis sedikit, memberi isyarat agar Renata melanjutkan.

“Parfumnya,” ujar Renata. “Ia selalu memakai aroma yang sama. Tidak kuat, tapi konsisten. Bukan aroma rumah sakit. Aroma yang personal.” Ia tersenyum tipis, seolah menyebutkan detail kecil yang tidak pantas diperbesar. “Saya mencium aroma itu di jas Arkha. Di mobil. Kadang di lehernya,” lanjutnya. “Dan, karena kami pernah duduk cukup dekat dalam satu ruangan, saya mengenalinya.”

“Arkha pernah mengaku?” tanya Intan.

Renata menggeleng. “Tidak.”

“Lalu Anda tidak menanyakannya?”

Renata menggeleng lagi. “Tidak.”

“Kenapa?”

Renata berpikir sejenak. “Karena saya tidak merasa perlu.”

“Banyak orang akan marah,” kata Intan.

“Banyak orang juga merasa harus memiliki untuk bisa mencintai,” jawab Renata. “Saya tidak.”

“Kemudian Anda tidak merasa cemburu?”

Renata menatap ke depan, bukan ke Intan. “Cemburu muncul kalau ada klaim. Saya tidak pernah mengklaim.”

Intan terdiam. Tangannya berhenti di atas catatan.

“Jadi Anda tahu dan memilih diam.”

“Saya tahu,” kata Renata pelan. “Dan, membiarkannya menjadi urusan mereka.”

“Tidak ada rasa dikhianati?”

Renata menoleh. “Dikhianati dari apa?”

Pertanyaan itu tidak menuntut jawaban. Ia berdiri sendiri.

Intan menghela napas pelan. “Banyak orang mengira ketenangan berarti tidak peduli.”

“Kadang itu hanya berarti menerima batas,” kata Renata. “Saya tidak menuduh siapa pun,” tambahnya. “Saya hanya menyampaikan apa yang saya ketahui.”

Intan mengangguk. “ Saya rasa itu cukup membantu.”

Sebelum Intan benar-benar mengakhiri sesinya dengan Renata, pintu ruangan terbuka pelan. Seorang rekan Intan masuk dengan tergesa. Sebuah kebiasaan profesional yang sering menyampaikan kabar buruk.

“Maaf,” katanya singkat. “Hasil awal autopsi.”

Intan mengangguk. Ia menerima bisikan dari rekannya. Kesimpulan sementara forensik adalah paparan zat toksik jangka panjang. Kemungkinan besar melalui oral dengan dosis kecil berulang. Racun yang tidak membunuh cepat, melainkan menunggu tubuh kelelahan. Wajahnya tetap tenang, tetapi ruang di sekitarnya berubah densitasnya.

Ia menoleh ke Renata yang masih duduk bersandar

“Sebelum Anda pulang, saya perlu menanyakan satu hal lagi,” kata Intan pelan. “Apakah Anda dan Arkha makan malam bersama tadi malam? Atau sarapan bersama pagi ini?”

Pertanyaannya sederhana. Nada Intan tidak menuduh dan tidak mengarahkan.

Renata tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak, bukan karena ragu, tetapi karena menata ingatan.

“Saya bukan istri yang menyiapkan sarapan,” katanya akhirnya. “Kami hampir tidak pernah sarapan bersama.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, seperti seseorang yang menyadari sebuah detail.

“Tapi beberapa malam terakhir, sebelum tidur, Arkha mencium saya. Selalu ada bekas anggur di bibirnya,” lanjut Renata. “Dan, sesekali diiringi dengan wangi parfum yang sama.”

Hening kembali turun ke ruangan itu. Rekan Intan berlari keluar.

Intan mengakhiri sesi. Renata berdiri dan sebelum membuka pintu, ia berhenti sejenak.

“Kapten Intan?”

“Ya?”

“Banyak orang sering mengira hubungan yang renggang menyimpan dendam,” katanya pelan. “Kadang isinya hanya ruang kosong.”

Pintu menutup perlahan. Intan tetap duduk. Di kepalanya, gambaran mulai terbentuk. Pernikahan tanpa klaim, suami yang mencari di luar, istri yang tidak menuntut apa pun, dan kematian yang tidak datang dari satu keputusan, melainkan dari kebiasaan yang diulang terlalu lama.

Lihat selengkapnya