Antitesis

Agum PA
Chapter #10

Ragi dan Rahim

Setelah mendapatkan kabar kematian mantan suaminya, Sarah merasa ada garis tak kasat mata yang putus di dalam dirinya. Sudah hampir setahun sejak perpisahan yang disepakati bersama itu terjadi. Arthur kini pergi di dalam sunyi yang tak terjangkau.

Sarah memilih untuk tidak bergabung dengan kerumunan. Ia berdiri tersembunyi dan bersandar pada sebatang pohon kamboja tua yang menaungi batas pemakaman. Dari sana, ia mengawasi prosesi pemakaman Arthur. Angin dingin November membawa serpihan doa dan suara isak tangis keluarga Arthur. Sarah tidak berduka atas kehilangan. Ia merasakan ketenangan yang dingin karena beban takdir lama itu kini telah benar-benar berakhir.

Ia tahu, bagi keluarga Arthur, ia tetaplah kegagalan—seorang wanita yang tidak mampu memenuhi kebutuhan yang paling mendasar. Namun, ia tidak lagi gentar menghadapi stigma itu. Ia datang bukan untuk meratap, tetapi untuk menyaksikan penutupan babak hidupnya.

Ketika prosesi pemakaman benar-benar selesai dan tidak ada satu pun rombongan yang tersisa, Sarah melangkah keluar dari bayangan.

Sarah mengenakan gaun abu-abu gelap sepanjang lutut. Ia sengaja memilih warna itu karena ia ingin menjelaskan bahwa perasaannya telah berubah netral. Perasannya tetap ada, tetapi tidak hadir dalam duka. Rambut hitamnya yang panjang ditarik ke belakang dengan simpul sederhana memperlihatkan wajahnya yang polos tanpa sentuhan riasan sama sekali.

Ia berjalan di antara hamparan rumput hijau yang rapi menuju nisan batu Arthur yang baru berdiri kokoh. Di tangannya, ia membawa bunga aster ungu yang dirangkai pada vas keramik berwarna abu-abu.

Sarah berdiri di hadapan nisan. Ia terdiam dan menatap cukup lama. Hembusan angin mencoba menggoyahkan tubuhnya, namun ia tetap tegak. Tidak ada air mata yang terjatuh. Sebagai ganti duka, ia meletakkan vas itu dengan gerakan yang terukur dan tenang. Sebuah sentuhan pamit yang bisu dan tanpa tuntutan.

❁ ❁ ❁

Malam itu, Sarah tidak tidur. Ia mengubah energi kesedihan yang menolak untuk tumpah menjadi disiplin kerja. Ia mengenakan celemek putih bersihnya, mengikat rambut hitamnya, dan memulai meditasi.

Di atas meja stainless steel yang dingin, Sarah menuangkan tepung terigu berkualitas tinggi. Ia tidak menimbang, ia merasakan. Tangannya menyentuh bubuk halus itu, lalu menuang air dan ragi. Tangan Sarah, yang tadinya terpaksa diam dan kaku di pemakaman, kini aktif dan berdaya. Ia mulai mencampur dan merasakan tekstur basah yang kasar dan lepas.

Adonan yang terbentuk masih lengket dan tidak terstruktur. Sarah mulai menguleni. Gerakan lengannya konsisten, berulang, dan kuat. Ia merasakan perlawanan lembut dari adonan. Ia menariknya, melipatnya, dan menekannya kembali ke meja. Setiap tarikan adalah pengakuan bahwa luka adalah bagian dari proses dan setiap lipatan adalah upaya untuk menyimpan udara—kehidupan—di dalamnya. Adonan tidak pernah berbohong. Jika ia bekerja terburu-buru, hasilnya akan keras dan mati. Adonan hanya memberikan respons yang nyata dan jujur.

Sarah belajar dari proses itu. Kehidupan sejati membutuhkan kesabaran, bukan kontrol. Ia mengamati bagaimana adonan yang ia ulur perlahan menjadi elastis dan lembut. Ia merasakan berat yang perlahan berubah menjadi ringan di tangannya. Roti tidak pernah terburu-buru. Ia membutuhkan waktu berjam-jam untuk fermentasi—untuk membuktikan keberadaannya sendiri melalui gelembung udara yang perlahan terbentuk di dalam oven. Itu adalah penciptaan murni hasil dari kemauan dan ketekunan tangannya terhadap kekosongan yang ia rasakan.

Setelah adonan mencapai elastisitas sempurna, Sarah membiarkannya beristirahat. Ia membersihkan meja dan memandang sourdough starter di sudut dapur—bibit ragi lama yang harus terus diberi makan dan dirawat. Itu adalah kehidupan yang ia ulur-ulur dan yang ia rawat dengan kehendak bebasnya.

Jika rahimnya kosong dari kehidupan yang diharapkan, maka tangannya meluap-luap dengan penciptaan. Ia adalah ibu dari kehangatan dan menciptakan aroma ragi yang jujur dan tekstur roti sourdough yang menuntut kesabaran berhari-hari.

Di luar dinding dapur yang sunyi itu, toko rotinya yang bernama Dawn & Bun berkembang pesat.

❁ ❁ ❁

Beberapa hari setelah pemakaman, Sarah kembali ke rutinitasnya yang terukur. Pagi hingga tengah hari, tokonya selalu ramai. Ia berdiri di balik meja kasir, menyajikan roti, bertukar senyum—semuanya terkontrol.

Mendekati jam tutup di tengah hari, ketika hanya beberapa croissant yang tersisa, pintu toko terbuka. Seorang wanita separuh baya melangkah masuk. Posturnya rapuh, matanya bengkak karena duka. Bunda datang.

Lihat selengkapnya