Kesadaranku tidak kembali ke permukaan. Ia juga tidak tenggelam lebih jauh. Ia berhenti, seolah akhirnya menemukan titik di mana jatuh dan bertahan tidak lagi perlu dibedakan. Tidak ada sensasi bangkit. Tidak ada perayaan kelahiran ulang. Yang ada hanyalah keheningan panjang yang tidak meminta apa pun dariku. Aku masih berada di dalam keadaan tenggelam itu, namun kini tanpa berat, tanpa dorongan, dan tanpa arah.
Waktu tidak hilang, tetapi melambat. Ia tidak lagi bergerak sebagai garis, melainkan sebagai napas yang diulang tanpa target. Di dalam jeda itulah, ruang di sekitarku berubah cara hadirnya. Bukan sebagai laut. Bukan pula sebagai daratan.
Ia hadir seperti taman yang tidak dibangun, tidak dirancang, dan tidak menunggu untuk dikunjungi. Segalanya tampak seperti selalu ada di sana. Jauh sebelum aku berhenti melawan dan akan tetap ada bahkan jika aku tidak lagi menyadarinya. Udara terasa bersih. Bukan karena disaring atau dimurnikan, melainkan karena tidak dikejar. Ia masuk dan keluar dari tubuh dengan ritme yang tidak diatur. Tidak ada desakan untuk menariknya lebih dalam. Tidak ada ketakutan akan kekurangan. Setiap tarikan cukup dan setiap hembusan dilepas begitu saja.
Tanah tidak menuntut pijakan. Ia hanya ada dan menopang tanpa perjanjian. Di beberapa bagian, air muncul sebagai mata air kecil yang tidak mencari nama. Ia keluar dari celah batu tanpa suara dan mengalir perlahan, menyusuri lekuk tanah yang tidak berambisi menjadi lurus. Dari aliran kecil itu, sungai dan lautan terbentuk. Tidak ada titik di mana air memutuskan untuk menjadi lebih besar. Ia hanya mengikuti ruang yang memberinya jalan. Segalanya terhubung tanpa harus disatukan.
Aku tidak melangkah masuk ke taman ini. Aku juga tidak berdiri di luar. Aku berada di dalamnya dengan cara yang tidak memerlukan kehadiran fisik. Seperti cahaya yang tidak memilih daun mana yang ingin disentuh. Aku hanya ada di antara ruang-ruang yang terbuka.
Tidak ada rasa takjub yang meledak. Tidak ada dorongan untuk mengabadikan. Yang ada hanyalah pengakuan sunyi, bahwa dunia bisa berjalan tanpa pengamat yang sibuk.
Taman ini tidak meminta dijaga. Ia juga tidak meminta dipahami. Ia berfungsi tanpa pusat. Aku memperhatikan bagaimana warna-warna tidak menuntut perhatian. Hijau tidak berlomba menjadi lebih hijau. Cahaya tidak berusaha menembus lebih dalam dari yang diizinkan. Bayangan tidak mencoba menghapus dirinya sendiri. Semua berada pada intensitas yang cukup. Tidak maksimal, juga tidak minimal. Di sinilah aku mulai menyadari bahwa cukup bukanlah hasil dari perhitungan, melainkan kondisi alami ketika tidak ada yang ditambahkan.
Aku tidak merasa damai. Aku juga tidak merasa gelisah. Perasaan-perasaan itu masih ada, tetapi tidak lagi menempel padaku. Mereka lewat seperti angin kecil yang tidak meninggalkan bekas. Dalam keadaan seperti ini, perhatian tidak lagi melompat jauh. Ia berhenti di dekat, terutama pada hal-hal yang tidak penting sebelumnya.
Aku mulai melihat. Bukan dengan niat. Bukan dengan fokus yang disengaja. Penglihatan yang hanya terjadi.