Ia tidak tahu di mana ia berada. Kota itu terasa asing, tetapi langkah kakinya bergerak tanpa ragu. Seolah ada ingatan yang bekerja tanpa perlu dipanggil. Gang-gang sempit. Bangunan berwarna kusam. Dinding-dinding dengan lukisan yang pudar. Tidak satu pun benar-benar ia kenali, namun semuanya terasa seperti sesuatu yang pernah dilewati.
Ia berhenti di sebuah sudut jalan dan menatap lama ke arah tembok yang dipenuhi gambar-gambar setengah jadi. Bentuk-bentuk yang kehilangan makna sebelum selesai. Jalan itu abu-abu. Bukan abu-abu yang bersih, melainkan warna yang seolah sudah lama menyerah untuk disebut apa pun. Cat mengelupas tanpa niat diperbaiki. Aspal retak. Banyak genangan tipis memantulkan cahaya redup yang tidak berasal dari matahari. Udara pengap untuk sekadar dihirup. Tidak ada satu pun yang bisa ia sebut kenangan, tapi ia yakin pernah berdiri di sana. Keyakinan itu tidak datang dari ingatan yang jelas. Ia datang sebagai perasaan yang tertinggal.
Sejak hari itu, ada bagian di otaknya yang seperti terlepas. Sebuah sambungan halus yang dulu menghubungkan makna dengan arah, kini tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya. Ia masih bisa berjalan, berbicara, dan bernapas seperti orang lain. Namun dunia yang ia lihat tidak pernah kembali menjadi dunia yang sama. Ia berjalan lagi. Tanpa tujuan dan rencana. Pemandangan berbeda yang tidak pernah ia temui membuatnya sejenak melupakan hari-hari yang panjang nan kosong.
Gang sempit itu sunyi. Terlalu sunyi untuk sebuah kota. Tidak ada suara mesin, tidak ada percakapan, bahkan gema langkah kakinya sendiri pun terasa ditelan ruang dan waktu. Dunia seperti menahan napas.
Di antara deretan pepohonan pucat di pinggir jalan, ia berhenti lagi. Dan saat itu, tanpa alasan yang jelas, ia merasakan tangannya. Tangan yang dulu selalu tergenggam. Tidak erat. Tidak menuntut. Hanya cukup untuk memastikan bahwa ia tidak berjalan sendirian.
Ingatan itu muncul tanpa wajah dan tanpa suara. Hanya sensasi hangat yang tiba-tiba terasa terlalu nyata di dunia yang mati ini. “Sepertinya… aku pernah ke sini,” gumamnya.
Ia ingat sedang berjalan di malam hari. Ingat tertawa tanpa alasan penting. Ingat rasa lelah yang tidak ingin dihentikan karena berjalan bersama terasa lebih menyenangkan daripada sampai tujuan. Ia ingat pemandangan-pemandangan yang dulu disukai—atau mungkin hanya menjadi istimewa karena dilihat berdua. Ia sempat berpikir bahwa semua itu sudah lama ia hapus. Bahwa ia sudah mengikhlaskan. Ternyata ingatan tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu tempat yang tepat untuk muncul.