Aku bisa melihatnya datang. Terjun bebas dari atas langit dan mendarat dengan udara kosong dan tanpa suara. Sinar matahari di belakangnya menyinari setapak tempat ia berpijak. Tak lama berlutut, ia berdiri tegak seolah tidak ada yang mampu menggoyahkan tubuhnya yang lunglai. Tangannya menggenggam setangkai bunga tulip putih nan bersih. Kelopaknya mengilap di tengah kebun mawar ini. Seperti manusia yang dibuang dari surga.
Ia berjalan, setelah meyakinkan dirinya sendiri, menuju ke arahku. Aku bisa melihatnya mulai berlari. Aku berani bertaruh kulit kakinya sudah mengelupas jika ia berhasil menyusulku. Kebun ini terlalu luas, sarat tanaman mawar. Duri-duri kecilnya melukai kaki. Matahari memanggang semua yang berada di sini dan angin tiada henti menguapkan aroma mawar yang menyesakkan penciuman. Rasanya seperti dipaksa menghirup gas beracun dan sel-sel otak perlahan mati. Ia tiba dan berdiri di sampingku.
“Kakimu... memprihatinkan.”
Darah semerah kelopak mawar mengalir tak henti dari luka kakinya yang menganga. Bau darah segar silih berganti, semakin memekatkan kebun ini. Aku tidak tahu apa yang membuat saraf kepalaku mengencang hingga ingin meledak. Lukanya, bau amis, atau keberadaan kami berdua.
“Tempat apa ini?” tanyanya. Ia memandang ngarai di depannya.
“Hanya kebun mawar di pinggir jurang yang curam.” Aku mengenali pandangan itu. “Kau tidak merasakan sakit?”
Kepalanya menggeleng. “Aku tidak bisa merasakan kakiku. Aku bisa mencium bau darah, tapi tidak sakit sama sekali.”
Ia melangkah beberapa meter dari posisiku yang bersandar pada batang pohon dedalu, berdiri tepat di bibir jurang. Aku yakin darahnya sudah terjun berkali-kali dan bercampur dengan aliran sungai jauh di bawahnya. Ia menarik napas dalam dan membuangnya. Hening. Hanya gemeresik daun yang menemani kami.
“Aku tidak tahu kenapa aku membawanya.” Ia menoleh dan menyerahkan bunga tulip yang dibawanya. “Hanya ada kita berdua di sini, aku yakin ini untukmu.”
“Kau yakin bukan untukmu sendiri?”
Ia menggeleng lagi. “Aku tidak suka tulip, kamu tahu itu,” tegasnya. “Untukmu.”
Aku meraihnya. Tulip itu sempurna. Dipetik dengan sangat teliti. Mahkotanya menguncup malu seperti lupa untuk mekar. Kedua daunnya menyelimuti batang tipis panjang yang menjuntai. Aku memejamkan mata lalu menyesap aromanya. Lembut dan segar. Tidak sekuat dan sepekat aroma mawar. Tulip ternyata masih menjadi pilihanku.
“Curug itu bagus.” Ia menunjuk mata air tepat di seberangnya. “Airnya deras tapi jatuh dengan momentum yang tepat. Menenangkan. Mungkinkah ini surga?”
“Aku pikir ini hanyalah taman bermain.”
Aku membuka mata. Hal pertama yang tertangkap dalam pandanganku adalah punggungnya. Tiga tahun tidak bertemu tak ubahnya ia masih laki-laki yang sama seperti tujuh tahun silam. Postur tulangnya yang tegap membuat siapa pun akan rela menenggelamkan diri ke dalamnya punggung itu. Siapa pun bisa bermain dengan sepuasnya tanpa merasa ketakutan. Tapi, tenggelam bukanlah hal baik. Siapa pun bisa terjebak di sana, kehabisan napas, dan akhirnya mati.
“Aku tidak mengerti. Aku yakin sedang tertidur dan tiba-tiba merasakan efek seperti jatuh,” ucapnya terbata-bata. “Aku tidak bisa melihat apa pun selain cahaya putih. Sangat terang. Sinar itu berasal dari tulip yang kamu genggam. Aku mengambilnya dan tidak lama terang itu berubah menjadi pendar, kau tahu, seperti cahaya bulan temaram.”
“Aku melihatmu jatuh,” jawabku.
“Sesaat setelah memetik tulip itu, diriku melayang, maksudnya, aku, seperti daun layu yang jatuh dari tangkai pohon. Tidak lama, ada sesuatu seperti mendorong jauh sekaligus menarikku. Aku tidak tahu, tapi,” ia berusaha mencari kata yang tepat. “Aku terlempar ke sini dan melihatmu.”
“Kau langsung mengenaliku?”
Ia mengangguk, seperti tersadar dari lamunan. “Aku senang bisa melihatmu lagi, meski rasanya seperti mimpi.”
Wajahku memanas, sekilas aku bisa melihat bibirnya tersenyum.
“Lucu, ya? Baik aku dan dirimu bisa saja saling menghubungi untuk bertemu di dunia nyata. Sayangnya kita belum bisa meruntuhkan ego masing-masing. Aku juga tidak mengerti mengapa. Padahal kamu tahu siapa aku dan aku sangat mengenalmu. Mungkin kita belum siap untuk membuka diri satu sama lain?”