Sepanjang perjalanan itu keadaan tampak hening, Najendra mengemudikan kendaraan ini dengan baik mengekori mobil hitam di depannya. Mereka memeriksa alat komunikasi dengan benar dan sesekali mendengarkan laporan dari pengawal lain.
Semua telah direncanakan dan disusun dengan baik, seharusnya tak akan ada kesalahan dan kelemahan yang menjadi celah bagi si teroris untuk melakukan penyerangan terhadap Eddie.
"Kedengarannya semua akan berjalan dengan baik tanpa ada kendala apa pun," kata Aldrich setelah mendengar dari yang lain, jika tak ada hal aneh dan tampaknya keadaan lalu lintas semua normal, beberapa polisi lalu lintas juga sudah melakukan beberapa hal sebagai antisipasi dan penjagaan. Jelas tak akan mungkin ada kejadian, di mana tiba-tiba ada sebuah mobil dengan muatan bom yang akan menabrak rombongan dan meledak seketika.
Tak ada kendaraan mencurigakan dan tak ada sesuatu yang ganjil dari arah rute perjalanan yang ditempuh, bahkan mereka mengubah jalur mendadak, takut-takut si pembunuh sudah tahu rute yang akan mereka lalui dan menyiapkan jebakan yang luput dari pengawasan.
"Sejauh ini semuanya lancar." Najendra membalas dengan tangan kanan, sesaat menyentuh alat komunikasi di telinganya. Dalam keadaan nyaman itu, sebuah ponsel berdering, sumbernya dari si pengawal yang duduk di sisi kiri Eddie.
"Ada panggilan, nomornya tertera dengan jelas." Pria itu memperlihatkan ponsel Eddie yang ia pegang.
"Biar kuangkat." Eddie meraih ponselnya tapi Najendra segera menghentikannya.
"Sebentar pak, kami akan coba melacaknya." Najendra segera menghubungi Derrick, setelah pria itu berkata oke, maka Eddie mengangkatnya.
"Eddie, selamat pagi. Tampaknya kau sudah siap dengan upacara pemakamanmu." Suara dari seberang tampak berat dan asing. Si peneror. Tampaknya peneror mulai melancarkan siasatnya pada saat ini.
"Oh oke, aku keliru, aku tarik ucapanku yang tadi." Aldrich bergumam pelan saat mendapati suara peneror itu.
"Diamlah!" Najendra agak membentak, bisikan tentunya. Pria ini benar-benar berisik, Najendra benar-benar tak percaya jika orang seperti ini bisa lolos dan mendapat pekerjaan semacam ini.
"Siapa kau?!" tanya Eddie dengan geram, ia sudah cukup dibuat frustrasi dan kesal dengan pesan kematiannya, pesan yang muncul setiap satu jam sekali dari lima alamat berbeda dan dalam waktu berbeda pula, itu berarti setiap dua belas menit sekali ia akan menerima pesan yang sama.
"Sekitar empat jam lagi, adalah waktu kematianmu. Aku akan menghubungimu nanti." Panggilan seketika terputus, itu membuat Eddie sangat marah dan mengumpat terus menerus.
"Bagaimana, Derrick?" tanya Najendra, ia memanggil rekannya tanpa menggubris Eddie yang terus marah, mengumpat jika semua yang bekerja benar-benar tidak becus, katanya ponsel yang ia genggam saat ini sudah dilindungi pengamanan, sehingga tak sembarang orang dapat melakukan panggilan pada nomornya --yang sekarang bahkan sudah dibuat khusus untuknya--
Eddie sudah mengeluarkan dana cukup besar untuk mencegah si peneror mengiriminya pesan, ia kira saat sebelumnya pesan berhenti ia terima maka ia sudah berhasil. Tapi nyatanya, si peneror malah melakukan panggilan. Jauh lebih buruk daripada pesan yang diterimanya.