Anugrah Rindu

Subhan Marhesa
Chapter #1

Bab 1: Museum Kesunyian

Bab 1: Museum Kesunyian

Kematian, atau setidaknya kepergian yang menyerupai kematian, tidak pernah benar-benar membersihkan jejaknya.

Sudah ratusan hari berlalu, namun Gagah masih membiarkan rumahnya menjadi sebuah museum kesunyian. Abu rokok jatuh menodai ubin teras tanpa ia pedulikan. Jemarinya mengetuk pelan sandaran kursi rotan, menghitung ketukan lambat dari lagu balada Skeeter Davis yang mengalun parau, mengoyak hening malam.

Don't they know, it's the end of the world...

Ratapan lirik itu mengambang di udara bersama asap tembakau. Pandangan Gagah terpaku pada lampu jalan di seberang, menatap kosong pada seekor ngengat yang terus menabrakkan diri ke bohlam panas berulang kali. Binatang bodoh yang mencari kehangatan dari sesuatu yang akan membakarnya. Persis seperti dirinya.

Lamunan itu terpotong paksa oleh getar ponsel di atas meja. Nama "Mamah" menyala di layar. Gagah menyibakkan rambut gondrongnya yang berantakan, menekan tombol hijau dengan enggan.

"Halo, Nak. Besok kamu masuk kerja siang, kan?" Suara ibunya terdengar lantang, presisi, tak menyisakan ruang untuk basa-basi. "Kunci rumahnya dicabut dari dalam. Biar Mamah bisa masuk pagi-pagi bikin sarapan."

"Hmm..." Gagah menggumam, kehilangan tenaga bahkan hanya untuk merangkai satu kata.

"Foto-fotonya sudah dimasukin ke dus untuk dibuang, belum?"

Pertanyaan itu seketika mencekik kerongkongan Gagah. Pandangannya melayang ke meja komputer di sudut ruangan. Sebuah pigura kayu berdiri di sana, membingkai wajahnya dalam setelan jas dan Rindu dengan gaun pengantin. Kaca pigura itu retak rambut membujur tepat di antara wajah mereka—sisa bantingan dari malam laknat dua tahun lalu. Seolah alam semesta sengaja menarik garis batas untuk memisahkan mereka. Gagah tidak pernah berniat mengganti kacanya.

"Mah, ada telepon lain masuk. Udah dulu," potong Gagah datar. Sebuah dusta mekanis demi memutus rentetan realitas.

Layar ponsel kembali gelap. Di balik kaca hitam pekat itu, Gagah hanya melihat pantulan wajahnya sendiri yang pias. Malam itu, ia kembali menatap langit-langit kamar hingga pukul tiga pagi. Aroma lavender dari bantalnya sudah lama mati, tetapi memori penciumannya terus berkhianat, memanggil ulang wangi napas yang tertinggal dua tahun lalu. Gagah tidak tahu cara mematikan ingatan itu. Atau mungkin, jauh di dasar kewarasannya yang membusuk, ia memang menolak melepaskannya.

"Nak! Gagah! Bangun!"

Gedoran keras di pintu mengoyak paksa residu tidurnya. Sinar matahari terasa seperti ancaman. Aroma tumis bawang dari dapur menyusup dari celah bawah pintu.

Gagah meraba ponsel. Pukul 06.30. Dengan helaan napas yang menyisakan perih di dada, ia bangkit menyeret langkah. Air dingin di wastafel sedikit melunturkan kabut di kepalanya. Namun, saat ia berbalik melangkah menuju ruang tamu, persendiannya mendadak terkunci.

Tatapannya menajam, memaku pada sudut ruangan. Jantungnya berdesir hebat.

Kardus cokelat berisi barang-barang peninggalan Rindu, yang semalam masih ia sembunyikan dengan aman di sudut lemari, kini teronggok di dekat pintu depan. Siap diangkut ke tempat sampah.

Rahang Gagah mengeras hingga urat lehernya menonjol. Ia menyambar kardus itu, mendekapnya erat seolah itu adalah jasad rapuh, lalu berjalan dengan langkah panjang menuju dapur.

"Mamah apaan sih?!" bentaknya. Suaranya, yang biasa statis bak radio rusak, kini pecah bergetar menahan amarah.

Sang ibu yang sedang membalik tempe tersentak. Tangannya refleks mematikan kompor. Ia berbalik, menatap putranya dengan pendar mata yang tak kalah sengit. "Apa sih, Nak? Kan Mamah sudah bilang, barang-barang itu harus dibuang! Mau sampai kapan kamu pelihara penyakit di rumah ini?"

"Ini barang-barang Gagah, di rumah Gagah! Kenapa Mamah yang selalu atur?!"

"Ini sudah dua tahun, Anugrah! Kamu mau meratapi Rindu terus-terusan?!" seru ibunya, suaranya mulai retak oleh frustrasi seorang ibu yang lelah melihat putranya mati pelan-pelan.

Gagah terdiam sejenak. Giginya gemeretak. "Mamah nggak ngerti..." desisnya serak.

"Ngerti apa lagi?!" Suara ibunya kini melengking, menelanjangi rahasia kotor yang selama ini mereka kubur. "Mamah dari awal sudah nggak suka sama dia! Dan terbukti, kan? Malam itu dia pergi sama laki-laki lain! Dia ninggalin kamu dengan cara yang paling hina! Buat apa kamu masih nyimpan barang-barang perempuan jalang yang udah nggak ada?!"

Brak!

Gagah menghantam meja makan dengan kedua tangannya. Suara dentuman itu memekakkan telinga, memutus paksa tenggorokan ibunya. Ia tidak membalas dengan kata-kata. Matanya menatap buas, sementara napasnya menderu seperti binatang terluka yang terjebak di sudut sempit.

Lihat selengkapnya