Bab 2: Residu
"Hai."
Tiga huruf itu meluncur. Sederhana, kaku, dan terasa sangat menyedihkan. Gagah muak pada kekakuannya sendiri, tetapi ibu jarinya telah menekan tombol kirim. Ada kecemasan ganjil yang menumpuk di dasar tenggorokannya, mengaduk rasa takut, dosa, dan kepingan harapan yang tak pantas.
Hanya butuh beberapa tarikan napas sebelum balasan itu datang, menghancurkan sisa-sisa kewarasannya bak kaca yang dihantam palu godam:
"Aku nggak mau basa-basi. 1x main, 1 juta. Gimana? Mau?"
Napas Gagah tersayat di kerongkongan. Matanya memaku pada deretan piksel itu. Otaknya menolak memproses kalimat yang merobek logika tersebut. Seseorang di luar sana, yang meminjam wajah masa lalunya yang suci, baru saja menempelkan label harga untuk tubuhnya.
Tidak mungkin. Ini pasti penipuan. Atau akun bot tak berwajah.
Tangan Gagah bergetar hebat. Ia mengunci layar ponsel, menelungkupkannya di atas meja kubikel. Namun kalimat transaksional itu terus menggaung di dalam tempurung kepalanya, menampar egonya tanpa ampun.
Ia ingin tertawa getir karena sempat berharap alam semesta memberinya keajaiban. Yang tersisa kini hanyalah rasa perih yang meluap, disusul rasa jijik yang luar biasa pada dirinya sendiri. Karena bahkan setelah mengetahui niat kotor perempuan di balik akun itu, Gagah menyadari satu fakta yang mengerikan: ia tetap tidak bisa memalingkan wajah.
Ada daya tarik gravitasi yang mematikan dari profil itu.
"Oke."
Hanya satu kata. Dingin, pasrah, dan penuh keputusasaan.
Notifikasi balasan menyambar nyaris instan. "Mau di mana? Aku nggak ada tempat."
Gagah memejamkan mata. Jantungnya berdetak liar bukan karena gairah berahi yang murah, melainkan karena rasa bersalah yang mendadak mencekik lehernya. Membawa perempuan asing, seorang pekerja seks komersial, ke rumahnya adalah bunuh diri. Bagaimana jika ini jebakan perampokan?
Namun, dorongan irasional untuk melihat wajah itu secara langsung, untuk membuktikan apakah hantu itu benar-benar bernapas, telah membutakan seluruh sensor logikanya.
"1 jam lagi di Jalan Jambu V, rumah nomor B07."
Ia menyerahkan alamat rumahnya sendiri. Begitu pesan itu terkirim dan bertanda centang dua, keringat dingin merembes menembus kemejanya. Ponsel di genggamannya mendadak terasa seberat timah.
"Oke."
Gagah menyambar tas ranselnya, menulikan telinga dari jam kerja yang belum usai, dan bergegas keluar gedung bagai buronan yang dikejar waktu.
Langit sore menggantung dengan warna kelabu memar ketika Gagah menaiki bus kota. Hujan turun menderas tanpa peringatan, menampar kaca jendela bus dan menciptakan irama gaduh yang selaras dengan kekacauan di kepalanya. Bus itu terasa seperti peti mati besi yang membawanya menuju takdir yang tak terelakkan.
Tumit sepatunya menghentak lantai bus berulang kali secara ritmis, memancing delikan sinis dari beberapa penumpang. Gagah tidak peduli. Ia sedang meluncur ke dasar jurang, dan ia menikmatinya.
Musim ini memang tak pernah bisa ditebak. Saat bus memuntahkannya di halte dekat kompleks, Gagah membuka payung lipat hitamnya. Langkahnya terseret berat melewati genangan air berlumpur. Siluet dirinya yang terpantul di genangan air tampak seperti orang asing yang tak ia kenali.
Namun, saat pagar rumahnya mulai terlihat di ujung jalan, langkah Gagah mendadak mati. Payung di tangannya miring terbawa angin.
Di depan pagarnya, seorang perempuan berdiri mematung di bawah guyuran hujan. Basah kuyup.