Anugrah Rindu

Subhan Marhesa
Chapter #3

Bab 3: Sebuah Kesalahan yang Hangat

Bab 3: Sebuah Kesalahan yang Hangat

Tubuh perempuan itu menegang kaku layaknya mayat di dalam dekapan Gagah.

Gagah bisa merasakan jemari sedingin es mencengkeram lengannya yang melingkar erat. Bukan untuk membalas pelukan, melainkan meronta beringas. Namun, kewarasan Gagah sedang tidak berada di tempatnya. Hidungnya rakus menghirup aroma familier dari tengkuk itu. Ia semakin mengeratkan rengkuhannya, dihinggapi teror bahwa perempuan ini akan menguap menjadi kabut jika ia melonggarkannya sedikit saja.

"Lepasin..." Suara perempuan itu terdengar tertahan, bergetar oleh kepanikan.

Gagah menulikan telinga. Ia lebih memilih terkubur hidup-hidup dalam halusinasinya.

"LEPASIN!"

Teriakan lantang itu diiringi sentakan keras yang sukses melerai kuncian Gagah. Kabut delusi yang membutakan matanya seketika runtuh, pecah berkeping-keping di udara. Gagah terhuyung mundur.

Di hadapannya, perempuan itu berdiri dengan dada naik-turun memburu. Sepasang matanya yang gelap menatap Gagah dengan sorot tajam yang memancarkan teror murni. Tamparan realitas itu menghantam ulu hati Gagah tanpa ampun. Perempuan itu bukan Rindu. Tatapan Rindu tidak pernah memandangnya seolah ia adalah monster yang menjijikkan.

Gagah mematung. Gemuruh rasa malu dan penyesalan yang pekat menenggelamkan egonya. Ruangan mendadak terasa membeku, hanya diisi oleh suara napas perempuan itu yang gemetar, dan sialnya, lagu pop ceria dari iklan televisi yang mengalun janggal, seolah sengaja menertawakan sisa-sisa kewarasan Gagah yang baru saja koyak.

Tanpa memiliki keberanian untuk menatap wajah itu lagi, Gagah membalikkan badan, berjalan gontai, dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia menunduk dalam-dalam, mengusap wajahnya dengan kasar. Otaknya bekerja keras mencari susunan kalimat untuk menjelaskan kegilaannya barusan, tetapi kamus mana pun tidak memiliki kata yang bisa membenarkan tindakannya memeluk seorang pekerja seks secara paksa sambil menangis.

"Maaf..."

Suara lirih itu mengudara. Gagah mendongak perlahan. Alisnya bertaut. Kenapa perempuan ini yang meminta maaf?

Gagah memaku pandangannya saat perempuan itu melangkah pelan mendekat. Gerakannya berhati-hati, namun ada semacam keputusan mekanis di sorot matanya. Belum sempat otak lamban Gagah memproses apa yang terjadi, perempuan itu merendahkan tubuhnya, lalu dengan gerakan luwes yang dingin dan transaksional, ia duduk menyilang di atas pangkuan Gagah.

Napas Gagah tertahan di tenggorokan. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa jengkal.

Gagah seketika menyadari apa yang sedang terjadi. Perempuan ini sedang bekerja. Ia mengira teriakan penolakannya tadi membuat kliennya marah karena layanannya tak sesuai ekspektasi, jadi ia menggunakan tubuhnya sebagai kompensasi. Fakta bahwa ada perempuan berwajah Rindu yang menawarkan dirinya dengan cara semurah itu membuat perut Gagah melilit mual.

Kedekatan ini menyiksa. Gagah tak mampu menahan sorot mata itu lebih lama. Perlahan, ia memalingkan wajah ke samping. Menolak ditatap. Menolak menyentuh.

Melihat penolakan itu, kedua tangan perempuan itu terangkat, menelusup ke belakang leher dan rambut Gagah. Dengan kelembutan yang terasa terlalu telaten dan terlatih, ia menarik kepala Gagah, lalu menyandarkannya ke dadanya.

Di titik itu, seluruh pertahanan maskulin Gagah hancur lebur.

Meski ia sangat sadar ini hanyalah ilusi murahan yang dibeli dengan lembar-lembar uang, kehangatan tubuh itu persis seperti yang selalu ia cari setiap malam selama dua tahun terakhir. Perlahan, kelopak mata Gagah terpejam. Air mata pengingkaran kembali lolos dari sudut matanya, jatuh meresap ke serat kain kaus yang dikenakan perempuan itu.

Merasakan basah yang menembus dadanya, gerakan tangan perempuan itu terhenti. Ia melonggarkan dekapannya, lalu menangkup kedua rahang Gagah, memaksa pria itu untuk kembali menatap wajahnya.

Hening mengambil alih. Hanya suara napas mereka yang saling beradu, berat dan rapuh. Gagah menatap mata hitam itu dengan pandangan buram oleh air mata.

"Aku... siapa?"

Suara perempuan itu nyaris berupa bisikan, namun menusuk langsung merobek ulu hati Gagah.

Gagah tersentak. Pertanyaan itu adalah jangkar realitas. Dengan gerakan pelan namun final, Gagah menggenggam kedua lengan perempuan itu dan mengangkat tubuhnya dari pangkuannya, mengembalikannya ke tempat berpijak yang berjarak.

"Aku... mandi dulu," ucap Gagah parau. Ia tidak sanggup menjawab pertanyaan itu.

Tanpa menunggu reaksi, Gagah bangkit. Langkahnya berat melintasi ruang tengah. Ia menyambar handuk dan pakaian ganti dari kamar, menghindari tatapan mata asing itu. Saat ia menoleh sekilas, perempuan itu masih berdiri terpaku menatap layar televisi, tampak bingung sedang memproses keanehan berlapis dari kliennya malam ini.

Lihat selengkapnya