Bab 4: Jejak Tak Kasat Mata
Tok, tok.
Ketukan itu membelah kesunyian rumah seperti bilah pisau. Gagah membeku di ruang tengah, darahnya seakan berhenti mengalir. Di luar pintu depan, terdengar gesekan sol sepatu yang gelisah.
"Gah! Lu di dalam?!" Suara Argo menggema, bernada santai namun cukup keras menembus dinding tipis rumah.
Gagah menahan napas. Otaknya berpacu liar. Jika ia diam, Argo mungkin akan menyerah dan pulang. Namun detik berikutnya, telinga Gagah menangkap suara gesekan di rak sepatu.
Kotak sepatu
Napas Gagah tercekat. Ia selalu menyembunyikan kunci cadangan di kardus sepatu itu, dan Argo tahu persis kebiasaannya.
Denting logam beradu dengan lubang kunci terdengar nyaring. Klik.
Panik mengambil alih kewarasan Gagah. Pintu depan mulai berderit terbuka. Dengan gerakan kilat, Gagah melesat ke kamar mandi di ruang tengah, membanting pintunya dari dalam, dan langsung menyalakan keran wastafel hingga maksimal. Ia mengacak-acak rambutnya, memercikkan air ke wajah dan lehernya agar terlihat meyakinkan.
Jantungnya menghantam tulang rusuk bak martil. Ia menajamkan pendengaran, memisahkan suara gemericik air keran dengan suara langkah kaki Argo yang kini sudah berada di ruang tamu.
"Gagah?" panggil Argo.
Hening.
"GAGAH?!" Suara itu kini berpindah. Lebih dekat.
Gagah memejamkan mata rapat-rapat saat mendengar langkah Argo berhenti tepat di depan kamar utamanya. Tuhan, jangan sampai pintunya tidak dikunci.
Tok! Tok! Tok! Argo menggedor pintu kamar itu tanpa ragu. "Bangun, Gah! Ngumpet lu, ya?"
Gagah mendengarkan dengan saksama. Dari dalam kamar utama, sayup-sayup terdengar bunyi gagang pintu yang di gerakkan berkali-kali. Argo tidak bisa membuka pintu kamar. Perempuan itu menguncinya dari dalam. Gagah mengembuskan napas lega yang gemetar. Ia harus keluar sekarang sebelum Argo mencoba mendobrak pintunya.
Gagah menarik napas panjang, menyambar handuk kering dari gantungan, lalu mengalungkannya ke leher. Ia memutar kenop kamar mandi, melangkah keluar dengan wajah yang dibuat sebosan mungkin.
"Apaan sih ribut-ribut? Gue lagi cuci muka," rutuknya datar, menutupi getar di suaranya.
Argo menoleh cepat. Raut wajahnya yang tegang seketika luruh menjadi kelegaan bercampur dongkol. "Anjir, gue kira lu pingsan atau mati. Lu ngilang gitu aja dari kantor, bos nanyain, gue kira lu diculik alien."
Gagah hanya memaksakan anggukan kecil. "Tunggu sana dulu, Rif. Gue bikin minum," ucapnya pelan, memberi isyarat ke arah sofa ruang tamu.
Argo melangkah santai menuju ruang tamu, mengoceh panjang lebar tentang pekerjaannya yang terbengkalai akibat kepergian Gagah yang mendadak. Namun Gagah tidak langsung menuju dapur. Saat punggung Argo membelakanginya, Gagah menyelinap ke depan pintu kamarnya. Ia menekan kenop itu pelan.
Memang Terkunci.
Aman. Perempuan itu cukup cerdas untuk memahami bahaya.
Gagah akhirnya melangkah ke dapur, menuangkan air ke dalam gelas dengan tangan yang masih sedikit bergetar. Bunyi denting sendok yang beradu dengan kaca terdengar terlalu nyaring di telinganya. Saat ia kembali ke ruang tamu membawa dua gelas air, Argo masih sibuk menceramahi. Gagah duduk terpaku, menatap lurus menembus meja, seolah suara sahabatnya itu hanyalah siaran radio rusak.
"Gah. Lu dengerin nggak sih?" Suara Argo mendadak meninggi.
Gagah mengerjap. "Eh... denger."