Bab 5: Sang Nyonya Rumah
Sinar matahari pagi yang menembus celah tirai menusuk kelopak mata Gagah secara paksa. Ia mengerjap, terbangun dengan tulang punggung yang kaku dan nyeri akibat tidur melingkar di atas sofa ruang tamu.
Sedetik pertama, otaknya masih kosong. Namun di detik berikutnya, ingatan tentang kejadian semalam menghantam kesadarannya seperti air es.
Gagah bangkit duduk dengan napas tertahan. Tatapannya langsung menyapu ruang tamu. Mangkuk styrofoam kosong bersisa bubur masih tergeletak di atas meja. Ini bukan mimpi. Kejadian semalam benar-benar nyata.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Layar menyala menunjukkan pukul 08.19. Ia sudah sangat terlambat untuk ke kantor, tapi peringatan Argo semalam menguap begitu saja dari kepalanya. Ada kepanikan lain yang tiba-tiba merayap naik ke dadanya. Rumah ini terlalu sunyi.
Apakah perempuan itu sudah pergi?
Gagah segera beranjak. Langkahnya tergesa setengah berlari menuju kamar utamanya. Ada ketakutan tak beralasan bahwa ia akan menemukan ruangan itu kembali kosong, menyisakan dirinya sendirian lagi di rumah ini.
Namun, tepat di depan kamar, langkah Gagah terhenti mendadak.
Matanya tertuju pada gagang pintu. Pintu kayu itu ternyata tidak tertutup rapat, menyisakan celah selebar beberapa sentimeter. Dari balik celah itu, telinganya menangkap gemerisik samar—suara kain yang bergesekan dengan kulit.
Gagah menahan napas. Tangannya perlahan menyentuh daun pintu, mendorongnya beberapa milimeter tanpa suara, sekadar cukup untuk membiarkan sebelah matanya mengintip ke dalam.
Matanya seketika membelalak.
Di dalam sana, perempuan itu berdiri membelakangi pintu. Ia baru saja menanggalkan kausnya, membiarkan punggungnya terekspos cahaya pagi. Seharusnya Gagah memalingkan wajah, mengalihkan pandangannya demi kesopanan. Tapi ia tidak bisa bergerak. Matanya tertancap kuat pada punggung itu.
Di atas bilah bahu, menjalar hingga ke separuh punggung perempuan itu, terukir sebuah tato sayap pekat berwarna hitam.
Gagah berhenti bernapas. Garis-garis tinta hitam yang menembus kulit itu seakan merobek bola matanya sendiri. Tinta itu adalah bukti fisik yang kejam dan tak terbantahkan. Rindu tidak pernah memiliki tato. Kulit Rindu bersih tanpa cela.
Tamparan realitas itu menghantam Gagah tanpa ampun, meruntuhkan sisa-sisa khayalan rapuh yang setengah mati ia pelihara sejak semalam. Perempuan yang ada di dalam kamarnya itu benar-benar orang asing.
Istrinya tidak pernah pulang.
Gagah mengurungkan niatnya untuk menekan gagang pintu lebih jauh. Ia memundurkan langkah tanpa suara, lalu berbalik dan setengah berlari menuju kamar mandi di ruang tengah.
Ia menyalakan keran wastafel, meraup air dingin ke wajahnya yang kuyu, lalu mencengkeram tepi wastafel sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Otaknya berputar keras, mencoba menyusun kewarasan. Ia harus mengusir perempuan itu sekarang juga. Ia tidak boleh lagi membiarkan rumahnya diinvasi oleh ilusi ini. Bukti fisik itu tidak bisa dibantah: perempuan bertato itu bukan Rindu.
Namun, belum selesai ia menata logikanya, telinganya menangkap bunyi derit karet pintu kulkas yang dibuka dari arah dapur. Tak lama berselang, terdengar bunyi klik pemantik kompor gas, disusul desis api yang menyala.
Gagah keluar dari kamar mandi. Langkahnya yang berniat mengusir kini tersendat pelan, tertarik oleh gravitasi masa lalu menuju dapur.
Dan di sana, kewarasan yang baru saja ia bangun dengan susah payah kembali runtuh tak bersisa. Ia seolah ditarik paksa ke dalam putaran rol film masa lalunya.
Perempuan itu berdiri di depan kompor. Rambut panjangnya diikat ke belakang menjadi ekor kuda yang sedikit berantakan—gaya yang persis sama, postur yang persis sama, rutinitas pagi yang telah Gagah saksikan ratusan kali selama pernikahan mereka.
Gagah terpaku di ambang pintu dapur. Adegan yang sangat ia rindukan ini terasa menyiksa sekaligus memabukkan. Merasa diperhatikan, perempuan itu menoleh. Tangan kanannya memegang spatula di atas wajan yang mulai mendesis.