BAGIAN 1
BAB 1
Aku Lahir di Rumah yang Retak (1970)
Aku lahir pada tahun 1970 dari 4 bersaudara dimana aku adalah anak ketiga, di sebuah kampung kecil di tanah Batak, ketika hidup berjalan pelan tetapi terasa berat. Tahun itu tidak pernah dirayakan. Tidak ada tanda, tidak ada catatan, tidak ada siapa pun yang mengingat hari dan tanggal pastinya. Ibuku hanya menyebut tahunnya sesekali, dengan suara datar, seolah kelahiranku adalah bagian dari hidup yang memang harus diterima, bukan disambut. Di kampungku, tanggal tidak penting. Orang-orang lebih percaya pada musim hujan yang panjang, musim kemarau yang keras, dan musim lapar yang bisa datang tanpa aba-aba. Aku lahir di sela musim-musim itu, di sebuah rumah kecil yang berdiri nyaris roboh, tetapi tetap bertahan seperti orang-orang di dalamnya.
Rumah kami berdinding papan tua yang telah lapuk dimakan usia. Pada beberapa bagian papan itu retak dan berlubang. Untuk menutupinya, Ibuku menempelkan potongan-potongan koran bekas berita lama, wajah orang-orang asing, dan tulisan yang tak pernah benar-benar kupahami. Kertasnya menguning, ujungnya terkelupas, dan setiap kali angin malam bertiup, dinding itu bergetar pelan, menimbulkan suara seperti bisikan yang tak selesai.
Meski rapuh, rumah itu selalu bersih. Ibuku adalah perempuan yang rajin, hampir keras kepala dalam menjaga kerapian. Setiap pagi dan sore beliau menyapu lantai tanah dengan sapu lidi, lalu menyiramnya dengan air agar debu mengendap. Tikar pandan digelar lurus, periuk disusun rapi, pakaian kami yang sedikit digantung tertib. Bau sabun cuci sering tertinggal di sudut rumah, bercampur dengan bau kayu lapuk dan asap dapur. Seolah ibuku ingin membuktikan satu hal “kemiskinan boleh tinggal, tetapi kekacauan tidak boleh berkuasa.”
Di rumah yang hampir runtuh itu, kami juga belum mengenal terang listrik. Malam datang dengan gelap yang utuh. Kami hanya bergantung pada lampu minyak, itupun tidak selalu menyala karena sering kali kami tidak mampu membeli minyak lampu. Ada masa-masa ketika malam terpaksa kami lalui dengan cahaya rembulan yang menyelinap masuk dari celah papan dan lubang atap. Cahayanya pucat dan dingin, tetapi cukup untuk membuat kami saling melihat cukup untuk memastikan bahwa kami masih ada.