Anyaman di Rambut Si Kribo

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #2

Rambut keriting dan nama yang melekat

BAB 2

Rambut keriting dan nama yang melekat

Dari rumah yang rapuh itu, aku melangkah ke dunia luar dengan membawa tubuh kecil, rambut keriting yang sulit diatur, dan nama panggilan yang kelak melekat erat dalam hidupku.

Aku tidak tahu sejak kapan mereka mulai memanggilku Si Kribo. Nama itu melekat begitu saja, seperti debu yang menempel di kaki setelah berjalan jauh. Mungkin sejak rambutku mulai tumbuh lebih lebat dan keriting, mengembang tak mau patuh pada sisir. Mungkin sejak aku mulai berjalan ke mana-mana dengan kepala sedikit menunduk, tubuh kecil yang tampak rapuh di antara anak-anak kampung lain.

Rambutku memang berbeda. Tidak hitam licin dan panjang seperti rambut anak perempuan kebanyakan. Rambutku keriting, kasar, dan sering kusut. Ibuku sudah berusaha merapikannya disisir dengan minyak kelapa, diikat seadanya tetapi rambut itu selalu kembali ke bentuk aslinya, seolah menolak diatur. Tubuhku pun kecil dan pendek. Kulitku lebih putih karena jarang bermain di sungai. Aku lebih sering berada di rumah, membantu ibu, atau duduk di sudut membaca apa pun yang bisa kubaca.

“Si Kribo!” Panggilan itu sering terdengar dari kejauhan, di jalan kampung, di ladang, di halaman rumah. Awalnya aku menoleh. Lama-lama aku tahu, panggilan itu bukan sekadar sapaan. Ia adalah penanda. Ia mengingatkanku bahwa aku berbeda. Aku pulang ke rumah dengan mata panas dan dada sesak. Pernah suatu kali aku bertanya pada ibuku,

“Kenapa namaku bukan namaku saja?”

Ibuku berhenti menyapu. Ia menatapku sebentar, lalu melanjutkan pekerjaannya.

“Nama orang tidak menentukan hidupmu,” katanya.

 “Yang menentukan itu hatimu.”

 Aku mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti.

Di luar rumah, aku belajar menghadapi dunia yang tidak selalu ramah. Anak-anak kampung sering berlarian, berenang di sungai, berteriak-teriak tanpa beban. Aku ikut sesekali, tapi lebih sering memilih berjalan sendiri. Aku merasa lebih aman di pinggir padang rumput, menggiring lembu ayah, atau duduk di bawah pohon sambil memperhatikan langit.

Aku berbicara pada lembu-lembu itu, pada burung, pada angin. Mereka tidak menertawakan rambutku. Mereka tidak memberiku nama. Mereka hanya ada. Ayah jarang menegurku. Jika aku lewat di depannya, ia hanya mengangguk kecil. Ia selalu diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ibu, sebaliknya, selalu punya komentar tentang rambutku yang tak rapi, bajuku yang kotor, caraku berjalan yang terlalu pelan. Tapi aku tahu, di balik cerewetnya, ia peduli.

Lihat selengkapnya