BAB 3
Huruf-Huruf yang Kupeluk dengan Semangat
Dari rumah berdinding koran itu, aku mulai melangkah lebih jauh ke dunia luar. Jika di kampung dan di jalan aku belajar menerima panggilan yang bukan namaku, maka di sekolah aku belajar bertahan dengan cara lain. Rambut keritingku, tubuh kecilku, dan sepatuku yang selalu rusak ikut masuk ke ruang kelas bersamaku. Di sanalah aku mengerti bahwa dunia tidak hanya menilai dari siapa kita dipanggil, tetapi juga dari seberapa lama kita sanggup duduk, mendengar, dan tetap datang meski sering merasa tidak cukup.
Sekolah bukan tempat aku merasa paling pintar.
Sekolah adalah tempat aku merasa paling ingin bertahan.
Setiap pagi aku berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang masih dingin oleh embun. Di punggungku tergantung tas dari goni bekas karung beras, dijahit ibu dengan benang seadanya. Tas itu kasar di kulit, baunya kadang masih menyimpan sisa lumbung, tetapi aku memakainya dengan bangga. Di dalamnya hanya ada satu buku tulis, satu pensil pendek, dan sebuah penghapus kecil yang sudah retak.
Sepatuku sering kali rusak. Solnya menganga, ujungnya sobek. Jika hujan turun, kakiku basah. Jika panas datang, debu menempel di sela-sela jari. Ketika sepatu itu sudah rusak parah, ayahku dengan dingin dan diam akan menjahit sepatu itu agar tetap bisa saya gunakan ke sekolah untuk besok harinya lagi. Baju seragamku adalah turunan dari sepupuku kebesaran, warnanya tidak lagi seragam, dan lengannya sering kulipat agar tidak menutupi tangan.
Aku tahu aku berbeda.
Aku tahu aku terlihat miskin.
Sering kali aku berangkat ke sekolah tanpa makan. Bukan karena aku tidak mau, tetapi karena beras di rumah sudah tidak ada. Periuk hanya berisi sisa air semalam. Ibu menutupnya kembali tanpa berkata apa-apa. Aku mencuci muka, mengenakan seragamku, lalu berangkat seperti biasa. Perut kosong, tetapi kakiku tetap melangkah.
Ada hari-hari ketika kami hanya makan ubi atau singkong rebus. Satu hari, dua hari, kadang sampai tiga hari berturut-turut. Singkong itu kami bagi rata. Tidak ada lauk, tidak ada garam. Aku memakannya perlahan, sekadar untuk menahan perut agar tidak terlalu perih. Aku tidak mengeluh. Aku makan tanpa komentar, seperti sudah mengerti bahwa keadaan tidak perlu selalu dipertanyakan.