BAB 4
Aku meninggalkan SMP, tetapi SMP tidak sepenuhnya meninggalkanku. Di sanalah aku pertama kali berhadapan dengan dunia yang lebih luas dan lebih kejam tempat perbedaan menjadi bahan penilaian, dan bertahan hidup sering kali berarti menebalkan hati. Masa SMP adalah masa ketika aku mulai mengenal dunia yang lebih luas, tetapi juga lebih kejam. Di bangku sekolah menengah pertama itu, aku kembali belajar bahwa menjadi berbeda selalu mengundang penilaian. Aku bukan anak yang cepat memahami pelajaran. Pengetahuanku tertinggal, langkahku lambat, dan sering kali aku membutuhkan waktu lebih lama untuk mengerti apa yang bagi orang lain terasa mudah. Guru-guru menjelaskan di depan kelas, sementara aku berjuang mengejar kalimat demi kalimat yang meluncur terlalu cepat.
Teman-teman sekelasku tahu itu. Sebagian memilih diam, sebagian lain memilih menjadikanku bahan ejekan. Aku sering dipanggil bodoh, lamban, dan tidak jarang ditertawakan ketika jawabanku salah. Belum lagi pakaianku seragam yang warnanya sudah memudar, sepatu yang tampak lelah, dan tas yang kusam. Semua itu menjadi alasan tambahan bagi mereka untuk merendahkanku. Namun entah mengapa, di usia itu aku belajar bersikap keras. Aku tidak selalu diam. Kadang aku melawan, kadang aku membalas dengan kata-kata tajam, meski setelahnya hatiku tetap terasa perih.
Di tengah ejekan dan bullyan yang tak pernah benar-benar berhenti, muncul satu hal lain yang terasa sama menyebalkannya perjodohan kecil-kecilan yang dilakukan teman-teman kampung. Mereka sering menjodoh-jodohkan aku dengan seorang anak laki-laki dari kampung sebelah. Bajunya sama lusuhnya denganku. Ia pendiam, jarang berbicara, dan sering tercium aroma tidak sedap dari tubuhnya. Setiap kali namanya disebut berdampingan dengan namaku, tawa pecah di mana-mana.
Aku membencinya.
Bukan karena ia berbuat salah, tetapi karena aku merasa dijadikan bahan olok-olok sekali lagi.
Dengan lantang aku menolak. Aku berkata kasar. Aku mengatakan ia jelek. Aku ingin memutuskan semua bahan candaan itu dengan cepat dan tegas. Anak laki-laki itu tidak pernah membalas. Ia hanya diam, menunduk, seolah sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Belakangan aku tahu, ia bersekolah bukan karena keinginannya sendiri. Ia datang setiap pagi karena orang tuanya ingin ia sekolah, bukan karena hatinya menginginkannya.
Saat itu, aku tidak peduli.
Aku terlalu sibuk mempertahankan diriku sendiri. Terlalu lelah untuk memikirkan perasaan orang lain. Bagiku, SMP bukan tempat untuk mengenal cinta. Ia adalah tempat bertahan hidup. Setiap hari aku datang dengan perasaan waspada, pulang dengan pikiran yang penuh, dan malam hari aku tidur dengan hati yang sering kali masih gemetar. Kini, ketika aku mengingat kembali masa itu, ada perasaan lain yang muncul bukan lagi marah, melainkan sesal kecil yang diam-diam tinggal. Aku sadar, aku dan anak laki-laki itu sebenarnya berdiri di sisi yang sama. Sama-sama miskin. Sama-sama tidak dipilih oleh keadaan. Sama-sama hadir di sekolah bukan dengan kebanggaan, tetapi dengan keterpaksaan. Bedanya, aku melawan dengan kata-kata, sementara ia memilih diam.