BAB 5
Kami Berdua dan Tanah yang Tidak Pernah Bohong
Menganyam tikar sudah menjadi bagian dari hidupku jauh sebelum aku mengerti arti kemiskinan. Tanganku mengenal daun pandan sejak aku bisa duduk diam. Jadi ketika aku berhenti sekolah, tidak ada perubahan berarti dalam hal itu. Aku hanya melanjutkan tradisi, bukan mempelajarinya. Yang berubah adalah ladang. Saat usiaku menginjak umur yang setara dengan anak-anak SMA, aku mulai memahami ladang bukan sekadar tempat bekerja, tetapi tempat bergantung. Tanah itu tidak pernah berjanji apa-apa, tetapi selalu memberi sesuai usaha.
Setiap pagi aku berjalan ke ladang sebelum matahari benar-benar muncul. Embun masih menggantung di daun, tanah masih dingin. Aku membawa cangkul di pundak dan bekal nasi seadanya. Di kepalaku tidak ada lagi pelajaran sekolah, yang ada hanya hitungan musim dan perkiraan hujan. Adikku berjalan bersamaku sampai simpang jalan. Di sanalah kami berpisah tugas. Aku menuju ladang kami sendiri, sementara ia menuju sawah orang lain. Tubuhnya masih remaja, tetapi langkahnya tegas. Ia tidak pernah mengeluh, meski aku tahu lelahnya sering ia simpan sendiri. Ia bekerja sebagai buruh sawah. Kadang menanam, kadang mencabut rumput, kadang memanen milik orang lain. Upahnya kecil, tetapi ia menjaganya seperti sesuatu yang sangat berharga. Jika musim tuak ramai, ia menjual tuak, mengangkat jeriken, berjalan jauh, menghadapi orang-orang dewasa yang sering meremehkannya.
Setiap sore, ia pulang dengan tangan kotor dan mata lelah.
Uang yang didapatnya selalu ia serahkan padaku.
“Untuk pupuk,” katanya, tanpa menuntut apa pun.
Aku membeli pupuk sedikit demi sedikit. Tidak pernah berlebihan, tetapi tepat. Aku mengatur pemakaiannya sehemat mungkin. Tanah mulai berubah. Warna daun menjadi lebih segar. Batang tanaman berdiri lebih tegak. Aku berbicara pada tanah seolah ia mengerti. Dan tanah menjawab. Hasil ladang kami melampaui kebiasaan kampung. Panen pertama membuat orang mulai melirik. Panen kedua membuat mereka bertanya-tanya. Dalam satu tahun, kami bisa panen dua kali, sesuatu yang jarang terjadi di daerah kami.
Padi menguning lebih lebat. Jagung tumbuh penuh. Rumah kami yang berdinding koran dan hampir roboh dipenuhi hasil panen. Kami menyimpannya di sudut-sudut rumah, di atas para-para, di dekat tiang yang sudah miring. Orang-orang kampung datang bukan untuk mengejek, tetapi untuk mengingatkan. “Kalau disimpan semua di rumah itu, bisa roboh,” kata mereka. Aku hanya tersenyum kecut. Siapa sangka, rumah yang dulu ditertawakan karena miskin, kini ditakuti karena terlalu penuh.