Anyaman di Rambut Si Kribo

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #6

Lebaran Tanpa Baju Baru

BAGIAN II

TUMBUH DALAM SUNYI

BAB 6

Lebaran Tanpa Baju Baru

Lebaran selalu datang dengan perasaan yang aneh di rumah kami. Bukan rasa gembira, melainkan semacam ketegangan yang tidak pernah terucap. Sejak jauh hari, aku sudah bisa menebaknya hari raya tidak akan membawa banyak perubahan bagi hidup kami. Malam sebelum Lebaran, ibu sibuk membersihkan rumah. Dinding yang ditempeli koran itu dilap satu per satu, seolah ingin menghapus jejak kemiskinan yang terlalu nyata. Lantai disapu hingga bersih. Rumah kami memang hampir roboh, tetapi ibu selalu berusaha menjaganya tetap rapi. Baginya, kebersihan adalah satu-satunya kemewahan yang masih bisa ia pertahankan. Aku membantu di dapur. Tidak ada aroma masakan istimewa. Tidak ada kuali besar berisi santan dan gula merah seperti di rumah tetangga. Untuk membuat dodol, kami tidak punya dana bahkan sekadar memikirkannya terasa terlalu jauh dari kemampuan kami. Kue Lebaran kami hanya dua macam: kombang loyang dan kue lapan-lapan. Ibu membuatnya dengan bahan seadanya, tepung dan gula yang dihemat sejak lama. Kombang loyang itu tipis, dipanggang perlahan, dan baunya menyebar pelan di dapur kecil kami. Kue lapan-lapan disusun rapi di piring seng yang sudah kusam.

Itulah seluruh isi meja Lebaran kami.

Tidak ada toples berjejer. Tidak ada kue berlapis. Tidak ada dodol yang lengket dan manis. Aku melihat meja itu lama, mencoba menyimpan rasa cukup di dalam dada. Pagi Lebaran datang dengan suara takbir yang menggema dari kejauhan. Aku mengenakan baju terbaik yang kupunya baju lama, turunan dari sepupu, warnanya telah pudar oleh waktu. Rambut keritingku kuikat seadanya. Tidak ada sepatu baru, bahkan sepatu lamaku pun sudah tidak layak dipakai. Aku berdiri di depan cermin kecil yang retak. Wajahku tampak pucat, tetapi mataku mencoba tersenyum. Aku tidak menangis. Aku hanya diam.

Di luar rumah, anak-anak lain berlarian dengan baju baru. Warnanya cerah, kainnya masih kaku. Mereka tertawa, saling memamerkan pakaian dan sepatu. Aku berdiri sebentar di ambang pintu, lalu memilih masuk kembali. Tidak ada saudara yang datang berkunjung. Tidak ada ketukan di pintu. Rumah kami seperti tidak termasuk dalam daftar silaturahmi siapa pun. Ayah duduk diam di sudut rumah, menatap lantai. Ibu mondar-mandir, wajahnya tegang, mulutnya penuh keluhan kecil yang tidak pernah selesai. Kami menyajikan kombang loyang dan kue lapan-lapan itu jika ada tamu. Tapi tamu tidak datang. Kue-kue itu tetap utuh di piring, seolah ikut menunggu.

Adikku duduk di sampingku.

Lihat selengkapnya