Anyaman di Rambut Si Kribo

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #7

Adikku, Satu-satunya Teman Bicara

BAB 7

Adikku, Satu-satunya Teman Bicara

Di rumah kami, tidak ada tempat untuk bercerita dengan bebas. Kata-kata sering berakhir menjadi pertengkaran, dan diam lebih aman daripada suara. Ayah memilih membisu. Ibu terlalu cerewet untuk benar-benar mendengar. Kakak-kakakku sibuk dengan amarah mereka sendiri.

Hanya adikku yang tersisa untukku.

Ia lebih muda dariku beberapa tahun, tetapi rasanya kami tumbuh di waktu yang sama. Kami sama-sama terlalu cepat dewasa. Kami sama-sama belajar menelan kecewa tanpa banyak bertanya. Jika malam turun dan rumah kembali sunyi atau justru terlalu bising oleh pertengkaran kami duduk berdekatan. Kadang di sudut rumah, kadang di depan pintu. Lampu minyak menyala kecil, bayang-bayang kami menempel di dinding koran.

Di situlah aku berbicara.

Aku bercerita tentang sekolah yang kutinggalkan. Tentang tas goni dan sepatu rusak. Tentang bagaimana aku ingin tetap belajar meski tidak pandai. Adikku mendengarkan tanpa menyela. Matanya selalu serius, seolah setiap kata yang keluar dari mulutku adalah sesuatu yang penting.

“Aku lanjut sekolah ya, Kak,” katanya suatu malam.

“Iya,” jawabku cepat. “Kau harus lebih jauh dari aku.”

Lihat selengkapnya