BAB 8
Anyaman Tikar dan Harga Diri
Setelah sekolah terputus, hidup tidak berhenti menuntut. Hari-hariku tidak lagi diukur oleh jam pelajaran atau bunyi bel sekolah, melainkan oleh apa yang bisa kulakukan agar dapur tetap berasap dan rumah tetap berdiri. Aku belajar bahwa bertahan bukan soal pilihan, melainkan keharusan. Dan di antara ladang yang menguras tenaga serta malam-malam panjang tanpa banyak kata, ada satu pekerjaan yang diam-diam menjaga keseimbanganku pekerjaan yang bukan hanya memberiku makan, tetapi juga mengajariku mengenal harga diri.
Anyaman tikar bukan sesuatu yang kupelajari karena terpaksa. Ia sudah ada dalam hidupku sejak aku bisa duduk diam di lantai tanah. Ibu mengajariku tanpa banyak kata cukup dengan contoh. Tangan ibu bergerak cepat dan rapi, seolah tahu persis ke mana setiap helai daun pandan harus diselipkan. Di kampung kami, perempuan menganyam bukan untuk disebut terampil, tetapi untuk memastikan dapur tetap hidup.
Pagi hari setelah dari ladang, aku duduk di sudut rumah. Cahaya matahari menembus celah dinding koran, jatuh tepat di atas tikar yang sedang kubuat. Daun pandan yang telah dikeringkan berbau khas bau alam, bau kerja keras. Tanganku bergerak otomatis, sementara pikiranku mengembara. Setiap tikar membutuhkan waktu. Tidak bisa dikerjakan sambil tergesa. Aku belajar bersabar dari situ. Aku belajar bahwa hasil yang baik tidak pernah lahir dari niat setengah-setengah.