Anyaman di Rambut Si Kribo

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #9

Emas Kecil dari Tanah Ladang

BAB 9

Emas Kecil dari Tanah Ladang

Setelah bertahun-tahun hidup hanya untuk memastikan hari esok tetap ada, aku mulai memahami bahwa bertahan saja tidak selalu cukup. Ada saat-saat ketika hidup, diam-diam, memberi lebih dari sekadar cukup. Bukan sebagai hadiah, tetapi sebagai hasil dari kesabaran yang lama diuji. Dari tanah ladang itulah, pelan-pelan, aku belajar mengenal makna keberhasilan dengan caraku sendiri.

Aku tidak pernah membayangkan akan memiliki emas. Bukan karena aku tidak tahu bentuknya, tetapi karena sejak kecil, emas selalu terasa seperti milik orang lain. Ia dikenakan perempuan-perempuan yang datang ke pesta dengan senyum percaya diri, yang rumahnya tidak berdinding koran, yang dapurnya tidak pernah kekurangan beras. Bagiku, emas adalah cerita jauh. Namun tanah tidak pernah membohongi siapa pun. Tahun itu, ladang kami benar-benar memberi lebih. Panen datang tepat waktu. Cuaca berpihak. Pupuk yang kami beli dari hasil kerja adikku bekerja dengan baik. Padi menguning sempurna, bulirnya berat, batangnya kuat.

Aku dan adikku memanen dengan hati-hati. Kami mengikat hasil panen satu per satu, mengangkutnya ke rumah yang hampir roboh itu. Rumah kami penuh. Terlalu penuh. Orang-orang kampung kembali mengingatkan agar kami tidak menyimpan semuanya di sana. Aku tersenyum mendengar itu. Untuk pertama kalinya, kekhawatiran mereka bukan karena kami miskin, tetapi karena hasil kami berlimpah. Setelah semua dihitung setelah kebutuhan dapur, setelah benih untuk musim berikutnya, setelah pupuk masih ada sisa. Tidak banyak, tetapi cukup.

Aku menggenggam uang itu lama. Tanganku sedikit bergetar. Uang itu bukan hadiah. Ia bukan belas kasihan. Ia adalah hasil dari tanah, dari keringat, dari kerja sama aku dan adikku.

“Apa yang mau Kakak beli?” tanya adikku.

Aku diam sejenak.

“Emas,” jawabku pelan.

Kami pergi ke pasar pada pagi hari.

Aku mengenakan kain sarung terbaik yang kubeli dari hasil anyaman.

Rambut keritingku kusisir rapi.

Aku tidak ingin terlihat kaya aku hanya ingin pantas.

Lihat selengkapnya