BAB 10
Surat-Surat yang Tak Pernah Dijawab
Keberhasilan kecil dari ladang membuat hidup kami terasa lebih tenang, tetapi ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dalam keluarga kami, selalu ada yang harus pergi lebih dulu, membawa mimpi yang tidak muat tinggal di kampung. Dan kali ini, yang melangkah menjauh adalah adikku sendiri.
Kepergian adikku tidak pernah benar-benar kami rencanakan sebagai perpisahan. Setelah ia lulus SMP, kami duduk berdua di depan rumah, seperti biasa. Ladang sudah dipanen, tikar-tikar sudah tergulung rapi. Hidup kami tidak berlebihan, tetapi cukup. Namun adikku memandang jauh, melewati ladang, melewati bukit, seolah kampung ini terlalu sempit bagi langkahnya.
“Aku mau merantau, Kak,” katanya pelan.
“Ke Jakarta.”
Kata itu terdengar asing dan besar. Jakarta. Ibu kota. Kota yang hanya kukenal dari cerita orang pasar. Aku tidak menahannya. Aku tahu, mimpi tidak bisa selalu ditahan di tanah yang sama. Ia berangkat dengan bekal seadanya, menumpang keluarga jauh. Ibu menangis diam-diam. Ayah tidak berkata apa-apa. Aku memeluknya lama, terlalu lama.
“Jangan lupakan kami,” bisikku.