BAB 11
Pelecehan
Kepergian adikku membuatku belajar hidup dengan sunyi, tetapi sunyi tidak selalu berarti aman. Ada luka-luka yang datang bukan dari jarak, melainkan dari tubuh sendiri luka yang tidak pernah kupelajari cara menamainya. Dua tahun sejak adikku pergi tanpa kabar, hidupku berjalan seperti ladang yang dipaksa tetap ditanami meski tanahnya mulai retak. Aku kembali pada kebiasaan lama: bertani dan mengayam. Tanganku bekerja tanpa banyak bertanya, seolah hanya dengan begitu aku bisa menunda rasa rindu dan kecewa yang menumpuk di dada. Aku tidak lagi menunggu surat. Tidak lagi menghitung hari. Aku hanya hidup agar hari tidak terasa terlalu panjang.
Usiaku bertambah, perlahan tapi pasti. Tubuhku berubah tanpa pernah kuminta. Pandangan orang-orang di kampung juga ikut berubah. Aku tidak lagi dipanggil anak kecil. Aku mulai disebut boru na gadis-gadis yang pantas dipandang, pantas diperhitungkan, pantas dibicarakan.
Aku tidak pernah siap dengan itu.
Suatu hari, kami diundang ke sebuah pesta di kampung lain. Dalam adat Batak, acara itu disebut mangalap boru ( menjemput gadis untuk dijadikan istri, merajut ikatan antara dua keluarga dan dua kampung). Rombongan kami berangkat dengan pakaian terbaik yang kami punya, meski sederhana dan sebagian besar sudah sering dipakai ke pesta orang lain.
Gondang bergema.
Tawa bersahutan.
Orang-orang tua berbincang soal adat, sementara muda-mudi dibiarkan bercampur, katanya agar saling mengenal.
Aku ikut rombongan itu dengan perasaan yang sulit kujelaskan. Ada gugup, ada penasaran, tetapi lebih banyak waspada. Seumur hidupku jarang berbincang lama dengan pemuda. Hidup terlalu sibuk untuk urusan hati. Di tengah keramaian, seorang pemuda dari kampung itu mendekat. Ia berbicara dengan nada sopan, bertanya tentang ladang dan kampungku. Aku menjawab seperlunya. Aku diajarkan untuk ramah, bukan untuk berani. Ketika suasana semakin riuh, ia mengajakku menjauh sedikit dari keramaian. Katanya, agar bisa bicara lebih jelas. Aku ragu, tetapi adat dan suasana membuatku mengangguk. Aku pikir aku aman. Aku pikir aku masih berada di wilayah yang dilindungi adat dan banyak mata.
Aku salah.
Di tempat yang lebih sunyi itu, pembicaraan berubah arah. Tatapannya tidak lagi sama. Tangannya tiba-tiba menahan lenganku. Aku terkejut. Jantungku berdegup keras, seolah ingin meloncat keluar dari dadaku. Ketika ia memelukku dengan paksa, kakiku terasa lemas, dan pikiranku kosong.
Aku tidak pernah diajarkan bagaimana menolak dengan kata-kata.
Tubuhku kaku.
Nafasku pendek.
Aku hanya tahu satu hal aku takut.