BAGIAN III
CINTA DAN ADAT
BAB 12
Hak untuk Dipilih
Bagian hidup ini datang setelah luka-luka sebelumnya belum sepenuhnya sembuh. Aku belum selesai berdamai dengan tubuh dan masa lalu, tetapi adat dan keluarga sudah lebih dulu mengatur ke mana aku harus melangkah. Saat aku mulai beranjak dewasa, hidup perlahan berubah menjadi ruang penuh pertanyaan bukan tentang apa yang kuinginkan, tetapi tentang apa yang diinginkan orang lain atas namaku. Satu per satu, nama lelaki mulai disebutkan kepadaku. Mereka menyebutnya perjodohan, seolah itu sesuatu yang wajar, seolah hatiku tidak perlu diajak bicara.
Aku mendengarkan.
Aku diam.
Karena begitulah aku diajarkan: perempuan yang baik tidak banyak menolak.
Namun dari semua perjodohan itu, ada satu yang paling melukai hatiku.
Aku dijodohkan dengan seorang lelaki yang masih keluarga kami sendiri dalam adat Batak, ia adalah paribanku. Ia berasal dari keluarga berada, orang tuanya berkecukupan, terpandang. Tetapi ia memiliki kebutuhan khusus yang membuatnya tidak bisa menjalani hidup secara mandiri. Cara bicaranya tidak jelas, ia tidak bekerja, dan hari-harinya bergantung pada orang lain.
Aku tidak membenci dirinya.
Aku tidak merendahkan keadaannya.